Prolog
“Katanya cinta mati, tapi masa iddah baru saja selesai sudah nikah lagi.”
“Jangan-jangan sebelum almarhum meninggal mereka sudah ada hubungan, makanya buru-buru diresmikan.”
“Iya, mana suami barunya anak buah almarhum lagi.”
“Apa sudah selingkuh duluan di belakang almarhum?”
“Kalau iya ngeri banget, sih! Dua-duanya gak tau terima kasih malah nusuk dari belakang.”
Wanita yang masih mengenakan kebaya putih lengkap dengan hijabnya yang senada itu meremas kuat ujung pakaiannya yang dihiasi payet. Di balik bilik toilet ini ia dan suami barunya tengah menjadi buah bibir yang diperbincangkan dengan sangat hangat. Tak apa jika yang mereka bicarakan adalah hal benar, tetapi semua itu hanyalah tebakan yang menghasilkan fitnah semata.
Tidak benar jika ia berselingkuh dengan anak buah almarhum suami. Tidak benar jika ia sudah tidak lagi mencintai almarhum suaminya. Tidak benar juga jika ia sudah memberikan hatinya pada pria lain. Bahkan ia yakin jika tak akan ada cinta dalam pernikahannya kali ini. Karena pernikahan ini hanya untuk memenuhi wasiat mendiang suaminya.
Wanita itu menghapus tetesan air bening yang enggan berhenti di sudut matanya dengan kasar. Tak peduli jika hal itu akan menghapus riasan di wajah sayunya. Toh ia sudah berniat untuk tidak kembali ke aula. Bertemu dengan para tamu hanya membuatnya kembali mendengar kalimat-kalimat sumbang yang dituduhkan padanya.
Ia menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Sekali lagi menggenggam erat tangannya. Kepalanya pun berdiri tegak, dagunya terangkat, dan matanya menatap lurus kedepan.
“Kamu tidak seperti yang mereka bicarakan, Zara! Kamu bermartabat dan pernikahan ini adalah wasiat Mas Dipta. Jangan dengerin omongan mereka!” tekat wanita bernama Azara atau kerap dipanggil Zara tersebut.
Setelah suara pintu toilet tertutup dan suasana kembali sepi, wanita itu membuka biliknya dan memastikan kondisi di sekitar. Saat dirasa semua aman, ia segera meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain, seorang pria yang tubuhnya masih terbalut beskap putih lengkap dengan kopiahnya itu tengah menyalami ratusan tamu undangan di aula. Ia tampak sendirian hingga menimbulkan tanya dari setiap pasang mata yang ada disana. Sebagian orang mampu melihat senyum terpaksa dari bibir pengantin pria itu, tetapi tak seorang pun yang berniat menegurnya. Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya yang ia kenal sebagai asisten rumah tangga mendiang seniornya itu mendekat dengan agak tergopoh.
“Dari toilet Ibu langsung keluar aula, Den. Saya lihat masuk ke lift dan naik ke atas,” adu Bi Sari.
Sebelah alis Zafran sempat menukik sesaat sebelum ia menengok ke arah arloji yang ada di pergelangan tangannya. Baru pukul setengah sembilan malam dan ia memperkirakan bahwa masih cukup banyak tamu undangan yang belum ia temui. Ia pun mendengkus kasar, merutuki sikap wanita yang baru siang tadi menyandang status sebagai istrinya tersebut.
“Terima kasih, Bi,” timpal Zafran seraya menengok ke kanan kiri, mencari keberadaan seseorang. “Bilang ke umi sama abi buat mewakiliku sebentar, aku bakalan balik lagi,” pesannya yang diangguki sang asisten rumah tangga.
Kaki jenjang itu melangkah menembus kerumunan para tamu. Sesekali Zafran menyunggingkan senyum serta mengangguk, menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya. Tak butuh waktu lama sampai ia berhasil meninggalkan aula dan menyusul sang istri yang ia perkirakan tengah berada di kamar yang di persiapkan untuk menyambut malam pertama mereka.
Satu dua kali ketukan tak ada jawaban, hingga Zafran pun harus menggedornya. Ia semakin tak sabar saat pintu pembatas itu tak kunjung terbuka. Tanpa menunggu lebih lama, ia meraih kartu kunci kamar hotel yang terdapat di sakunya. Saat melakukan check in, ia memang meminta dua kartu yang masing-masing untuk dirinya dan sang istri. Pintu itu terbuka dan segera tertutup dengan keras.
Sosok wanita di ujung kamar seolah tak merasakan apa pun, bahkan terkesiap pun tidak, padahal suara berdebum pintu dengan kusennya itu terdengar menggema. Ia justru melanjutkan kegiatannya yang merapikan segala jenis aksesoris yang telah terlepas dari tubuhnya. Bahkan kebaya putihnya telah tanggal dan diganti dengan pakaian yang lebih nyaman.
