02 Wedding Agreement

1713 Kata
Waktu telah menunjukkan hampir pukul setengah enam pagi dan matahari pun mulai beranjak dari peraduannya. Udara pagi yang sudah mulai bercampur dengan polusi itu mengiringi langkah kaki Zafran yang baru keluar dari masjid setelah melaksanakan salat Subuh berjamaah. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan dimanapun tubuhnya berada. Sapaan selamat pagi segera menghampiri gendang telinga pemuda itu ketika ia hendak memasuki gerbang rumah mewah tempatnya tinggal saat ini. Tak lupa balasan berupa senyuman serta sedikit basa-basi ia lontarkan pada penjaga gerbang yang sudah cukup akrab dengannya. Masuk ke dalam rumah, sapaan serupa juga terucap dari asisten rumah tangga yang ia jumpai. “Mau dibikinin kopi, Den? Atau mau minum yang lain sambil nunggu sarapan siap?” tanya Bi Sari yang tengah membersihkan lantai. “Gak perlu, Bi. Kalau pengen, saya bisa bikin sendiri nanti. Kayak biasanya,” sahut Zafran tanpa menanggalkan senyum teduhnya. “Beda, dong. Biasanya ‘kan Den Zafran tamu, tapi sekarang sudah jadi Tuan di sini, ya harus kami layani,” bantah Bi Sari sambil terkekeh. “Atau kami mulai panggil Tuan juga, biar makin kerasa bedanya?” canda wanita paruh baya itu. “Jangan, Bi! Makin dikira gak tahu diri saya nanti,” seloroh Zafran menolak. “Gak usah didenger suara-suara yang begitu, gak akan ada habisnya,” Bi Sari menyarankan. Zafran pun mengangguk setuju seraya berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Entah kamar utama atau kamar tamu yang semalam ditempatinya, Zafran masih belum tahu. Namun, pertanyaan itu segera terjawab begitu kakinya menjejak di anak tangga teratas lantai dua. Jawaban itu beriringan dengan helaan napas kasar serta langkah gontai yang kembali mengiringinya. Tepat di depan pintu kamar tamu teronggok dua buah koper yang sangat pemuda itu kenali. Miliknya yang baru kemarin dimasukkan ke dalam kamar utama. Isinya pun masih utuh, tak tersentuh sedikit pun. Kembali Zafran tersenyum getir, menertawakan nasib yang tidak pernah ada dalam rencana hidupnya tersebut, tetapi harus ia jalani. “Kutitipkan Zara padamu. Jadilah walinya, lindungi dia, dan jadilah teman hidupnya. Aku tahu itu tidak akan mudah, tapi bersabarlah sampai dia bisa menjadi istri yang baik untukmu.” Pesan terakhir almarhum Dipta kembali terngiang dalam ingatan Zafran. Tak pernah sekali pun pesan itu ia anggap sebagai beban, hanya saja rasanya memang cukup berat untuk dijalani. Sebuah hubungan satu arah yang terus memaksanya untuk melapangkan dadaa. “Bismillah ladang pahala,” gumam Zafran mencoba berpikiran positif. Meskipun demikian, ia tetap harus menghadapi Zara dan menanyakan maksud wanita itu mengeluarkan semua barangnya. Tak masalah sebenarnya jika Zara tak ingin pemuda itu menempati kamar utama. Zafran bersedia menempati kamar manapun, asalkan tetap bersama sang istri. Sudah sepantasnya pasangan suami istri menempati kamar yang sama, tak peduli dimanapun kamar itu berada, bukan? “Ibu di mana, Bi?” tanya Zafran begitu menuruni tangga. Ia sudah mencoba membuka kamar utama, tetapi lagi-lagi pintu itu terkunci rapat. Namun, Zafran tahu jika Zara tak ada di dalam sana, karena wanita itu setiap harinya selalu beraktifitas sejak pagi buta. “Habis Subuh tadi masuk ke ruang baca dan belum keluar lagi, Den. Coba dicari kesana!” “Terima kasih.” Sebelum menghampiri Zara, terlebih dahulu Zafran pergi ke dapur, sekedar membuat dua gelas kopi dan teh hangat yang mungkin bisa menemaninya berbincang dengan Zara nanti. Lagipula, Zafran masih ingat kebiasaan Zara saat pagi adalah meminum teh hangat. Lima menit kemudian, pemuda itu telah sampai di depan ruang baca. Diketuknya pintu kayu berwarna putih beberapa kali sampai ia di persilakan masuk. Tak peduli bagaimanapun respon Zara, Zafran tetap menyunggingkan senyum terbaiknya saat melihat wanita itu berada di balik meja kerja almarhum Dipta. Namun, seperti yang diperkirakan, wanita itu terkesiap sejenak lalu kembali memasang wajah datar saat menyambut kehadiran suami barunya. “Ada apa?” tanya Zara tak acuh. Wanita itu sedang menggoreskan tinta di atas kertas. Entah apa yang sedang ditulisnya. “Selamat pagi,” sapa Zafran yang tak sedikit pun tampak tersinggung. “Teh?” Zara mengangkat pandangannya sesaat bersamaan dengan Zafran yang meletakkan secangkir teh di atas meja. Tak ada tanggapan, bahkan sekedar ucapan terima kasih pun tak ada. Wanita itu justru kembali larut dengan kertas dan pena di hadapannya. Zafran tak ingin ambil pusing. Ia meletakkan cangkir miliknya di sisi lain meja lalu menarik kursi di hadapan Zara hingga kini keduanya duduk berseberangan. Walau status telah berbeda, tetapi mereka masih sangat asing. Sama seperti dulu yang hanya sekedar mengenal. Tak tahu harus memulai darimana, karena tiba-tiba saja Zafran merasa canggung di hadapan Zara yang tampak dingin dan acuh tak acuh. Suasana pun menjadi hening selama beberapa saat. Hanya suara detak jarum jam, goresan pena, serta deru angin dari sirkulasi udara saja yang terdengar. “Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Zara kemudian tanpa mengangkat kepalanya. Zafran menghela napasnya panjang, membuat tubuhnya sesantai mungkin. “Minum dulu, Bu. Saya tahu Bu Zara suka ngeteh pagi-pagi begini,” ujarnya seakan tengah menunda pembicaraan. Wanita itu meletakkan penanya di atas kertas lalu mengangkat pandangannya. Hanya sesaat, karena setelah itu ia kembali menunduk dan menyibukkan diri. Ia belum bisa menatap Zafran seperti dulu yang masih belum berstatus anak buah almarhum Dipta. “Langsung saja katakan tujuanmu!” pinta wanita itu sambil sibuk membuka laci di sisi meja. Baiklah, Zafran juga tak ingin terlalu lama menunda, sehingga ia segera mengutarakan niatnya. “Apa kita akan menempati kamar tamu?” tanya Zafran langsung pada intinya. “Atau Bu Zara ingin menempati kamar yang lain?” Tangan Zara terhenti di udara, tetapi kepalanya masih menunduk. Setelah terdiam sesaat, ia kembali melanjutkan kegiatannya sambil menjaawab pertanyaan sang suami dengan balik bertanya. “Kita?” Zafran pun mengangguk membernarkan. “Ya, kita. Tadi saya lihat barang-barang saya ada di depan kamar yang semalam saya tempati. Apa kita akan menempati kamar itu ke depannya?” “Apa kamu juga melihat barangku sampai bisa berkata ‘kita’?” Zara balik bertanya dengan menakankan kata terakhirnya penuh arti. Wanita itu telah mendapatkan yang diinginkan dari laci. Sebuah kertas kecil yang segera di robeknya lalu ia tempelkan pada kertas lain yang lebih besar di atas meja. “Maksud Bu Zara?” sebelah alis Zafran menukik. Sedikit banyak pemuda itu bisa menebak, tetapi enggan mengkonfirmasi pemikirannya tersebut. Zara meraih pena lalu kembali menggoreskan benda itu hingga membentuk pola abstrak di atas kertas. Ia tidak menjawab pertanyaan Zafran, tetapi justru mengulurkan kertas yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya tersebut. Dahi Zafran mengernyit tak paham, tapi ia tetap menerima kertas itu dari tangan sang istri. “Apa ini?” tanyanya. “Baca saja dan segera tanda tangani!” pinta Zara tanpa keraguan sedikit pun. Pemuda itu menatap bergantian kertas di tangannya serta Zara yang kembali berekspresi datar dengan bertanya-tanya. Tak ingin penasaran lebih lama, matanya segera terpusat pada goresan tinta di atas kertas. Baru membaca dua kata paling atas dari kertas tersebut, bibir Zafran sudah mengucapkan istighfar. Paru-parunya meraup udara sebanyak mungkin mencoba menyikapi tulisan itu dengan tenang dan kepala dingin. Meskipun pada kenyataannya dadaa Zafran sudah bergemuruh menahan kekesalan. “Bu Zara membuat kesepakatan pernikahan?” bibir tipis itu mengeja. Kepalanya terangkat dan tatapan lembut serta hangat Zafran kini telah hilang, berganti sorot tajam yang enggan terintimidasi. “Seperti yang bisa kamu baca,” sahut Zara tak acuh. “Kenapa?” tanya Zafran segera. Ia sungguh tidak terima dengan hal ini. “Kenapa apanya? Sudah jelas ‘kan kalau hubungan kita hanya sebatas untuk menjalankan wasiat almarhum Mas Dipta? Jadi, saya mau mulai sekarang kita hidup sendiri-sendiri tanpa mencampuri urusan satu sama lain,” Zara menerangkan tanpa emosi yang berarti. “Saya tetap akan mengizinkan kamu tinggal di sini sebagaimana wasiat yang almarhum Mas Dipta ucapkan pula. Tapi, terlepas dari apa pun status kita di atas kertas, kita tetaplah dua orang asing. Tidak sepatutnya menghuni kamar yang sama.” Zafran meletakkan kertas perjanjian itu dengan kasar. Bibirnya tersungging, suara tawa getirnya segera menyapa indra pendengar Zara. Namun, hal itu hanya membuat Zara bergeming. Ia merasa tak perlu mempedulikan. Seperti keyakinannya, ia dan Zafran hanya dua orang yang dipaksa bersatu oleh sebuah wasiat. Tak perlu benar-benar menjalani pernikahan seolah mereka adalah pasangan yang menikah karena sebuah cinta. “Apa Bu Zara sadar kalau sudah mempermainkan sebuah pernikahan dan janji suci terhadap Allah yang disaksikan oleh para malaikat?” tanya Zafran menahan emosinya. “Tak peduli Bu Zara mau menerimanya atau tidak, pada kenyataannya saya sudah mengucapkan ijab kabul dan SAH di mata agama dan negara.” “Tapi itu hanya untuk memenuhi wasiat almarhum Mas Dipta,” bantah Zara yakin. “Mungkin begitu untuk Bu Zara, tapi tidak untuk saya. Pernikahan kita sakral dan saya akan menjalaninya sebaik mungkin, apa pun keadaan yang membuat kita berada dalam situasi ini,” Zafran menyanggah. Bersamaan dengan itu, Zafran dengan lancar merobek perjanjian yang Zara tuliskan. Bahkan materai yang telah di bubuhi tanda tangan Zara telah menjadi beberapa serpihan. “ZAFRAN!” Zara memekik dengan kedua bola mata yang membelalak. Napasnya terengah, menunjukkan keterkejutannya atas aksi sang suami yang tidak terduga. Hendak dilayangkannya sebuah protes keras, tetapi Zafran sudah lebih dulu menyelanya. “Satu-satunya dokumen yang perlu tanda tangan saya adalah buku nikah kita dan saya sudah melakukannya kemarin. Satu-satunya perjanjian yang perlu saya setujui adalah yang disaksikan oleh para saksi serta wali hakim sekaligus penghulu yang kemarin menikahkan kita,” tegas Zafran tak ingin di bantah. “Saya tidak mencintaimu!” seru Zara tanpa keraguan sedikit pun saat Zafran hendak beranjak, mengakhiri diskusi pagi ini. Pemuda itu kembali menyunggingkan senyum hangatnya lalu menimpali, “Saya tahu dan saya tidak akan memaksa. Biarkan takdir Allah yang berbicara. Jika kita memang berjodoh, suatu hari nanti Bu Zara akan mencintai saya.” Zafran akan kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Zara yang menggeram kesal dengan tangan tangan menggenggam, mencengkeram robekan surat perjanjian yang sama sekali tak dianggap oleh Zafran. Saat hampir mencapai pintu, Zafran sekali menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Zara yang bergeming. “Tapi jika kita tidak berjodoh, Allah pun akan menunjukkan kuasanya dengan menuntun kita untuk menemukan jodoh kita masing-masing. Hingga saat itu tiba, Bu Zara tetap menjadi tanggung jawab saya. Jadi, saya harap Bu Zara bisa bekerjasama,” tambah Zafran masih dengan senyum teduh yang sayangnya tampak menyebalkan di mata Zara. “Dan untuk sementara, saya masih akan mengizinkan kita pisah kamar. Saya tahu Bu Zara belum siap menerima semua ini, saya berikan waktu sebanyak apa pun yang Bu Zara perlukan. Tapi jangan pernah lupa, Bu Zara adalah istri saya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN