Chapter 54 - Keputusan Yang Dipilih

1032 Kata
Ataukah Eisha harus mempertimbangkan lagi tawaran dari Pangeran Kenzie? "Terima kasih atas penjelasannya, Kak Ryan," sahut Eisha tanpa menunggu jawaban dari Kak Ryan. Gadis itu dengan langkah gontai dan tak bersemangat berjalan keluar dari ruang perpustakaan. Kak Ryan pun melihat kepergian Eisha sekilas, lalu kembali melakukan tugasnya sebagai petugas perpustakaan. *** Eisha kembali ke dalam kamar penginapan pelayan nomor sepuluh. Dia menutup pintu ganda, lalu mengambil posisi duduk di atas ranjang. Wajahnya tampak kusut dan juga bingung. Ayu pun menghampiri setelah melipat pakaian miliknya dan pakaian Eisha. "Ada apa Vaiva?" tanyanya. Eisha kemudian menatap Ayu dengan ekspresi yang sama. "Kau benar Ayu. Pangeran Kenzie sudah tahu akhirnya." Dia mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Itulah kenapa dia membiarkan aku pergi dengan mudah dari paviliun teratai emas. Dia bahkan dengan sengaja membubarkan para prajurit yang berjaga." Ayu sudah menebaknya akan terjadi hal yang buruk. "Lalu bagaimana rencanamu sekarang?" tanyanya. Dia tahu tentang buku yang ingin didapatkan oleh Vaiva. Hanya saja dia tak menyangka, bahwa Pangeran Kenzie akan menggunakan cara yang licik. "Entahlah, aku juga bingung harus bagaimana? Kalau aku menolaknya, aku mungkin akan selamanya tak akan mengingat kenanganku yang hilang." "Dan jika aku menerimanya, aku terpaksa harus bersama Pangeran Kenzie sepanjang waktu," sambungnya lagi. Eisha memakan camilan kue dengan tak bersemangat. Ayu tampak sedang berpikir sebelum menjawab. Dia memikirkan tentang hal tersebut. "Vaiva, kau terima saja penawaran dari Pangeran Kedua. Aku yakin Pangeran Kedua tak seburuk yang kau kira." Eisha pun mengangguk saja. "Baiklah, kita istirahat saja dulu. Kepalaku bisa meledak jika terus saja berpikir." "Selamat istirahat, Vaiva," sahut Ayu. Ayu naik ke atas ranjang dan beristirahat. Dalam beberapa menit dia sudah tertidur pulas. Eisha meletakkan piring camilan yang masih tersisa beberapa kue di atas meja kecil. Dia memposisikan diri menjadi telentang di atas ranjangnya. "Ah, kenapa jadi begini sih?" keluh Eisha, kakinya bergerak menendang-nendang selimut sampai jatuh ke lantai. "Semuanya mengapa jadi kacau?" "Harusnya 'kan setelah aku datang ke istana, aku bisa mengambil buku itu dengan mudah. Sudah hampir satu bulan aku belum mendapatkan buku itu." "Aku merasa usahaku sia-sia datang ke istana bekerja sebagai pelayan." Eisha tanpa disadarinya air matanya jatuh menetes dan akhirnya dia menangis untuk pertama kalinya bersembunyi di dalam selimut. *** Eisha telah memutuskan selama semalaman untuk mengambil keputusan. Dan tentunya setelah mempertimbangkan berbagai macam hal. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai mengetuk pintu ganda paviliun teratai emas. Tangannya baru saja ingin mengetuk pintu, dengan tiba-tiba pintu terbuka. Tangannya malah menyentuh d**a bidang milik Pangeran Kenzie yang berdiri di hadapan Eisha. Eisha memandang dari d**a bidang di hadapannya sampai ke atas, tepatnya ke wajah pria yang tanpa ekspresi. Bersandar di d**a bidangnya pasti akan sangat nyaman, batin Eisha mengkhayal. Astaga, kenapa aku malah kepikiran untuk bersender di d**a bidang Pangeran Kenzie? Sadar Eisha! batin Eisha memberikan batasan untuk dirinya sendiri. Dia segera menarik tangannya dan disembunyikannya di balik tubuhnya. Eisha segera memberikan hormat seperti biasa. Aduh, apa dia akan marah karena aku tak sengaja menyentuh dadanya? batin Eisha yang sedikit khawatir. Karena Pangeran Kenzie itu suka mematahkan tangan orang dari rumor yang beredar. Dan Eisha sendiri tak ingin merasakannya. "Kau kembali ke paviliun teratai emasku? Kau sudah berubah pikiran?" tanya Pangeran Kenzie dengan ekspresi datar yang selalu terlukis di wajahnya. Eisha dengan berat hati mengangguk pelan. "Iya, aku terpaksa menyetujuinya," ucap Eisha tiga kalimat terakhir diucapkannya di dalam hati. Aku terpaksa harus menjilat ludahku sendiri, tapi tak apalah demi hal yang lebih penting, batin Eisha berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri. Pangeran Kenzie berjalan masuk ke dalam ruang santainya, dengan Eisha mengekor berjalan di belakang. Pelayan yang kebetulan melintas memberikan hormat pada Pangeran Kenzie. Laki-laki tampan itu mengibaskan ujung pakaian yang dipakainya sebelum duduk di atas kursinya. Pangeran Kenzie kelihatan berwibawa dengan postur tubuh yang tegap dan gagah. Dia mengangkat tangannya dan dalam beberapa detik muncul sebuah buku coklat tua tebal yang berjudul teknik sihir di tangannya. Pangeran Kenzie menatap Eisha yang berdiri di hadapannya dalam diam. "Pangeran Kenzie, apa aku sudah boleh mengambil bukunya?" tanya Eisha yang sudah tidak sabar. "Kau tampaknya sudah tak sabar. Aku akan memberikannya padamu setelah kau menandatangani perjanjian yang sudah aku buat." Pangeran Kenzie meletakkan buku coklat ke atas meja. Dia memunculkan dua buah kertas di tangannya. "Bacalah isinya terlebih dahulu, sebelum menandatanganinya." Eisha mengambil dan membaca kertas yang disodorkan oleh Pangeran Kenzie. Perjanjian antara Pangeran Kenzie Zayyan Xinlaire dengan Eisha Vaiva Nafeda Selanjutnya akan disebut Pangeran Kenzie sebagai pihak pertama dan Eisha disebut sebagai pihak kedua. 1. Pihak Kedua akan menuruti apapun yang diperintahkan oleh Pihak Pertama tanpa mengeluh dan membantah. 2. Pihak Kedua akan menjadi pelayan pribadi Pihak Pertama selama sembilan puluh hari atau tiga bulan. 3. Pihak Pertama akan memberikan gaji dua kali lipat kepada Pihak Kedua sebagai imbalan. Selain itu Pihak Pertama akan memberikan buku teknik sihir kepada Pihak Kedua. 4. Pihak Kedua wajib tinggal di paviliun teratai emas sampai sembilan puluh hari ke depan tanpa penolakan sedikit pun. 5. Segala kebutuhan yang dibutuhkan oleh Pihak Kedua akan ditanggung oleh Pihak Pertama. 6. Jika pihak Kedua melanggar salah satu isi perjanjian yang ada maka Pihak Kedua wajib membayar denda dua puluh juta omy. Demikianlah, perjanjian ini dibuat oleh kedua belah pihak secara sadar. Baik Pihak Pertama maupun Pihak Kedua menyetujui apapun isi perjanjian yang ada di dalamnya. Tanda tangan Tanda tangan Pihak Pertama Pihak Kedua "Isi perjanjiannya benar-benar tidak adil! Kenapa aku harus mengikuti semua keinginanmu?" protes Eisha menatap Pangeran Kenzie yang minum secangkir teh hijau dengan tenang dan santai. "Tentu saja, kau harus patuh terhadap apapun perintahku," ujar Pangeran Kenzie setelah meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Dia balik menatap Eisha yang tak menerima isi perjanjian yang telah dibuatnya dengan susah payah. "Isi perjanjian ini tak bisa melindungi hak-hak yang harus aku miliki. Aku harus menuliskan hal yang lebih rinci di sini," sahut Eisha. "Baiklah, tuliskan saja apa yang ingin kau tambahkan," ujar Pangeran Kenzie sambil memberikan kuas ajaib. Kuas ajaib tersebut bisa menulis dengan cepat. Dan tentu saja benda tersebut, termasuk benda yang berharga dan langka. Eisha menuliskan tambahan pada isi perjanjian satu yaitu pihak kedua akan menuruti perintah Pihak Pertama selama tidak merugikan Pihak Kedua. "Hm, apa lagi yang harus aku tambahkan, ya? Oh, iya, aku harus tambahkan beberapa hal tambahan." Eisha meletakkan kuas di sela jari-jarinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN