04 Nafkah

1733 Kata
Satu minggu tanpa terasa telah berlalu. Tak bisa dikatakan cepat, tapi juga tidak terasa lambat. Tak ada yang spesial dalam hubungan pengantin baru itu membuat semuanya berjalan seolah seperti biasa. Meskipun demikian, seringkali Zafran melihat Zara yang menghindarinya dan seperti merasa asing di rumahnya sendiri. Namun, mau tidak mau wanita itu harus terbiasa dengan keberadaan suami barunya itu, bukan? Pagi ini pemuda itu akan kembali bergelut dengan rutinitasnya sebagai seorang pengacara sekaligus penanggung jawab firma hukum PL dan Partners, nama yang diambil dari inisial almarhum Dipta, yaitu Pradipta Lesmana. Pekerjaannya bertambah, tetapi banyak rekan yang bisa membantunya. Lagipula, Zafran menyukai pekerjaan ini. Membela klien yang rata-rata adalah para korban membuat jiwa superheronya tumbuh subur. Zafran tampak segar dan berkharisma dengan kemeja berwarna putih, celana slim fit berwarna marun, serta jas yang senada dengan celananya. Penampilannya semakin disempurnakan oleh dasi yang melingkar di leher serta sebuah jam tangan dari merek lokal yang sudah bertahun-tahun ia gunakan. Sederhana, tapi tetap rapi dan tampan. “Selamat pagi,” sapa pemuda itu begitu sampai di ruang makan. Asisten rumah tangga yang sedang bertugas menjawab sapaan tersebut dengan sama ramahnya, berbeda dengan Zara yang bahkan menengok pun tidak. Wanita itu justru tetap fokus pada nasi kuning di piringnya. Meskipun bukan setelan formal, tetapi Zara juga telah terlihat rapi dengan dress panjang bermotif bunga serta pashmina yang berwarna senada. “Bu Zara mau mulai kerja juga?” tanya Zafran sambil menarik kursi di hadapan sang istri. “Hmm,” sahut Zara membenarkan melalui deheman saja. “Ke toko atau kebun?” Zafran kembali bertanya sambil mengisi piring dengan menu yang sama dengan milik Zara. “Toko,” jawab Zara dengan datar, tetapi sudah mampu membuat senyum di bibir Zafran terbit. “Hati-hati,” balas Zafran lega. Setidaknya wanita itu tidak mengacuhkan sang suami saat ditanyai. Namun, Zafran juga tetap berhati-hati dengan pertanyaannya. Untuk permulaan, ia hanya akan bertanya sesuatu yang terkesan basa-basi saja, tanpa menanyakan detail apalagi terkesan menuntut. Bisa-bisa Zara akan mengabaikannya atau malah akan marah padanya. Selama beberapa saat, suami istri yang masih tidur di kamar yang berbeda itu larut dan menikmati sarapannya masing-masing. Tak ada pembicaraan apa pun hingga hanya suara alat makan yang beradu dengan piring saja yang terdengar. Zafran yang terbiasa makan dengan cepat itu selesai lebih dulu. Namun, ia tidak segera beranjak, justru meraih tas tangannya seraya mengulurkan sebuah kartu berwarna biru ke hadapan Zara. Wanita itu mengangkat kepala masih dengan raut datar meskipun cukup penasaran dengan maksud sang suami yang belum benar-benar diakuinya tersebut. Zafran tersenyum seraya berkata, “Mungkin gak sebanyak yang biasanya Bu Zara pegang, bahkan mungkin juga gak lebih besar dari pendapatan Bu Zara sendiri, tapi sudah kewajiban saya untuk memberikan nafkah. Semua gaji saya akan masuk ke sana, tapi otomatis akan terpotong dua juta untuk Ummi. Tolong diatur saja sesuai yang Bu Zara inginkan. Pinnya adalah tanggal pernikahan kita.” Setelah mengatakan itu, Zafran pun segera beranjak. Namun, gerakannya terjeda saat Zara menggeser kartu itu menjauh darinya. Wanita itu berniat mengembalikannya. “Ah, untuk keperluan saya, sudah ada uang transport dan makan dari kantor. Saat ini, itu sudah cukup,” lanjut Zafran menerangkan. “Ambil lagi, saya tidak memerlukannya,” pinta Zara tak acuh. “Saya akan bekerja lebih keras kalau masih kurang,” sanggah Zafran sama sekali tidak menyentuh kartu debit tersebut. Pantang baginya mengambil kembali sesuatu yang sudah ia berikan. “Bukankah saya sudah bilang supaya kita hidup sendiri-sendiri? Tidak perlu kamu melakukan ini!” Zara mengingatkan. Namun, Zafran menggeleng tanpa menanggalkan sedikit pun senyumnya. “Saya tidak pernah setuju dengan perjanjian itu,” bantah sang pengacara. “Terserah! Tapi, bagi saya perjanjian itu sudah berlaku,” Zara tak kalah kukuh dengan pendiriannya. Zafran terdiam sesaat, menahan gejolak agar suasana hatinya tidak memburuk sepagi ini. “Terserah juga kalau Bu Zara tidak ingin menggunakannya, saya hanya menjalankan kewajiban,” Zafran menerangkan. “Ya meskipun entah kapan saya bisa mendapatkan hak saya, yang penting kewajiban sudah terpenuhi,” lanjutnya sambil mengedikkan bahu. “Sama-sama kewajiban, berikan saja pada Ummimu. Saya bisa mengurus diri saya sendiri,” lagi, Zara menolak. Kali ini Zafran tidak menimpali. Ia kembali meraih tas kerja seraya beranjak. Tentu saja tanpa mengambil kembali kartu debitnya. “Kamu dengar saya, tidak? Ambil kembali kartu ini! Saya tidak memerlukannya,” geram Zara menghalangi langkah Zafran dan mengulurkan kartu debit tersebut. “Jika belum bersedia melakukan kewajibanmu, setidaknya hargai usaha saya sebagai imammu! Jangan menambah berat hisab kita di akhirat nanti,” Zafran mendesis dengan nada rendah serta dingin dan memberikan tatapan tajamnya. Untuk pertama kalinya Zara menyaksikan sikap tersebut dari Zafran, hingga membuatnya terhenyak. Tangannya yang masih mengulurkan kartu debit terasa kaku dan tenggorokannya pun tercekat. Teguran Zafran sama sekali tanpa bentakan yang justru itu lebih cepat menyenggol ego Zara. Hanya sesaat Zafran menunjukkan sikap dingin tersebut. Setelah itu senyum hangat serta ramah kembali menghiasi wajah tampannya. Namun, Zara yang masih terkejut masih bergeming di tempat. “Oh ya, laporan operasional dan keuangan law firm akan diserahkan seperti biasa, setiap akhir bulan. Supaya tidak terlalu bingung, Bu Zara bisa mempelajari laporan bulan-bulan sebelumnya yang ada di ruang baca Bapak. Kalau ada yang tidak dimengerti, tanyakan saja sama saya,” jelas Zafran yang seolah tak pernah ada perdebatan kecil sebelumnya. Pria itu menunggu respon sang istri, hanya saja Zara masih bergeming. Padahal sesuai pesan almarhum Dipta, Zafran tidak menegur dengan keras sama sekali, tapi ternyata masih cukup mengejutkan. Sudahlah, Zafran tak akan mengoreksinya. Biarkan Zara belajar mengenal tabiat Zafran perlahan-lahan. “Saya berangkat duluan, nanti hati-hati kalau ke luar sendirian. Wassalamualaikum,” salam Zafran berpamitan. Tak segera beranjak, pemuda itu terlihat ragu. Ada sebuah keinginan dalam dirinya untuk berpamitan seperti pasangan normal lainnya di luar sana dengan mengecup kening, tetapi bukankah mereka belum menjadi pasangan yang normal? Namun, tetap saja rasa ingin melakukan hal itu cukup besar dalam diri Zafran. Setelah sesaat menimbang, pengacara itu hanya bisa menghela napasnya panjang, urung melakukan keinginannya. Ia sadar jika Zara mungkin akan semakin menjauh darinya andai ia memaksa melakukan hal itu. Pada akhirnya ia pun benar-benar pergi begitu saja. Selepas Zafran melewati tubuhnya, tanpa terasa Zara mengembuskan napas panjang. Ternyata sejak tadi ia menahan napasnya tanpa ia sendiri sadari. Tubuhnya pun lemas dan kembali jatuh terduduk di kursinya. Tangannya masih menggenggam kartu debit yang tak lagi diambil oleh sang suami. “Mas, bukannya kamu bilang dia penurut? Tapi kenapa dia