"Nunggu sekitar 3 minggu donk. " Dwi mengeluh.
"Karena saya gak mungkin cari pengganti kamu secepat itu. Sedangkan proyek ini sudah kamu pegang. Selama itu, mari saling senyum dan tegur sapa. " Bimo tersenyum.
Dwi menatap Bosnya penuh curiga. Apa maksud bosnya itu. Benar juga kata bosnya jika ia keluar begitu saja, bagaimana kontrak dengan klien yg sedang berjalan.
Dia harus bertanggung jawab hingga kemasan produk selesai digarap.
"Tapi aku ada syarat ya Pak. " Kata Dwi tegas.
"Apa!!! " Tanya Bimo sedikit sumringah karena Dwi tak jadi keluar.
"Tolong jangan ganggu saya lagi & jangan datang datang ke rumah saya. " Kata Dwi.
"Baik. Seperti yg saya bilang aku hanya ingin kita saling tersenyum dan tegur sapa. " Kata Bimo.
"Oke." Kata Dwi kemudian keluar dari mobil Bimo.
Didalam mobil Bimo tersenyum, paling tidak ia menahan Dwi beberapa minggu.
Dwi masuk kedalam ruangan kerja, ia jadi semangat buat menyelesaikan pekerjaan nya.
"Gak jadi keluar? " Tanya Silvy melongok ke meja Dwi yang disebelah nya.
"Enggak, kita liat nanti. oke. " Kata Dwi tersenyum.
Sejak saat itu, Dwi dan Pak Bimo tak pernah lagi berselisih. Mereka hanya saling tegur sapa dan fokus dengan kerjaan.
Meski begitu Bimo selalu mencuri-curi pada Dwi saat bekerja.
Mereka sering melewati hari bersama karena target kerjaan.
Namun tetap saja karyawan lain penasaran dengan hubungan Dwi & Bos Mereka. Tapi tak ada berani bergunjing terang-terangan takut bos mereka marah.
Dwi kembali merasa nyaman dengan pekerjaannya. Suatu ketika saat ia pulang kerja, ia kembali memikirkan niatnya untuk mengundurkan diri.
Seminggu lagi mungkin lounching produk yang artinya dia akan keluar dari kerjaan yang selama ini sangat diidamkannya. Tapi ia kembali merasa bimbang, karena masalah kemarin sebenarnya pelan-pelan sudah selesai.
Kemudian handphonenya berbunyi. Ternyata Bimo menelpon. Untuk apa dia menelpon fikir Dwi belum mengangkat teleponnya.
Dengan ragu akhirnya ia mengangkat teleponnya.
"Hallo." Dwi mulai bicara.
"Lagi apa. " Tanya Bimo.
"Baru sampe."
"Oh... "
"Ada apa ya pak."
"Saya cuma pengen denger suara kamu. Pliss jangan marah ya. "
Dwi tidak marah ia santai dengan Bosnya saat itu. Ia mulai bisa menerima kalau Bosnya itu mencintainya.
"Oke. Pak Bimo pengen saya ngomong apa? "
"Buat malam ini saja jangan panggil saya Pak. Panggil Bimo aja atau mas Bimo, umur kita kan cuma beda 3 tahun. "
Dwi memutar matanya seakan mual dengan kata-kata bosnya itu.
"Oke mas Bimo."
"Makasih ya. Saya pengen rekam telepon malam ini buat kenang-kenang. Siapa tau seminggu lagi kita benar-benar tak bisa bertemu."
Dwi kemudian terdiam, ia jadi ikut merasa tak enak dan sedih dengan ucapan bos nya itu.
"Ada-ada aja sih pak. eh mas. " Dwi dengan nada tertawa.
"Saya minta maaf, kalau saya ada salah sama kamu. Karena ini adalah pertama dalam hidup saya ingin serius berhubungan dengan seseorang. Saya tak menyangka kalau akhirnya kamu memilih untuk keluar dari kerjaan. Jika bisa diputar ulang, saya lebih memilih untuk mengagumimu dengan diam. " Kata Bimo terasa sedih.
"Kita mungkin bisa ketemu dijalan Mas Bimo. Dan saya yakin suatu saat Mas Bimo bisa dapat wanita yg lebih baik dari saya."
"Tidak buat mudab saya jatuh cinta sama orang. Jadi saat saya sadar suka kamu, saya tidak mau kehilangan. Jika boleh kamu fikirkan ulang ya, keputusan kamu buat keluar kerjaan. Aku tak akan mengganggu kamu lagi. Kita kembali seperti biasa & lupakan kesalahan saya kemarin. Saya minta maaf sebesar-besarnya." Bimo penuh dengan ketulusan.
"Oke saya akan fikirkan mas Bimo. Saya juga minta maaf karena sudah marah-marah selama ini. " Dwi merasa tak enak hati.