Chapter 43

1051 Kata
Permaisuri Celia menghilangkan Kekuatan sihir yang berpendar di atas telapak tangannya dalam tiga detik. Wanita itu bangkit dari posisi duduk di pinggir mempersilakan Eisha untuk duduk di sana. "Ingat tak boleh memegang wajah Pangeran Kenzie, kau hanya boleh memegang tangannya saja," peringat Permaisuri Celia yang dijawab anggukan singkat Eisha. Eisha membuka sedikit selimut yang menyelimuti tubuh sang pangeran tampan sampai sebatas d**a. Dia mengambil salah satu tangan pangeran yang paling mudah, rasa dingin langsung menjalar di kulitnya saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Pangeran Kenzie. Sesuai dengan permintaan dari Permaisuri Celia, Eisha menggenggam tangan Pangeran Kedua, menyalurkan rasa hangat. Pangeran, aku tak tahu apa maksud dan tujuan Yang Mulia Permaisuri menyentuh tanganmu, aku hanya melakukan apa yang dia inginkan saja. Jangan marah padaku, batin Eisha di dalam hati. Setelah cukup lama Eisha menggengam tangan sang pangeran. Gadis itu pun melepasnya, dan bangkit dari posisi duduknya menjadi berdiri. Benar saja, beberapa detik kemudian kelopak mata Pangeran Kenzie terbuka menampilkan iris mata perak yang indah dan elegan. "Anakku kau sudah bangun?" ujar Permaisuri Celia menghampiri, dan duduk di pinggir ranjang emas dimana Pangeran Kenzie sudah dalam posisi duduk. Apa? Maksudnya bagaimana sih? Kenapa aku malah bingung? batin Eisha bertanya-tanya saat melihat adegan yang membuatnya tak paham. Tatapan mata Pangeran Kenzie kini tertuju pada gadis cantik bermata hijau yang tengah menatapnya dengan ekspresi bingung. Untuk beberapa saat tatapan keduanya saling terpaku satu sama lain. Iris matanya berwarna, sangat indah, sangat cocok dengan garis wajah tampannya, batin Eisha yang tanpa sadar tersenyum sendiri menampilkan kedua lesung pipitnya. Sementara itu Pangeran Kenzie tak memiliki ekspresi apapun, wajahnya datar seperti batu es. Permaisuri Celia melihat ke arah yang dilihat oleh putra yang paling dicintainya yang rupanya menatap pelayan rendahan. Ekspresi wajah wanita itu garang dan tak bersahabat saat melihat Eisha. Eisha pun tak lagi tersenyum. "Liya, bawa dia pergi dari ruangan ini!" perintah Yang Mulia Permaisuri Celia yang dijawab anggukan patuh dayang Liya. *** Sepanjang perjalanan dayang Liya mengantar Eisha kembali ke Paviliun Bunga Anggrek, Liya tak bicara apapun. Jarak antara Paviliun Teratai Emas dengan Paviliun Bunga Anggrek sangatlah jauh. Tempat tinggal para istri Kaisar Carney dan tempat tinggal keturunan Kaisar, Pangeran dan Putri berbeda. "Kak Liya!" panggil Eisha. Seperti biasa gadis itu selalu ingin tahu apapun, mengenai hal yang dia tidak mengerti dan hal baru. Dayang Liya menoleh sekilas melihat Eisha berjalan tepat di sampingnya. "Ada apa?" tanyanya. "Kak Liya, aku mau tanya sesuatu boleh?" tanya Eisha terlebih dahulu. Pelayan Paviliun Phoenix mengangguk. "Silakan saja ingin tanya tentang apa?" "Kak Liya, Pangeran yang tadi itu kenapa ya? Kenapa saat aku genggam tangannya dingin banget seperti balok es?" tanya Eisha ingin tahu. Dia sangat penasaran, soalnya yang dia ketahui tak ada tangan orang yang sedingin itu. "Pangeran Kedua memiliki sebuah penyakit itulah tangannya sangat dingin," jelas Liya. "Memangnya Pangeran sakit apa? Kenapa tak dibawa ke dokter?" Eisha bertanya lagi. "Aku juga tak mengerti Pangeran Kedua sakit apa, tapi yang jelas penyakitnya itu termasuk langka. Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri sudah membawa semua tabib ke istana." Dayang Liya melihat ke depan dan tanpa dirasa sudah sampai di depan Paviliun Bunga Anggrek. "Sudah sampai, aku pergi!" pamit pelayan Liya meninggalkan Eisha yang kini ditemani oleh gadis pelayan yang lain, sedangkan pelayan lain tak begitu peduli dengan Eisha. "Hati-hati, Kak jalannya!" pesan Eisha. "Vaiva, dia pelayan yang membawamu beberapa jam yang lalu 'kan?" tanya Ayu langsung yang dijawab anggukan singkat Eisha. "Dia berasal dari Paviliun mana?" "Dia pelayan pribadi Yang Mulia Permaisuri Celia, Paviliun Phoenix," jawab Eisha. "Paviliun Phoenix? Kenapa Vaiva bisa berurusan dengan Yang Mulia Permaisuri?" tanya Ayu Diana, yang tak paham. Eisha tertawa pelan, lalu menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal sama sekali. "Tidak ada apapun, Yang Mulia Permaisuri hanya bertanya sesuatu padaku." "Tapi Vaiva, kau tak terluka sedikitpun 'kan?" tanya Ayu memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia bernapas dengan lega saat tubuh Eisha tak ada luka lecet sedikitpun. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja," sahut Eisha menepuk pelan pundak Ayu Diana. "Ayu, aku masuk ke dalam dulu," pamit Eisha. "Iya, Vaiva. Masuklah ke dalam Selir Linda pasti sudah lama menunggu," jawab Ayu sambil mempersilakan. *** "Selir Linda," panggil Eisha begitu berjalan masuk ke dalam ruangan paviliun bunga anggrek. Sang pemilik nama menoleh ke sumber suara. Eisha berjalan menghampiri dan memberikan hormat pada Selir Linda seperti biasa. Selir Linda sedang duduk di kursi yang kosong. "Berdirilah!" Selir Linda memberi kode agar Eisha berdiri kembali. Vaiva tak lupa mengucapkan kata terima kasih. "Vaiva, kau tak apa-apa 'kan?" tanya Selir Linda secara langsung sembari menatap wajah Eisha, kemudian memeriksa dari atas sampai bawah. "Aku baik-baik saja, Selir Linda," sahut Eisha dengan senyuman di wajahnya. Dua lesung selalu menambah kecantikan gadis itu. Entah mengapa ketika melihat senyuman itu membuat Selir Linda teringat dengan senyuman salah satu saudaranya. Apa dia sedang merindukan saudaranya? Memang dia sudah lama tak bertemu dengan saudaranya. "Ah, syukurlah," ucap Selir Linda sembari bernapas dengan lega. Beberapa jam Vaiva belum kembali, dia sangatlah panik dan khawatir. Selir Linda meminta Eisha untuk duduk di dekatnya. "Apa yang terjadi di sana?" tanyanya yang penasaran. Selama ini tak pernah ada pelayan dari Paviliun Bunga Anggrek yang dipanggil oleh Yang Mulia Permaisuri Celia ke ruangan paviliun Phoenix. "Permaisuri Celia hanya bertanya beberapa hal padaku, namun itu hanya hal biasa," sahut Eisha menjelaskan. Dia hanya berkata garis umum saja. Selir Linda pun bertanya lagi. "Benar tak ada kata-kata yang mengancammu 'kan?" Eisha segera menggeleng. Dia tak ingin membuat Selir Linda dengan Yang Mulia Permaisuri bertengkar, apalagi status wanita galak itu sangatlah tinggi. Sangat tidak baik jika mencari masalah dengannya. "Tak ada, Yang Mulia Permaisuri adalah orang yang baik," ujarnya sengaja memuji Permaisuri Celia. Dalam hati Eisha ingin tertawa ngakak, semua itu berbanding terbalik dengan apa yang diucapkannya. Sangking baiknya, suka maksa orang, dan mengancam ingin meremukkan tubuhku, untung saja nyawaku bisa diselamatkan, batin Eisha di dalam hati. "Baiklah, kalau begitu. Kalau ada sesuatu bilang saja padaku," sahut Selir Linda beberapa saat kemudian. Eisha mengangguk mengiakan. "Jika ada masalah pasti Vaiva akan membicarakannya dengan Selir Linda," ujarnya dengan wajah yang meyakinkan. "Oh, iya, Selir Linda, aku belum pernah melihat Selir Linda mengeluarkan kekuatan sihir." Eisha sengaja mengalihkan ke topik yang baru, tak ingin Selir Linda membahas lagi soal apa yang terjadi di Paviliun Phoenix. "Iya, aku memang jarang mengeluarkan kekuatan sihir. Vaiva ingin melihatnya?" tawar Selir Linda yang dijawab anggukan semangat Eisha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN