7. Dia Marah

571 Kata
Keesokan harinya Dwi berangkat lebih pagi, diperjalanan Busway ia men scrolling postingan fotonya yang selalu di tap love oleh bos nya ia. "Kok aku baru nyadar sih?!" Dwi heran dan sedikit ngeri dengan kelakuan bosnya itu. Setelah sampai ia duduk dimeja dan memegang surat pengunduran dirinya. Seakan ada sedikit bimbang dihatinya, karena ia sudah nyaman dipekerjaannya itu. Setelah Pak Bimo tiba dikantor, ia membulatkan tekadnya. Kemudian ia masuk keruangan Pak Bimo. "Ada Apa apa Dwi? " Pak Bimo tersenyum ia tak tau maksud tujuan Dwi sebenarnya. "Ini surat pengunduran diri saya Pak. " Kata Dwi menyodorkan surat itu kepada bosnya. "Alasannya? " Tanya Bimo kemudian ia bangkit dari mejanya sedikit mendekat kearah Dwi. "Karena saya merasa sudah tak nyaman dengan keadaan dikantor ini. " Jawab Dwi. "Kamu boleh mengundurkan diri, asal kamu menikah dengan saya." Kata Bimo dengan serius dan tegas. "Maksud bapak apa!? Tolong dong Pak jangan persulit hidup saya yang sulit tambah lebih sulit. " Jawab Dwi. "Kamu juga harus tau dong, kalau kamu mengundurkan diri. Terus kalau Saya kangen saya harus cari kamu kemana? " Kata Bimo dia ikut kesal dengan sikap Dwi. "Lah itu urusan bapak, bukan urusan saya Pak. " Jawab Dwi. "Sebenarnya saya juga seperti kamu, hidup sendiri tanpa memikirkan komitmen. Tapi setelah mengenal kamu. Jika aku harus berumah tangga, saya hanya ingin orang itu kamu. Saya tak ingin kehilangan kamu. " Kata Bimo panjang lebar. Dwi kehabisan kata, diposisi yang benar justru Dwi merasa jadi orang yang bersalah. "Saya meminta maaf. " Kata Bimo dengan penuh sangat. "Memang caraku salah. Jika kamu mau, kita mulai dari awal. Kita mulai dengan saling tegur sapa dan tersenyum satu sama lain. " Lanjutnya. Dwi terdiam, ia tak menyangka orang yang ia benci memiliki perasaan begitu besar kepada nya. Dwi melihat Bimo yang bersungguh-sungguh. Dwi tak berkata apapun dan memilih keluar dari ruangan Bimo. Ia sendiri bingung harus berbuat apa. Apa ia memilih keluar tanpa ijin Bosnya. Atau tetap tinggal dan terus bertegur sapa. Di meja ia terlihat sangat pusing. "Ada apa sih Dwi. " Tanya Silvy. "Ayo ikut aku. " Kemudian Dwi menggeret Silvy menuju kantin. Dwi memesan makanan berupa mie instan dan jus jambu. "Ini jam kerja, gak pa2 kita disini? " Tanya Silvy. "Nanti kerjaan kamu aku yg beresin. " Kata Dwi sambil melahap mie instan yang ia pesan. "Lah kerjaan kamu?" Tanya Silvy. "Tadi aku udah ngasih surat pengunduran diri. " Kata Dwi. "SERIUSSSS??? " Silvy kaget. "Pliisss lah jangan. Emang gak ada solusi lain apa? " Lanjutnya. "Aku udah pusing banget Vy. Coba deh kamu jadi aku, Pak Bimo udah keterlaluan banget. Masa pas aku bilang mau mengundurkan diri, dia bilang boleh asal aku jadi istrinya. hiiii... serem kan. " Kata Dwi yang merasa kesal. "Bukannya itu so sweet banget ya. " Kata Silvy tersenyum. Kemudian Bimo datang menghampiri Dwi di meja tepat ia makan mie instan. Dwi kembali melongo, seperti murid yang tertangkap basah oleh gurunya bolos saat istirahat. "Bisa gak kamu ikut saya." Kata Bimo sangat serius. "Kemana pak" Tanya Dwi menaruh sendok dimangkok. Tanpa menjawab terlebih dahulu, Dwi mengikuti Bimo berjalan keluar kantor dan menuju mobilnya. Dwi ragu tapi akhirnya dia masuk kedalam mobil. "Mau kemana sih pak. " Tanya Dwi. "Gak kemana-mana, kita dimobil aja." Kata Bimo santai. "Harus banget ya pak dimobil. Oke deh pak" Tanya Dwi takut bos nya tambah marah. "Kamu boleh mengundurkan diri, tapi setelah proyek produk kemasan yang sedang berjalan selesai hingga lounching produk."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN