Kereta kuda membawa kepala seniman keluar istana. Zaro, Rien, dan Darmuroi mengantarnya. Rien melambaikan tangan dengan raut bingung. Bukan soal dia bertakbir dengan Zaro, melainkan syair sebelum dia memasuki kerajaan Rurua. Zaro dan Darmuroi memperhatikan Rien heran. Perlahan lambaian tangan Rien melemah. Menghela napas berat setelah menurunkan tangannya. "Tuan Darmuroi, kita pulang sebentar." ajak Rien seraya menarik tangan Darmuroi. "Eh-eh, Rien...," Darmuroi tidak bisa menghindar. Namun, tangan yang satunya ditahan Zaro membuat Rien menghentikan langkahnya. "Kau tidak boleh keluar dari istana," ujar Zaro datar. "Aku hanya ingin ke rumah tuan Darmuroi. Ada yang tertinggal di sana. Aku ingin mengambilnya," sanggah Rien. Zaro menatap Rien tidak percaya. Kemudian Darmuroi membenar

