Suara klakson terdengar di depan pintu gerbang rumah mewah itu. Satpam yang tengah berjaga dalam kondisi setengah mengantuk itu tergagap dan segera keluar dari posnya. Matanya terbuka dengan sempurna saat melihat sosok di balik kemudi di malam yang gelap dan sunyi ini. Tanpa menunggu diperintah lebih jauh, ia segera membukakan gerbang dan mobil bertipe hatchback itu segera memasuki pelataran rumah.
Mobil berhenti di depan pintu utama. Zara yang duduk di kursi penumpang segera turun tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia kemudian membuka pintu belakang dan menurunkan kopernya. Lagi-lagi tanpa berbicara apa pun, wanita berusia tiga puluhan itu memasuki rumah yang telah bertahun-tahun menjadi kediamannya, sementara mobil yang dikemudikan oleh Zafran kembali bergerak menuju garasi.
Pada akhirnya, Zafran memang berhasil menahan Zara untuk tidak pulang saat acara resepsi masih dilangsungkan. Namun, ia gagal membuat Zara tinggal di hotel dan melewati malam pertama pernikahan mereka bersama. Wanita itu terlalu gigih dan Zafran yang lelah tak ingin ribut lebih lama lagi.
Kaki jenjang itu segera menapaki lantai marmer yang dingin. Lampu yang tadinya temaram telah kembali benderang sejak Zara memasukinya beberapa menit yang lalu. Namun, tetap saja suasananya terasa dingin dan sepi.
“Gak jadi nginep di hotel, Den?” tanya Bi Sari yang sudah lebih dulu tiba di rumah setelah acara resepsi malam tadi.
Zafran mengangguk sambil tersenyum kecil. “Ibu udah naik ke atas?” tanyanya kemudian yang diangguki oleh Bi Sari.
“Bibi bawakan tasnya,” ujar wanita paruh baya itu sambil mengulurkan tangan.
“Gak perlu, Bi, enteng kok,” tolak Zafran halus. “Bi Sari istirahat saja, saya juga mau langsung ke kamar.”
Setelah mendapatkan sebuah anggukan, Zafran kembali melangkah semakin jauh ke dalam rumah. Bangunan tiga lantai di atas lahan lebih dari lima ratus meter persegi ini lebih cocok di sebut sebagai istana yang sayangnya tidak dibangun oleh keringat Zafran. Sama seperti Zara sang istri yang ia dapatkan melalui wasiat almarhum seniornya, begitupula dengan rumah ini.
Sebenarnya Zafran lebih menyukai rumah yang sederhana saja, tapi bagaimana lagi? Ia sudah diberi amanah oleh almarhum Dipta untuk menjaga rumah ini menjelang ajal menjemputnya beberapa bulan lalu. Tak sampai di situ saja warisan yang diperoleh Zafran, bahkan firma hukum milik Dipta pun kini dikelola olehnya walau pemilik utama tempat itu saat ini adalah Zara.
Bagi orang-orang yang menyukai materi duniawi, mereka pasti senang jika diberikan banyak warisan seperti ini, tapi tidak dengan Zafran. Ia justru merasa terbebani. Apalagi karena warisan itu ia juga seringkali dipandang sinis oleh orang lain, termasuk Zara, wanita yang kini telah menjadi istrinya.
Kaki berbalut sandal rumahan itu telah sampai di ujung tangga dan segera berbelok ke arah kanan. Tepat di pintu pertama ia berhenti. Tak segera meraih handle, ia justru bergeming di sana. Ditatapnya lekat-lekat pintu berwarna putih itu sambil menormalkan gemuruh dalam hatinya.
Di balik pintu itu adalah kamar utama. Kamar yang dulunya ditempati oleh Zara dan Dipta selama hampir sembilan tahun. Sebenarnya ia ragu, bahkan enggan untuk menempati kamar itu, tapi tak banyak pilihan yang Zafran miliki. Mau tidak mau ia harus tinggal di sana.
Setelah memantapkan hati, Zafran meraih handle dan hendak membukanya. Namun, wajahnya segera mengernyit dan bibirnya menyunggingkan senyum getir saat pintu itu bergeming.
