Siang itu langit terlihat begitu mendung, dengan awan hitam pekat seolah sudah terlalu banyak menyimpan air yang siap mereka keluarkan kapan saja, Rian berdiri di depan jendela kaca ruangannya, menatap keluar jendela dan melihat sebuah sebuah taman dengan tatapan kosong, fikirannya melang, membayangkan semua kemungkinan yang ia takuti, suatu hal yang ia harapkan jangan pernah sampai terjadi. Hidup dengan bayang-bayang ketakunan membuatnya sangat tersiksa, belum lagi harapan yang selama ini ia panjatkan seolah tak akan pernah terwujud, bayangan kebahagiaan selah berlari menjauhi dirinya, enggan utuk menetap dalam kehidupannya. Di tengah lamunannya, suara telfon menyadarkannya, membuatnya tersentak, Dengan cepat ia meraih ponsel dan langsung mengangkatnya begitu tau siapa yang menelfonny

