Dua tabib perempuan telah datang. Kini hanya Rien yang tak bisa berhenti bicara seiring kondisinya diperiksa. Zaro mondar-mandir di depan pintu menunggu bersama Darmuroi dan kepala seniman. "Pangeran, tolong tenanglah. Ini... Bukan seperti dirimu," Darmuroi sedikit gusar mengatakannya. "Aku juga merasa begitu," kata Zaro tanpa berhenti berjalan. "Apa?" Darmuroi meneleng. Saling pandang dengan kepala seniman. "Apa mungkin aku dan Rien memang bertakdir? Tidak-tidak, itu tidak mungkin. Dia pelukis legendaris dan aku Pangeran di kerajaan ini. Identitasnya saja tidak jelas. Sangat konyol jika bertakbir denganku," gerutu Zaro walau bisa didengar orang-orang di sekitarnya. Seorang prajurit lari kearahnya dan melapor pad Zaro. "Salam, Pangeran! Hunara dan rombongannya telah kembali! Tet