“Setelah gak dihargai sebagai suami, sekarang gak boleh masuk kamar? Astaghfirullah hal adzim. Rencana indah apa yang engkau persiapkan untuk hambamu ini Ya Allah?” gumam Zafran tak habis pikir.
Pintu itu terkunci dari dalam dan tentu pelakunya adalah Azara Diatmika Apsari. Memangnya siapa lagi yang bisa memasuki tempat itu selain sang nyonya? Zafran pun menghirup napasnya dalam-dalam seraya mengembuskannya perlahan. Kini tangan kanannya yang menggenggam mulai mengetuk pintu beberapa kali.
“Bu, tolong bukakan pintunya,” pinta pemuda itu selembut mungkin, menahan rasa kesalnya.
Namun, tak peduli seberapa keras usaha Zafran untuk bersikap lembut, pintu itu tetap kokoh membatasi dirinya dengan sang istri.
“Saya tahu Ibu tidak nyaman dan saya akan memberikan waktu. Izinkan saya masuk, Bu, saya akan tidur di sofa,” bujuk Zafran menahan letih setelah sepanjang hari melalui prosesi pernikahan yang terasa sepihak.
Lagi-lagi pintu itu bergeming, bahkan tak terdengar suara apa pun dari baliknya. Sunyi, sepi, dan dingin. Persis seperti hati Zafran saat ini.
“Bu Zara sudah tidur, ya? Baiklah kalau begitu, selamat tidur. Malam ini Insya Allah saya ridho,” kembali pria itu berujar meskipun tetap saja rasanya ia seperti tengah berbicara di ruang hampa.
Zafran memutar tubuhnya. Kembali ia menatap pintu lain yang berhadapan dengan kamar utama. Itu adalah kamar yang dulu selalu ia gunakan jika sedang menginap di rumah ini atas izin almarhum Dipta.
Sepertinya malam ini pun ia masih harus tinggal di sana meskipun semua barangnya telah berpindah ke kamar utama. Tak apa, daripada tidak bisa beristirahat. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, hatinya pun merasa lelah oleh penolakan yang Zara tunjukkan tanpa henti.
Sebelum benar-benar merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang tampak dingin, Zafran terlebih dahulu membersihkan dirinya lalu bersimpuh di atas sajadah, mengadu pada sang pemilik kehidupan. Ia menerima jalan hidupnya yang sama sekali tidak diinginkan oleh siapa pun.
“Hamba tak ingin bermain-main dengan janji yang telah hamba ucapkan di depan penghulu dan para saksi. Tambahkanlah kesabaran pada hambamu ini untuk membuka pintu hati istri hamba Ya Allah,” doanya setulus hati.
Di seberang kamar yang pintunya tengah tertutup rapat, Zara masih terjaga. Lebih tepatnya kelopak mata itu enggan terpejam. Padahal bola mata itu terus-terusan basah, begitupula dengan kantung matanya yang membengkak.
Bukannya ia tidak mendengar bagaimana Zafran berulang kali mengetuk pintu kamarnya yang ia kunci dari dalam, ia menulikan telinganya. Hatinya masih belum siap. Entah kapan ia akan merasa siap. Sepertinya tidak akan pernah bisa menerima semua ini.
Jemari lentik yang terlihat kurus itu membelai potret dirinya dengan almarhum sang suami yang ada di pangkuan. Sekali lagi air matanya terjatuh. Sama seperti malam-malam sebelumnya, ia begitu merindukan pria yang telah kembali ke pelukan Yang Maha Kuasa tersebut.
“Aku kangen, Mas,” lirihnya dengan suara serak.
Pradipta Lesmana, sosok penuh kasih dan berwibawa yang telah membuat Zara merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dipta pulalah yang mengenalkannya pada hangatnya sebuah keluarga, mengingat Zara adalah seorang yatim piatu tanpa tahu darimana asal-usulnya. Maka tak heran jika Zara begitu tergantung dan sangat kehilangan saat Dipta berpulang karena penyakit komplikasi diabetes yang di deritanya.
“Setelah Mas pergi nanti dan masa Iddahmu telah selesai, menikahlah dengan Zafran. Dia pasti bisa menjaga dan membahagiakanmu sebagai penggantiku,” pesan Dipta menjelang akhir hidupnya kala itu.
Zara yang ada di sampingnya dengan berderai air mata menggeleng kuat-kuat.
“Mas jangan ngomong gitu! Mas pasti sembuh, kita pasti bisa bahagia bersama,” Zara menolak dengan keras.
“Mas sakit, Sayang, Mas sudah gak kuat,” ungkap Dipta setengah terbata yang sekali lagi membuat Zara menggeleng. “Berjanjilah! Mas mohon!”
“Gak mau! Mas pasti sembuh,” kukuh wanita berhijab itu.
Kali ini giliran Dipta yang menggeleng meskipun dengan lemah. “Berjanjilah, Sayang! Mas gak akan bisa pergi dengan tenang sebelum kamu ada yang bisa jagain. Izinkan Zafran menjadi wali kamu menggantikanku. Anggap saja seperti turun ranjang, karena Zafran sudah seperti adik Mas sendiri.”
“Gak ada yang bisa menggantikan Mas untukku. Aku juga gak mau,” Zara terus menolak.
“Tol-long, Sayang,” kalimat Dipta sudah semakin tersengal, bahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya sudah tak lagi bisa di jabarkan dengan kata-kata. Namun, ia masih ingin mendengar janji dari bibir sang istri yang sangat dicintainya. “Meni-kahlah dd-dengan Zz-Zafran, Azara-kku, Ss-sayang.”
Sungguh Zara tak tega melihat suaminya menahan sakit dan terbata seperti itu. Walau terpaksa dan masih berderai air mata, ia pun mengangguk mengabulkan permintaan terakhir Dipta.
“Iya, Mas. Aku akan menikah dengan Zafran nanti. Mas jangan sakit lagi,” ujar Zara menyanggupi.
Seulas senyum terbit dari bibir Dipta yang telah pucat. Hatinya merasa lega dan bibir itu kembali bergerak meski kalimatnya tak lagi terdengar.
Di waktu yang bersamaan, monitor detak jantung yang terhubung pada tubuh Dipta menghantarkan bunyi konstan yang memekakkan telinga walau frekuensinya rendah. Garis-garis yang seharusnya membentuk gunung dan lembah itu hanya datar. Zara pun meraung memanggil sang suami hingga membuat petugas kesehatan buru-buru memastikan kondisinya.
Tak lama kemudian, Dipta dinyatakan berpulang. Meninggalkan duka mendalam pada orang-orang yang ditinggalkan. Bahkan hingga empat bulan berlalu dan telah memenuhi wasiat terakhir sang suami, awan duka itu masih menggelayut pekat dalam hati Zara.
“Sesuai yang kamu minta, hari ini aku dan Zafran telah memenuhi permintaan terakhirmu, Mas. Apa kamu sudah senang di sana? Mungkin belum, karena aku belum mampu mengabulkan keinginanmu untuk menjadi istri Zafran seutuhnya. Bahkan mungkin saat ini hingga esok pagi malaikat tengah melaknatku karena tidak mengizinkan Zafran masuk ke kamar kita,” cerita wanita itu sembari menyusut aliran air matanya.
Bukan hanya matanya yang membengkak dan terasa panas, hidungnya pun memerah. Situasi ini benar-benar menyulitkannya. Di satu sisi, ia paham betul bagaimana seorang istri harus bersikap. Bagaimanapun ia telah menyandang predikat itu selama lebih sembilan tahun di sisi Dipta.
Namun, di sisi lain Zara juga belum sanggup untuk melakukan tugasnya. Seperti kata psikolog, ia masih belum selesai berduka.
“Aku sepertinya tidak bisa membiarkan dia masuk ke sini, Mas. Kamar ini adalah milik kita. Meskipun kamu telah memberikannya pada Zafran, aku tidak rela. Maafkan aku. Aku tidak ingin dia menggantikan apalagi menyingkirkan semua kenangan kita,” adu Zara lagi pada foto yang masih di dekapnya dengan erat.
Waktu terus bergulir. Tanpa terasa setiap ratapan itu menghantarkan pada kelelahan fisik dan batin hingga membuat Zara terlelap. Meringkuk di atas pembaringan sambil terus memeluk fotonya dan almarhum sang suami, seolah lupa bahwa kini telah ada Zafran yang telah menggantikannya.