9. Mulai tersentuh

530 Kata
Keesokan paginya naik Bus Way seperti biasa. Hari ini terlihat lebih cerah, ia memulai hari dengan semangat. Dwi masuk kantor dan tersenyum menyapa teman-temannya. Seakan ia sudah melupakan kejadian kemarin. Saat di ruangan ia mulai bersiap untuk bekerja karena ada meeting dengan Kliennya. Kemudian Bimo datang dengan satu Cup Kopi kemudian ditaruh dimeja Dwi sambil tersenyum. "Selamat bekerja." Dwi kaget dan menengok ke arah kanan kiri melihat apakah teman sekantor melihatnya. Sepertinya sudah tak ada yang perduli. Kemudian ia memegang Kopi tersebut dan meminum nya kemudian tersenyum. Setelah itu ia tersadar kenapa ia tersenyum?? Tanpa disadari Dwi merasa nyaman dengan Bimo. Karena berjalan dua minggu Bimo selalu bersikap baik. Ia juga mulai menyadari kalau bosnya tidak hanya baik tapi juga tampan. Kalau dibilang Bimo itu lelaki yang sempurna. Kemudian ia masuk kedalam ruangan Bosnya itu, untuk memberikan hasil revisi produk sambil menjelaskan pada Bosnya. "Jadi gini mas, untuk warna tulisan ini diganti dan ditambah gambar-gambar ini. " Dwi sambil menunjuk gambar desainnya yang ada dilaptop. "Maaf tadi kamu bilang apa? " Tanya Bimo. "Warna tulisannya diganti dan.. " Kata Dwi. "Bukan.. Bukan itu tapi sebelum nya. " Tanya Bimo memastikan. "Saya bilang apa ya.. " Dwi bingung. "Tadi kamu panggil saya mas? " Bimo tersenyum. "Oh itu..." Dwi menggaruk kepala, ia sendiri tak sadar memanggil bos nya yang biasa pak jadi panggilan mas. Bimo terlihat senang hanya dengan panggilan itu. Dwi merasa malu tapi bingung harus berkata apa. "Gak p2, saya lebih seneng kamu panggil aku seperti itu. " Seusai pulang kerja Dwi berjalan menuju halter seperti biasa. Kemudian mobil Bimo menepi dan dia turun dari mobil. "Saya anterin mau?" Bimo gugup sedikit takut Dwi akan marah. "Saya biasa naik bus way kok mas. " Kata Dwi menolak halus. "oh.. " Bimo merasa ditolak. "Ya udah ayo." Dwi berubah pikiran setelah melihat wajah kecewa Bimo. Bimo terlihat senang Dwi mau dengan ajakannya. "Saya gak pernah liat tempat tinggal kamu." "Oh... Ia ini luruh aja kok Mas. Nanti ada pertigaan belok kanan. Tapi kok Mas tau rumah orang tua saya!? " "Saya liat CV kamu pas awal masuk kantor. Gimana kabar ayah & ibu. Sudah lama gak main karena gak dibolehin sama kamu. " Bimo tersenyum. "Kabar mereka Baik. Mereka sempet tanyain Mas Bimo. " Kata Dwi. "oh... salam ya buat mereka. " "Kapan main lagi?" Tanya Dwi malu-malu. "Memang boleh? " "Itu... Ayah tanya gitu ke saya. Kapan Mas Bimo main lagi. " "Oh saya kira kamu yg tanya. " "Main lagi juga gak p2 kok. " Kata Dwi lirih. "ha??? " "Kalo mau main gak p2! Kasian ayah nyariin temen main catur. " "Iya... Nanti aku main. " Bimo tersenyum dalam hati. Seakan mendapatkan lampu hijau. Sedang Dwi malu-malu ia juga tidak sadar kenapa ia sampe berkata seperti itu. Sesampainya didepan kos Dwi, Dwi berterima kasih pada Bimo. Kemudian Bimo masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan dan tersenyum pada Dwi. Dwi masuk kedalam Kosnya. "Kok aku sampe ngomong gitu sih!!! Aaaaa... maluuu.. maluuu... maluuu nanti dikira aku ngarep donk!!! aaaah malu... Apaan sih Dwi...Sadar sadar...." Kemudian Dwi memukul-mukul kepalanya. Sedangkan Bimo dalam mobil tersenyum-senyum seakan perasaan nya sedikit terbalas. Kemudian ia menekan musik dimobil mengiringi hatinya yang sedang bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN