Gavin mengeratkan jaketnya, udara pagi ini sangat dingin. Hujan menemaninya di perjalanan, mendung. Berulang kali dia menyalakan wiper mobil untuk menghilangkan air yang menghilangkan padangannya. Tangannya meraih saku kemejanya, mengambil ponsel, hendak menghubungi Clive karena dia mungkin akan terlambat sampai di kantor. Baru saja hendak mencari kontak Clive, dia malah mendapati Dewina menelfonnya. Dia terkejut, lalu mengangkat telefon Dewina. “Iya? Halo Dew, selamat pagi.” Canggung. Itulah yang pertama Gavin rasakan. Di seberang sana Dewina tersenyum kecil, senyuman manis yang tak dapat Gavin lihat. Dewina tau, Gavin pasti berubah menjadi aneh gara-gara permintaan ayahnya. “Gav, kamu dimana?” tanya Dewina. Jam kantor telah lewat lima belas menit, namun Gavin tak kunjung sampai.

