Ara tidak bisa mengendalikan perasaannya untuk saat ini. Dia tidak bisa diajak untuk berpikir jernih meski satu detik pun. Ia menangis, mengamuk, dan terus menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi saat ini. Naas. Setelah sang mama mengetahui kalau dirinya selama ini pergi dari rumah bukan untuk kuliah, bukan untuk melanjutkan studinya, melainkan karena menanggung perbuatan salah yang besar karena hamil, sang mama langsung pingsan. Tidak lama dari itu, ia bisa siuman, namun ia terus saja menangis. Mempertanyakan sebuah alasan yang pasti kepada Ara. Ara menang menjawab, namun hal itu belum cukup membuat mereka menerimanya. Ia sesak nafas, membuatnya dilarikan ke rumah sakit. Namun kembali, hal baik tidak ia terima. Pada akhirnya apa yang terjadi? Sebuah kilas terburuk pun mendatan