“Kenapa gak pamit?” todong Zafran dengan segera begitu ia sampai di sisi Zara yang wajahnya terlihat datar.
Wanita itu tak menjawab. Tangannya menutup koper yang berisi aksesoris serta kebayanya lalu menarik risleting serta menguncinya.
“Ibu tadi bilangnya cuma ke toilet, tapi kenapa malah kembali ke kamar tanpa bilang sama saya? Dan apa ini? Acara belum selesai, Bu! Masih banyak tamu yang belum kita temui,” cecar Zafran tak habis pikir.
Zara menegakkan tubuhnya dan menatap lurus pria yang telah berstatus sebagai suaminya tersebut.
“Mereka tamu kamu, bukan tamu saya!” tegas wanita itu tajam.
“Oh, jadi itu alasan Bu Zara gak ngundang kerabat Ibu sama sekali? Supaya bisa pergi lebih dulu lalu ninggalin saya di aula biar jadi ondel-ondel, gitu?” geram Zafran tak habis pikir.
“Terserah kamu anggapnya seperti apa! Kalau bukan karena wasiat almarhum mas Dipta, saya lebih baik menjanda seumur hidup,” sanggah Zara dengan sorot mata berapi-api.
Zafran mendecih dan membuang muka. Jendela hotel yang menyajikan pemandangan langit gelap dan dihiasi lampu kota sepertinya jauh lebih menarik untuknya.
“Ibu pikir hanya Bu Zara yang terpaksa memenuhi wasiat bapak? Saya juga, Bu! Kalau saya tidak menghormati Pak Dipta dan berhutang budi, saya tidak akan mau terjebak bersama perempuan yang tidak menginginkan saya!” seru Zafran tak kalah emosi.
Beberapa hari ini kesabarannya memang sangat diuji oleh sosok wanita di hadapannya tersebut. Ia tahu Zara masih merasa kehilangan, tapi ia berharap wanita itu mau sekedar bersikap baik padanya, tidak membantahnya, dan menerima kehadirannya. Zafran bahkan rela jika hubungan suami istri yang keduanya jalani saat ini hanya akan menjadi status di atas kertas saja. Setidaknya ia masih bisa mencoba untuk menunggu Zara siap menerima hubungan ini. Namun, wanita itu tampak jelas sangat membencinya, padahal dulu saat almarhum suaminya masih ada, Zara masih bisa bersikap ramah pada Zafran.
“Ya sudah, kita sama-sama merasa keberatan, jadi gak perlu membuat semuanya jadi rumit!” tukas wanita itu.
Zara telah selesai berkemas. Ia menegakkan koper serta meraih tas tangannya di atas meja. Tanpa menengok apalagi berpamitan, wanita itu melwati Zafran begitu saja.
“Mau kemana?” tanya Zafran masih berusaha sabar.
“Pulang!” sahut Zara datar dan tanpa menatap lawan bicara yang tak lain adalah suaminya.
Zafran benar-benar sudah terpancing emosi hingga ia menyusul langkah Zara dengan cepat. Diraihnya lengan ringkih itu, sehingga mau tak mau Zara menghentikan langkahnya. Wanita itu tetap tak ingin melihat wajah sang suami meskipun keduanya telah kembali bersisian.
“Tamu masih banyak, acara belum selesai, dan Ibu gak cuma ninggalin acara begitu saja, tapi mau pulang? Sebenarnya Bu Zara ini mempelai wanita atau tamu?” geram Zafran dengan gigi yang bergemelutuk.
Sayangnya, Zara hanya abai dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Zafran di lengannya. Semakin lama ia berada di ruangan yang sama dengan suaminya tersebut, oksigen di sekitarnya terasa semakin menipis dan itu membuatnya merasa sesak. Keberadaan Zafran dalam jarak pandangnya hanya membuat Zara semakin teringat pada almarhum suaminya, satu-satunya pria yang menghuni hati wanita sebatang kara itu.
“Setidaknya Bu Zara tunggu sampai tamu pulang,” bujuk Zafran.
Zara menghempaskan tangan Zafran begitu saja dan menatap pria itu dengan tajam.
“Saya, mau, pulang!” eja wanita berusia tiga puluhan tersebut seraya kembali melangkah.
“Tetap disini dan menuruti ucapan saya atau silakan pulang dan jadi istri durhaka, Azara Diatmika Apsari! Sungguh, saya tidak ridho!” seru Zafran pada akhirnya. Ia tak ingin mengucapkan kata-kata itu, tetapi Zara sudah sangat menyinggungnya sebagai seorang suami.