"Kau tampaknya senang sekali berlutut, ya?" ujar Permaisuri Celia menilai gadis yang ada di hadapannya itu. Wanita cantik berkulit putih itu memberi kode agar Eisha berdiri kembali.
"Semalam apa yang kau lakukan pada putraku?" Pertanyaan itu membuat jantung Eisha rasanya mau lepas dari tempatnya. Gadis itu juga baru sadar jika semalam pria muda yang terbaring di ranjang mewah seharga ratusan juta itu adalah seorang pangeran kerajaan. Mampus!
"Hamba... hamba tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Pangeran," jawab Eisha sedikit gugup. Apakah Yang Mulia Permaisuri tahu jika dia semalam menyentuh wajah Pangeran karena merasa penasaran?
"Katakan jangan bohong! Atau aku akan membuat tubuhmu remuk dan hancur berkeping-keping!" ancam Yang Mulia Permaisuri Celia dengan tatapan seolah ingin menguliti tubuh Eisha. Nada bentakan wanita itu membuat jantung gadis kecil berdebar.
"Hamba hanya menyentuh sedikit wajah Pangeran karena merasa penasaran," jelas Eisha pada akhirnya. Dia hanya berharap agar Permaisuri Celia tak membuatnya kehilangan nyawa.
Seusai perkataan itu, ruangan menjadi hening dan tenang. Permaisuri Celia tampak sedang berpikir. Tentu dia marah karena pelayan rendahan begitu berani menyentuh wajah tampan putra kesayangannya yang statusnya sangat mulia.
Aku harus menyesampingkan hal tersebut, gadis pelayan ini mengatakan menyentuh wajah Pangeran Kenzie. Apa ini yang tabib kerajaan Damar maksud? Karena sentuhan itu membuat Pangeran Kenzie terbangun dari tidur panjangnya? batin Permaisuri Celia masih menebak.
Benar atau tidaknya hal tersebut, lebih baik aku mencobanya terlebih dahulu, pikir Permaisuri Kerajaan Harvy menatap gadis pelayan yang masih berdiri di hadapannya dengan kepala yang menunduk.
Yang Mulia Permaisuri Celia bangkit dari posisi duduknya, dia berjalan hendak menuju ke luar ruangan. "Ikuti aku!" perintahnya dengan nada tegas.
Pelayan pribadi bernama Liya dan Eisha mengekor di belakang Permaisuri Celia yang berjalan lebih dulu. Mereka hanya bertiga, pelayan yang lain tak ikut. Eisha mengedarkan pemandangan ke sekitar paviliun phoenix yang rupanya banyak sekali bunga yang indah dan jenisnya pun bervariasi seakan semua jenis bunga yang ada di dunia ada di sana. Harum aroma bunga tak cukup membuat pikiran Eisha menjadi lebih tenang.
Apa Yang Mulia Permaisuri akan menghukumku lagi? Semoga saja tidak! Eisha berharap di dalam hati.
Ketika berpapasan dengan rombongan istri kaisar yang lain di lorong istana. Rombongan yang lain memberikan hormat pada Yang Mulia Permaisuri Celia. Tidak hanya itu, Yang Mulia Permaisuri sering memberikan tatapan yang meremehkan terhadap wanita lain yang statusnya lebih rendah darinya.
Yang memiliki status lebih tinggi rupanya tak perlu memberi hormat pada orang lain, batin Eisha menyimpulkan.
Dasar wanita yang sombong dan angkuh! Mentang-mentang statusnya sebagai Permaisuri Kerajaan Harvy bisa seenaknya saja bersikap seperti itu! Sangat berbeda dengan sikap Selir Linda yang lembut, ramah, dan baik hati, seharusnya yang cocok jadi Permaisuri itu adalah Selir Linda, bukan wanita ini, batin Eisha yang dengan bebasnya mengkritik dan menghujat Permaisuri Celia. Jika saja pikirannya itu didengar oleh Permaisuri Celia, maka wanita itu pasti akan sangatlah marah dan tak akan memberinya ampun.
Astaga, Eisha, harusnya kau mikirin diri kau sendiri, kenapa malah memikirkan hal yang tak penting? Entah, kau bisa selamat dari Permaisuri Celia atau tidak, itu yang harus kau pikirkan! Kenapa malah mengkritiknya? batin Eisha, tangannya menepuk pelan kepalanya sendiri membuat Liya yang berjalan di dekatnya mengerutkan kening.
Gadis kecil ini kenapa menepuk kepala sendiri? Apa takut dihukum oleh Yang Mulia Permaisuri, ya? batin Liya sambil menoleh melihat Eisha. Dia menahan tawanya sendiri, karena merasa lucu saja dengan tingkah Eisha.
Langkah kaki Permaisuri Celia berhenti tepat di depan sebuah ruangan yang bernama Paviliun Teratai Emas. Eisha bisa melihat dengan jelas pintu ganda yang sama ketika malam hari dia datang, hanya saja ketika siang hari semuanya menjadi lebih jelas. Dua orang prajurit berjaga di depan gerbang, pakaian khas prajurit membalut tubuh mereka dan senjata pedang tersarung tersampir di pinggangnya.
Ini 'kan ruangan terlarang yang dikatakan Permaisuri Celia? Kenapa dia membawaku kembali ke sini? Bukannya dia bilang tidak boleh? batin Eisha bertanya-tanya. Dia sungguh tak mengerti bagaimana pola pikir sang penguasa. Dan apa yang ingin dilakukannya?
Dua orang prajurit membungkuk memberikan hormat pada Yang Mulia Permaisuri Celia, setelah itu kembali berdiri tegap. Dayang Liya membuka pintu ganda, Permaisuri Celia segera berjalan masuk ke dalam dengan diikuti Eisha dan Liya di belakang.
Permaisuri Celia duduk di pinggir ranjang emas. Pangeran Kenzie masih tertidur dengan nyaman di atas ranjang emas berselimutkan kain lembut dan hangat. Eisha mengamati apa yang dilakukan Permaisuri Celia tanpa bicara apapun.
Pangeran tampan itu tertidur pulas banget. Ngga bosan apa tidur terus dari malam tadi? Apa tak mau jalan-jalan gitu di pasar? Atau mencicipi berbagai varian kue dan juga sup biji teratai, pikir Eisha yang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Memikirkan makanan enak tanpa sadar membuatnya ingin makan.
Sabar dulu ya perut! Do'akan saja kita bisa selamat, kalau kita sudah terbebas dari ruangan ini, aku akan mencicipi berbagai makanan yang enak seperti biasa, celoteh Eisha di dalam hati.
"Kemari!" Permaisuri Celia memberi kode agar Eisha berjalan menghampirinya. Dengan patuh Eisha mengangguk dan berjalan mendekati sang penguasa wanita. Ada jeda sebentar.
"Lakukan apa yang kau lakukan semalam!" perintahnya secara tiba-tiba membuat Eisha tanpa sadar membuka sedikit mulutnya dan mengernyitkan dahi tak mengerti. Gadis kecil itu sangatlah terkejut dengan permintaan aneh tersebut.
"Yang Mulia Permaisuri, hamba benar-benar tak sengaja melakukannya semalam, tolong maafkan hamba!" mohon Eisha mengira Permaisuri Celia marah padanya sehingga memintanya melakukan hal itu lagi.
"Cepat lakukan tak usah banyak bicara!" perintah wanita itu dengan ekspresi serius dan nada suaranya yang tak bisa dibantah.
"Tapi...?" Eisha masih takut.
Dayang Liya akhirnya ikut bicara. "Lakukan saja gadis kecil apa yang diperintahkan oleh Yang Mulia Permaisuri," ujarnya.
Eisha masih tak bergerak dari posisi awalnya berdiri, dia terlalu takut, jika dia melakukannya lagi takutnya dia dihukum seperti semalam.
"Lakukan saja, aku yang memerintahkanmu!" Untuk yang kedua kalinya Permaisuri Celia memberikan perintah, namun Eisha masih merasa takut.
"Masih tak kau lakukan? Jangan salahkan aku akan membuat tubuhmu menjadi remuk!" Permaisuri Celia sudah kehabisan batas kesabarannya, menyuruh hal kecil saja susah sekali untuk dilakukan. Wanita itu mengangkat tangan kanannya ke udara dan kekuatan sihir berwarna putih kebiruan muncul di sana, sedikit lagi hampir mengenai tubuh Eisha.
Eisha mengangguk tergesa-gesa. "Baiklah, akan hamba lakukan, tapi Yang Mulia Permaisuri jangan menghukumku sebab aku melakukannya karena Yang Mulia perintahkan."