Chapter 55 - Dimulai

1008 Kata
Eisha baru saja selesai menambahkan satu perjanjian yang menurutnya juga tak kalah penting. Pangeran Kenzie sedang membaca surat perjanjian tersebut yang sudah ditandatangani oleh Eisha. "Baiklah, di sini ditambahkan satu isi perjanjian yang baru yaitu Pihak Pertama memberikan izin libur pada Pihak Kedua setelah enam hari bekerja. Dan ada tambahan sedikit di perjanjian yang lainnya." "Baiklah, aku setuju." Pangeran Kenzie mengambil cap stempel dari dalam laci yang ada di lemari yang ada di sudut kanan ruangan. Dia mengecapnya di bagian tanda tangan pihak pertama. "Dengan adanya tanda tangan ini, maka isi perjanjian ini mulai berlaku hari ini sampai dengan sembilan puluh hari ke depan," ucap Pangeran Kenzie sambil melihat sekilas Eisha yang kini mengangguk saja. Mereka masing-masing memegang satu lembar perjanjian agar buktinya kuat. Tak lupa membubuhi sedikit energi spiritual di atas lembar kertas agar tahu jika kertas perjanjiannya asli. Eisha menyimpan kertas tersebut di dalam dengan melipatnya dan menyimpannya di dalam saku gaun yang dipakainya. Semoga saja ini adalah keputusan yang paling benar, yang aku ambil, batin Eisha berharap. "Tangkap dan ambillah bukunya," ucap Pangeran Kenzie sembari melemparkan buku bersampul coklat seperti melemparkan sebuah bola rotan saja. Untung saja dengan sigap Eihsa menangkap bola tersebut. Kalau bukunya sampai rusak ataupun sobek sangat tidak enak nanti ketika dibaca. Eisha mengucapkan terima kasih yang hanya dijawab anggukan Pangeran Kenzie saja. Pangeran Kenzie memberi kode pada Eisha untuk duduk di sampingnya, Eisha mengangguk saja karena sudah ada perjanjian. Sebenernya dia tak terlalu menyia-nyiakan waktunya saja. Pangeran Kenzie mengangkat tangannya dan menggenggam tangan kiri Eisha yang bebas. Eisha merasakan jantungnya berdetar kencang selama dekat dengan Pangeran Kenzie. Untuk mencoba menghilangkan rasa tersebut Eisha memutuskan untuk membuka buku bersampul coklat dan berusaha untuk membacanya walaupun dalam keadaan susah karena tangan kirinya masih digenggam sang pangeran, dia juga tak bisa bergerak dengan bebas. Pangeran Kenzie dengan tenang menikmati aroma daun teh bunga dari segelas teh kan yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan. Rasanya memang nikmat, batin Pangeran Kenzie. Woah, akhirnya aku mendapatkan buku ini juga. Aku sangat senang, walaupun aku harus berkorban, aku tak akan memberi tahu nenek jasmine dan Layla, supaya tak membuat mereka merasa khawatir, batin Eisha. Eisha membuka lembaran demi lembaran yang ada di dalam buku teknik sihir. Di dalamnya ternyata tak hanya ada satu teknik saja melainkan ada beberapa teknik beserta penjelasannya. Seperti teknik tapak naga dan beiming. Dan ada banyak teknik yang lain. Bahkan sampai membuat Eisha terkagum. Wajar saja kalau buku ini hanya ada dua di Kerajaan Harvy. Karena isi bukunya sangatlah berharga, batin Eisha mengangguk mengerti. Untuk sekarang aku baca dulu yang paling penting, pikir gadis berusia delapan belas tahun di dunia manusia itu. Tangannya segera membalik ke halaman yang ada di bagian tengah buku. Kalau di luar mungkin harganya sangatlah mahal, batin Eisha. "Di sini ternyata ada syarat tingkat kekuatan yang harus dimiliki?" ujar Eisha dengan ekspresi tak percaya. Dia pikir teknik itu bisa dipelajari secara langsung, ternyata tidak. Mempelajari teknik mengembalikan ingatan yang hilang membutuhkan paling tidak tingkat kekuatan sihir nomor tujuh. Bagaimana caranya agar tingkat sihirku naik ke tingkat tujuh? Aku saja belum tahu tingkat kekuatan sihirku nomor berapa? pikir Eisha yang kebingungan. Buku tersebut menutup dengan sendirinya saat tangan Eisha melepasnya sangking tebal bukunya. Okey, yang penting aku sudah mendapatkan bukinya terlebih dahulu. Aku akan mencari cara agar kekuatanku bisa naik sampai persyaratan yang dibutuhkan, batin Eisha. Eisha merasakan matanya mengantuk, semalam dia tak bisa tidur dengan nyenyak. Dan efeknya terasa sekarang. Dia melihat ke arah Pangeran Kenzie yang sedang sibuk membaca sebuah buku bersampul merah tua dengan khusyuk. Astaga, dia masih bersemangat baca buku setelah berjam membacanya, batin Eisha yang salut. Aku malas mau negur dia, nanti aku disalahin lagi, batinnya. Eisha memutuskan untuk tidur di atas meja dengan tangannya yang tak digenggaman sebagai bantalan untuk tidur. Lambat laun tapi pasti kedua mata Eisha perlahan-lahan menutup dengan sendirinya. Alam sadar menariknya ke alam mimpi yang indah. Bahkan Pangeran Kenzie menghentikan aktivitas membacanya, dia meletakkan buku yang baru saja dibacanya ke atas meja. Karena tak mendengar suara dari Eisha yang biasanya bicara. "Pangeran Kedua, dia tertidur," ucap pengawal pribadi sambil melihat Eisha yang masih tertidur. Laki-laki itu berdiri di dekat Pangeran Kenzie, tepatnya di bagian belakang. Dia bertugas untuk melindungi sang pangeran dari orang-orang yang jahat dan ingin menyakitinya. Membahas tentang hal ini, Pangeran Kenzie sudah beberapa kali bertemu orang yang ingin membunuhnya karena status yang dimilikinya. Pangeran Kenzie mengangguk mengerti. "Biarkan saja dia tertidur, kau pergilah keluar," perintahnya pada pengawalnya itu. Menuruti perintah pengawal pribadinya pergi meninggalkan ruangan santai bersama Eisha yang masih di alam bawah sadarnya. Laki-laki berwajah tampan itu kembali menatap wajah gadis yang sedang tertidur dengan nyaman. Tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Eisha. Tangan Eisha bergerak untuk menjauhkan sesuatu yang menyentuh pipinya. Pangeran Kenzie melepaskan genggaman tangannya, dan bangkit dari posisi duduknya yang nyaman. Dia menggendong Eisha ke dalam kamar yang sebelumnya. Kamar yang khusus diberikan Pangeran Kenzie termasuk kamar yang luas untuk ukuran seorang pelayan. Hanya saja di dalamnya masih banyak ruangan yang kosong, hanya diisi beberapa barang perabotan yang penting saja. Eisha diletakkan Pangeran Kenzie di atas ranjangnya dengan hati-hati. Bukan karena perhatian atau apa, Kenzie merasa dia harus memperlakukan dengan baik saja obatnya itu, jangan sampai membuat obatnya menjadi rusak. *** Eisha menggeliat dan bergerak dengan sesuka hatinya di atas ranjang empuk. Indra penciumannya mencium aroma masakan yang nikmat dan enak. Dia segera membuka kelopak matanya dan benar saja seorang pelayan sedang membawa sebuah nampan kayu yang di atasnya ada beberapa mangkuk makanan. Dia segera merubah posisi telentang menjadi posisi duduk saat dilihatnya ada seorang pelayan yang melihatnya dengan senyuman yang manis. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Eisha yang heran ada orang lain di sana selain dirinya. "Saya diperintahkan oleh Pangeran Kedua untuk melayani Nona. Jadi, jika Nona membutuhkan sesuatu katakan saja padaku, janganlah merasa sungkan," jelas wanita tersebut. "Itu tak perlu kalian lakukan. Aku bisa melakukannya sendiri," tolak Eisha. Untungnya kali ini pelayan tersebut menurut saja saat Eisha agar memintanya untuk keluar dari ruangan kamarnya. "Aku selama sembilan puluh hari ke depan harus menjadi pelayan Pangeran Kenzie," ucap Eisha bermonolog sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN