Kehidupan rumah tangga Zara dan Zafran baru saja dimulai. Meskipun semua berawal tak seperti pasangan pada umumnya yang saling mencintai atau bahkan bersedia saling menerima dan membuka hati, tapi janji itu tetaplah suci. Tak perlu ditambah lagi dengan kesepakatan yang hanya sebuah trik setann untuk menggoyahkan pondasi pernikahan mereka yang sudah rapuh.
Zafran menjalani hidupnya seperti air mengalir. Menambah kesabaran dan berusaha tidak memasukkan ke hati setiap penolakan Zara kini menjadi misi utama sehari-harinya.
Sudah sejak lama Zafran akrab dengan semua penghuni rumah ini, sehingga kini ia tak perlu kesulitan untuk beradaptasi. Bercengkerama dengan para asisten rumah tangga, tukang kebun, serta petugas keamanan pun seperti tak ada jarak. Memang seramah itulah Zafran pada semua orang. Bahkan ia juga tak segan untuk turun tangan membantu pekerjaan mereka. Apalagi selama beberapa hari ini Zafran juga masih dalam masa cuti pasca pernikahannya dengan Zara.
Sayangnya, keberadaan Zafran yang seakan selalu ada di setiap sudut rumah itu cukup mengganggu Zara. Di halaman, ruang tamu, dapur, taman belakang, musala, Zara selalu menjumpai Zafran. Tanpa sungkan pemuda itu akan menyapanya dengan senyuman hangat, tetapi lagi-lagi wanita itu tak acuh.
Zara yang merasa lapar beranjak ke ruang makan. Waktu memang telah menunjukkan tengah hari, sudah saatnya makan siang. Apalagi saat mendekati ruang makan ia mencium aroma sedap yang membuat cacing di perutnya semakin meronta-ronta. Namun, langkah wanita itu terhenti seiring dengan helaan napas panjangnya yang terasa berat.
“Ck, dia lagi,” keluh wanita berusia tiga puluhan tersebut.
Mata almond itu menangkap keberadaan Zafran yang sedang membantu asisten rumah tangga menata menu makan siang hari ini. Rasa lapar Zara tiba-tiba hilang dan kakinya segera balik kanan, hendak meninggalkan ruangan tersebut. Namun, sebelum benar-benar melangkah, suara Zafran menyapa gendang telinganya.
“Baru saja mau dipanggil sudah datang. Bu Zara makan siang dulu, yuk!” seru Zafran.
Wanita itu memutar kedua bola matanya seraya menimpali, “Gak laper!”
Sayangnya, lambung wanita itu tidak sejalan dengan bibir tebal dan pucatnya. Terdengar suara nyaring dari perut, hingga buru-buru Zara mendekapnya dengan kedua tangan, berharap tak ada siapa pun yang mendengar.
“Ini ada gulai ikan kakap, dendeng balado, rendang, kalio, sayur daun singkong. Kesukaannya Bu Zara semua, ‘kan? Ayo, keburu dingin, Bu!” Zafran seolah tidak mendengar, tetapi sengaja menyebutkan menu makan siang mereka yang cukup banyak, memancing cacing di perut wanita itu untuk semakin berontak.
“Males!” kesal Zara yang segera melangkahkan kakinya menjauh.
Zafran pun menghela napasnya panjang sambil mengusap dadaa, menyugesti emosinya untuk tetap bersabar. Tak ingin merasa sakit hati, karena ia yakin jika perasaan itu hanya akan membawa dampak buruk terhadap kesehatan mentalnya.
“Bismillah tabungan pahalaku banyak,” gumam Zafran kemudian.
Tak ingin terpaku pada sikap Zara, pemuda itu segera memundurkan kursi dan duduk di sana. Tangannya tanpa ragu mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Di saat yang sama, ia juga memanggil Bi Sari yang dipercaya menjadi kepala asisten rumah tangga.
“Kenapa, Den?” tanya wanita paruh baya itu.
“Tolong simpan dulu sebagian, kali aja Ibu nanti mau makan setelah saya selesai,” pinta Zafran sambil memilah piring-piring berisi makanan, menyisakan piring nasi serta sayur daun singkong dan sepotong rendang untuk dirinya sendiri.
Bi Sari hendak menerima mangkuk itu dengan sedikit ragu. “Cukup segitu, Den?” tanyanya.
Zafran tersenyum teduh sambil mengangguk. Namun, tiba-tiba ia terpikirkan sebuah ide supaya Zara tidak melewatkan makan siangnya.
“Atau Bi Sari antar saja ke kamar? Kasihan kalau sampai dia nahan lapar kelamaan,” usul Zafran tak tega. Ia tak bisa mengabaikan suara keroncongan perut sang istri.
Bi Sari hendak menuruti permintaan majikan barunya, tetapi ia sudah lebih dulu melihat sang nyonya yang baru turun dari lantai atas dengan pakaian yang lebih rapi. Tangannya membawa sebuah tas di sisi kiri, sementara tangan kanannya menenteng sebuah kunci mobil.
Wanita paruh baya itu menyenggol bahu Zafran, memberitahu pemuda itu keberadaan Zara yang seperti hendak pergi ke luar.
“Mau ke mana?” tanya Zafran menunda makan siangnya sejenak.
“Bukan urusan kamu,” sahut Zara dengan ketus.
“Gak mau pamit?” Zafran sekali lagi bertanya dengan nada memancing.
Sayangnya, Zara hanya memutar kedua bola matanya sambil terus berjalan ke arah pintu utama.
“Rasullullah SAW pernah bersabda bahwa, wanita mana saja yang keluar dari rumahnya tanpa seizin suami, maka para malaikat melaknati setiap langkahnya hingga ia kembali lagi ke rumahnya.”
Tanpa bernada menggurui, Zafran mengucapkan kutipan tersebut dengan begitu tenang, tetapi juga jelas. Bahkan pemuda itu berkata sambil kembali meraih piring makan siangnya, bersiap mengisi ulang energinya.
Bukannya merasa tersindir, Zara justru mencebik dan menghentakkan kaki serta mempercepat langkahnya.
Zafran menghela napas kasar. Ia kira Zara setidaknya akan berpamitan jika diingatkan. Namun, ternyata tidak.
Kelopak mata Zafran menutup sembari ia menahan emosi yang semakin terpancing. Sebelum Zara mencapai pintu, pemuda itu kembali bersuara dengan agak berteriak.
“Hati-hati di jalan, Istriku. Saya mengizinkanmu ke luar,” pekik yang disambut oleh suara pintu depan yang tertutup agak keras.
Tak lama kemudian, terdengar deru mobil meninggalkan pelataran rumah mewah tersebut.
Bukan hanya Zafran yang sempat menghela napasnya panjang, tetapi juga Bi Sari yang di sampingnya. Wanita paruh baya itu memberikan tatapan iba pada sang majikan muda, meskipun tampaknya Zafran tak terlalu mengambil hati sikap sang istri.
"Nanti ke depannya kalau lihat Ibu mau ke luar dan gak izin sama saya, tolong di tanyain mau ke mana terus bilang saya, ya, Bi! Biar saya gak terlalu kepikiran dan saya juga gak mau dia dilaknat malaikat," pesan Zafran serius.
“Siap, Den! Banyakin sabarnya, ya,” ujar Bi Sari bersimpati.
“Insya Allah, Bi. Anggap saja usahaku ini seperti sedang meletakkan batu pertama untuk membangun rumah tangga kami. Pelan-pelan, Insya Allah akan bisa jadi rumah yang sesungguhnya,” timpal Zafran tak lupa menyelipkan senyum hangatnya di akhir kalimat.
“Aamiin.”
“Kayaknya Bu Zara mau makan di luar, Bi Sari tolong panggil yang lainnya ke sini, kita makan bareng. Sayang kalau sebanyak ini jadi mubazir,” pinta Zafran menatap banyaknya makanan di meja.
“Iya, Den, terima kasih,” Bi Sari menyanggupi. “Sayang banget Nyonya gak mau nyicip, padahal Den Zafran udah susah-susah masakin, malah jadi kami yang ngerasin,” selorohnya seraya beranjak memanggil pekerja yang lain.
Semua makanan itu adalah hasil karya Zafran. Sebagian memang dibantu asisten rumah tangga, tapi tetap saja Zafran mencurahkan tenaga dan hatinya saat membuat deretan masakan khas Padang tersebut. Sengaja Zafran memasak dengan harapan Zara akan menyukainya dan mau sedikit demi sedikit membuka hati. Namun, wanita itu bahkan enggan untuk sekedar menengok.
Di saat seperti ini, obrolannya dengan almarhum Dipta beberapa bulan lalu kembali terlintas dalam ingatan.
“Kamu ingat ini baik-baik, ya, Zaf! Kalau Zara marah atau ngambeknya ringan, kasih dia bunga atau coklat aja udah cukup. Tapi kalau parah, sering-sering sogok pakai masakan Padang, pasti luluh. Jangan pernah di kerasin juga, bakalan nempel banget di hatinya kalau di bentak dikit aja. Dia itu sensitif banget orangnya, baperan,” Dipta mengungkapkan.
Sebelah alis Zafran menukik, tidak paham dengan maksud Dipta. Sudah beberapa kali seniornya itu membahas sang istri dan membeberkan banyak hal tentang wanita itu. Saat itu, Zafran tidak tahu bahwa Dipta sedang berusaha untuk menjodohkan istri dan anak buahnya tersebut. Tanpa ada orang yang tahu, Dipta sudah merasakan bahwa waktunya tak lagi lama ada di dunia ini.
“Saya tidak paham kenapa Bapak memberitahu saya hal ini?” Zafran mengungkapkan pikirannya dengan sopan.
Namun, Dipta tidak menjelaskan secara gamblang. Ia justru mengatakan hal lainnya yang semakin membuat Zafran terkejut.
“Zara lagi marah besar sama saya gara-gara saya nyuruh kalian nikah nanti setelah saya gak ada nanti,” ujar pria berusia hampir empat puluhan dan sering keluar masuk rumah sakit tersebut.
Zafran yang terkejut sempat mematung, hingga napasnya pun tercekat. Namun tak lama, karena ia berpikir bahwa kalimat itu hanya sebuah candaan.
“Pak Dipta gak lucu,” sahut Zafran sambil menggelengkan kepala dan kembali memfokuskan pandangan ke arah jalanan. Ia sedang mengemudi dan Dipta duduk di jok belakang.
“Saya memang gak lagi ngelawak atau bercanda, wajar kalau gak lucu, Zaf,” Dipta terkekeh. “Kamu mau ‘kan nanti nikah sama Zara kalau saya sudah gak ada?”
“Keburu saya jadi kakek-kakek perjaka, Pak,” seloroh Zafran masih tetap menganggap permintaan itu sebagai candaan.
“Oh, kalau saya mintanya sekarang berarti kamu mau?” todong Dipta yang membuat Zafran terperanjat.
“Eh, bukan begitu maksud saya, Pak,” sanggah Zafran mengoreksi.
“Begitu juga gak apa-apa, Zaf. Tapi sayangnya negara kita gak ngebolehin poliandri, kalau poligami boleh,” balas Dipta kembali bercanda. “Tunggu beberapa bulan lagi, kalian sudah bisa menikah.”
“Duh, Pak, serius bercandanya gak lucu! Memangnya Pak Dipta mau kemana? Mendingan Bu Zara di bawa saja, pasti mau ikut Bapak kemana-mana,” pemuda itu menyarankan.
“Husstt, Zara masih muda. Belum waktunya ikut sama saya,” tegur Dipta diiringi kekehan. “Eh tapi, kamu punya pacar, gak sih, Zaf? Kayaknya saya gak pernah denger kamu dekat sama perempuan. Takutnya ada yang potek kalau kamu nikah sama Zara.”
“Pacaran dosa, Pak,” sahut Zafran tanpa memberikan penjelasan yang lebih panjang.
“Hmm, cocok! Nanti saja pacaran halal sama Zara setelah saya gak ada,” timpal Dipta puas.
Zafran mendengkus seraya melayangkan protes kerasnya. “Daritadi Bapak bilang gak ada-gak ada terus, mau kemana, sih, Pak? Saya ikut!” pintanya tanpa canggung.
Sedekat itulah ia dengan Dipta meskipun selalu berbincang dengan bahasa formal. Semua demi kesopanan saja.
“Gak! Gak ada yang boleh ikut saya! Kalian puas-puasin dulu di sini, jangan buru-buru nyusul!” sahut Dipta cepat dan tegas.
“Pak Dipta ngomongnya aneh, kayak orang ngelantur,” gerutu Zafran tak sungkan terdengar oleh sang senior.
“Gak masalah kamu bilang aneh, asal kamu mau nikah sama Zara. Oke? Dan jangan lupa sama pesan saya tadi tentang caranya membujuk Zara. Kamu pasti akan membutuhkannya!”
Makanan di atas piring Zafran masih tersisa sebagian. Ia menghirup napasnya berat, tak lagi berselera untuk menghabiskan makanan yang sudah susah-susah dibuatnya sejak pagi tadi.
Suara para pekerja yang menemani pemuda itu makan siang bersama seolah tak terdengar di telinganya. Ia merasa sepi di tengah keramaian.
“Saya sudah melakukan seperti pesan Bapak, tapi ternyata masih belum mempan,” batin pemuda itu getir.