Dua jam sebelumnya, Permaisuri Celia terbangun dari tidurnya yang nyaman. Dia seperti biasa membersihan diri, berpakaian, dan berdandan dengan dibantu para pelayan. Wanita yang masih kelihatan cantik dan awet muda, walaupun umurnya sudah tidak muda lagi.
Permaisuri Celia berjalan masuk ke dalam kamar putranya yang tampak sepi dan hening. Terlihat Pangeran Kenzie masih tertidur di atas ranjang dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya. Permaisuri Celia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, kemudian duduk menghampiri Pangeran Kedua. Dayang Liya dengan setia mengekor di belakang majikan, sementara pelayan yang lain memang dipinta agar tak mengikutinya.
"Nak, bangunlah! Matahari sudah terbit, ayo bersihkan tubuhmu," ujar Permaisuri Celia sambil menggoyangkan tubuh Pangeran Kenzie. Dia merasa aneh kenapa tubuh putra kesayangannya bisa berubah menjadi dingin kembali? Padahal semalam sudah hangat dan normal. Tidak hanya itu saja, wajahnya juga pucat seperti sebelum Pangeran Kenzie terbangun.
"Kenzie, kau kenapa, Nak? Apakah kau sakit?" Permaisuri Celia terus berusaha untuk membangunkan Pangeran Kenzie, tapi laki-laki berusia dua ratus tahun itu tak kunjung membuka mata dan hal tersebut membuat Permaisuri Celia merasa khawatir.
"Cepat panggil tabib kerajaan sekarang!" Permaisuri Celia berbalik dan beralih menatap Dayang Liya yang mengangguk patuh. Pelayan bernama Liya memberikan hormat sebelum pergi untuk melaksanakan perintah dari sang majikan memanggil tabib kerajaan.
Tak menunggu waktu yang lama, tabib kerajaan datang. Rambut, kumis, dan janggutnya putih semua. Dia sudah sangat tua, tapi tubuhnya dari luar tampak masih kuat dan sehat. Tabib Kerajaan memberikan hormat pada Permaisuri Celia terlebih dahulu, setelah dipersilakan berdiri, baru kembali berdiri.
Tabib Kerajaan duduk di pinggir ranjang emas, mengambil salah satu tangan Pangeran Kenzie, dia memeriksa denyut nadi dan keadaan sang Pangeran kedua untuk beberapa saat. Setelah selesai, Tabib meletakkan kembali tangan Pangeran Kenzie ke dalam selimut seperti semula.
"Tabib kerajaan, kau adalah tabib yang paling senior di seluruh kerajaan ini. Apa yang terjadi dengan putraku kenapa dia kembali tertidur seperti sebelumnya? tanya Permaisuri Celia bertubi-tubi. Ekspresinya sangat khawatir dan juga cemas.
"Yang Mulia Permaisuri, memang kemaren malam keadaan Pangeran Kedua sudah sembuh dari penyakit bawaannya. Dan pagi ini Pangeran Kedua tertidur kembali karena penyakit bawaannya kambuh kembali," jelas tabib kerajaan dengan hati-hati.
"Pangeran Kedua bisa sempat bangun semalam, itu sudah merupakan keajaiban," sambung tabib Kerajaan meneruskan kalimatnya.
"Apa, tabib penyakit putraku muncul kembali? Semalam dia baik-baik saja, dan sekarang tertidur kembali," ujar wanita paling nomor satu di Kerajaan Harvy. Antingan yang dipakainya bergoyang.
"Tabib, kau pasti punya cara 'kan agar Pangeran Kenzie bisa kembali sadar?" Desak Permaisuri Celia dengan tidak sabaran.
Tabib Kerajaan tidak langsung menjawab, dia tampak sedang berpikir. "Yang Mulia Permaisuri, izin bertanya terlebih dahulu."
"Katakanlah tabib kerajaan!" jawab Yang Mulia Permaisuri Celia mempersilakan.
"Semalam apakah ada sesuatu yang berbeda terjadi?" tanya Tabib Kerajaan dengan wajah yang serius.
Permaisuri Celia pun menggeleng. "Tak ada yang berbeda, Tabib Kerajaan," sahutnya.
"Aneh, jika tak ada yang berbeda apa yang memancing Pangeran Kedua bisa terbangun dari tidur panjangnya?" Tabib Kerajaan memasang wajah berpikir.
Permaisuri Celia sempat berpikir sesuatu, apakah mungkin ada kaitannya? pikirnya.
"Tabib Kerajaan aku tak tahu apakah ini yang dimaksud Anda ada yang berbeda," ujar Celia sedikit ragu ingin mengungkapkan atau tidak.
"Semalam aku tak sengaja melihat seorang pelayan wanita masuk ke dalam ruangan kamar Pangeran Kenzie. Dan tak ada yang spesial dari gadis itu, dia sama seperti pelayan yang lainnya," jelas Permaisuri Celia.
Tabib Kerajaan bernama Damar mendengarkan dengan baik penjelasan dari wanita berstatus tinggi yang berdiri di hadapannya. "Lalu apakah setelah gadis itu muncul, Pangeran Kedua bangun dari tidur panjangnya?" tanya pria berusia ratusan tahun tersebut.
Istri Pertama Kaisar Carney mengangguk. "Iya, Tabib Kerajaan." Ada jeda sebentar.
"Jika aku tak salah menebak gadis itu yang telah membuat Pangeran Kedua bangun dari tidurnya," sahut Tabib Damar. Dia telah selama bertahun-tahun di Kerajaan Harvy.
"Gadis pelayan itu? Bagaimana mungkin?" jawab Permaisuri Celia yang seakan tak percaya dengan perkataan tabib Damar. Dia merasa itu sangatlah konyol.
"Kalau begitu Yang Mulia Permaisuri, hamba permisi," pamit tabib kerajaan Damar sambil memberikan hormat, setelah itu berjalan mundur. Dayang Liya seperti biasa mengantarkan tabib kerajaan ke luar ruangan sesuai keinginan Permaisuri Celia.
"Aku tak percaya pelayan itu yang bisa membuat Pangeran Kenzie terbangun," ujar Permaisuri Celia menggeleng.
Wanita itu terus mencoba agar putra kesayangannya terbangun kembali. Namun setelah berusaha keras, tetap saja sang Pangeran tak kunjung bangun juga.
"Yang Mulia Permaisuri, maafkan hamba yang telah lancang untuk berbicara." Dayang Liya pun berjalan menghampiri sang majikan yang sedang bingung dan kesusahan. Permaisuri Celia menatap pelayan yang telah setia menemaninya selama bertahun-tahun. "Katakan saja!" ujarnya mempersilakan.
"Tapi menurut hamba tidak ada salahnya membiarkan pelayan kecil itu untuk menjenguk Pangeran kedua lagi. Mungkin saja kata tabib kerajaan Damar benar," ujar pelayan Liya.
Permaisuri Celia tak langsung menjawab, dia sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh pelayan pribadinya, Liya. Benar juga, tak ada salahnya aku mencobanya, mungkin saja memang benar putra kandungku akan bangun dari tidurnya kembali. "Baiklah, kau panggilkan pelayan yang bernama Vaiva dari paviliun bunga anggrek," perintahnya. Pelayan Liya mengangguk patuh. Untung saja dia mengingat siapa nama pelayan itu.
***
Eisha tidak berkata apapun saat mengekor pelayan Paviliun Phoenix. Ada sedikit rasa khawatir dan juga takut di dalam hatinya, takut Permaisuri Celia mengikat dan mengangkatnya ke udara, kemudian menjatuhkannya dengan kasar lagi membuatnya bergidik ngeri.
Pelayan wanita berhenti tepat di depan sebuah paviliun yang di bagian pintu atas ada nama Paviliun Phoenix. Terlihat dari luar bangunan gagah dan mewah di hadapannya lebih besar dan luas dari Paviliun Bunga Anggrek. Memang benar, kedudukan di istana yang menentukan seberapa besar penghormatan yang akan diterima dan seberapa besar kediaman yang dimiliki.
"Nona, kau masuk saja ke dalam Yang Mulia Permaisuri sudah menunggumu!" ujar Dayang Liya.
Eisha mengangguk. "Baiklah," ujarnya, kakinya melangkah memasuki ruangan yang ada di hadapannya dengan mengekor pada Dayang Liya.
Terlihat seorang wanita sedang berada duduk di kursi yang ada di dalam ruangan. Wanita tampak agung dan berwibawa seolah melambangkan kedudukan dan statusnya yang tinggi di Kerajaan Harvy. Pakaian bersulam bermotif phoenix merah membalut tubuhnya. Dan jangan lupakan perhiasan yang indah menghiasi rambut hitam panjangnya, leher, telinga, dan tangannya.
Eisha segera memberikan hormat sesuai dengan apa yang dipelajari dari pelayan senior. Semalam dia merasa sudah sangat membuat Yang Mulia Permaisuri marah.
"Berdirilah!" jawab Permaisuri Celia memberikan kode. Eisha menegakkan punggungnya dan menanti kalimat apa yang akan wanita galak di hadapan ini katakan. Jauh di dalam hati, Eisha ingin sekali punya kekuatan menghilang agar tak bertemu dengan Permaisuri Celia lagi.
"Sepertinya kita sudah bertemu dua kali bukan? Semalam di ruangan terlarang dan hari ini di ruangan paviliun phoenixku." Permaisuri Celia membuka obrolannya.
Eisha segera jatuh berlutut. "Maafkan hamba, Yang Mulia Permaisuri, semalam hamba tak bisa mengenali Anda dan telah bersalah memasuki ruangan terlarang."