gak pernah mau dengerin aku?” gumam Zara sendu. Selama beberapa saat, wanita itu bergeming di ruang makan. Jarum jam terus berputar dan lalu lintas jalanan semakin padat. Wanita itu mengusap wajahnya, menetralisir perasaan gundah yang melanda. Kembali ke lantai atas, ia memasuki kamar utama yang dihuninya sendirian. Setelah meraih tas selempangnya, ia pun beranjak pergi. Di dalam laci nakas Zara meninggalkan kartu debit Zafran. Sejak awal ia tidak berniat menggunakannya, maka hal itulah yang akan ia lakukan. Masa bodoh dengan Zafran yang tidak setuju. Ia masih sanggup menghidupi dirinya sendiri dari hasil penjualan di tokonya. Zara memiliki beberapa buah toko bunga di ibukota. Bunga-bunganya adalah hasil budidaya sendiri dari kebun yang ada di Kabupaten Bogor. Selain dijual di toko, ia juga mendistribusikan bunga-bunga itu ke Pasar Rawa Belong dan juga ke kota-kota lainnya. Lahan seluas hampir dua hektar itu adalah pemberian almarhum Dipta saat mereka masih belum menikah dulu. “Jangan, Mas! Aku gak enak kalau kamu kasih tanah ini begitu saja,” tolak Zara kala itu sambil mengembalikan kertas jual beli tanah yang Dipta sodorkan. “Udah, ambil aja! Lagipula sebentar lagi kita juga akan menikah, hartaku akan jadi hartamu juga, Sayang,” timpal Dipta membujuk. “Tapi, Mas,-” “Udah, gini aja kalau kamu tetap merasa gak enak. Sekarang anggap saja kamu jadi penyewa dan kamu bisa memanfaatkan tanah itu untuk usaha. Kamu mau punya kebun bunga ‘kan? Nah itu bisa dipakai. Nanti kalau sudah ada hasilnya, kamu bisa cicil buat nebus tanahnya. Gimana?” tawar Dipta memberikan solusi. Zara masih menunduk, menatap kertas-kertas di dalam map berwarna merah muda di tangannya. Hatinya masih ragu untuk menerima, karena ia tidak ingin dikatakan memanfaatkan calon suaminya. Sebagai anak yatim piatu dan masih belum memiliki kehidupan yang stabil, ia cukup sadar diri dengan posisinya. Bahkan sejak awal menjalin hubungan dengan Dipta pun Zara sudah seringkali merasa rendah diri. “Alasan kenapa Mas kasih ini sekarang dan bukan setelah kita menikah nanti, supaya tanah ini benar-benar jadi milikmu dan bukan jadi gono-gini. Mas akan buat surat jual beli dengan tanggal pelunasan sebelum kita menikah, meskipun kamu masih nyicil. Gak perlu ada orang lain yang tahu, cukup kita saja,” lanjut pria itu. “Kita gak tahu ke depannya nanti akan ada apa? Kalau misalnya ada sesuatu yang buruk, kamu sudah memiliki pegangan meskipun tanpa Mas. Mau, ya?” Pada akhirnya, Zara pun setuju setelah beberapa kali dibujuk oleh Dipta. Setelah beberapa tahun, Zara bisa melunasi tanah tersebut dari hasil budidaya dan penjualan bunganya. Bahkan kini kebun itu mampu menjadi sumber penghasilan yang sangat cukup untuk Zara. Hari ini Zara hanya berniat untuk mengontrol beberapa tokonya. Tak ada yang spesial dan semua berjalan dengan lancar. Para karyawan yang dipekerjakannya cukup kompeten dan bertanggung jawab. Maka tak heran jika ia bisa menyelesaikan kegiatan tersebut saat tengah hari. Namun, wanita itu baru kembali ke rumah menjelang petang. Ia segera disambut oleh penjaga yang membukakan gerbang. “Syukurlah Nyonya sudah pulang,” ujar penjaga itu tampak lega yang membuat Zara mengerutkan dahinya. “Ada apa, Pak?” tanya Zara penasaran. “Nyonya Mila dan Nyonya Sila ada di dalam,” jawab penjaga itu cemas. Zara terdiam sesaat, tetapi segera mengangguk. Ia kembali menginjak pedal gas dan memarkirkan mobilnya di garasi. Walau terlihat tenang, tetapi sebenarnya ia juga merasa was-was. “Tumben mereka kesini, ada apa?” gumam Zara. Almarhum Dipta adalah tiga bersaudara dan dia adalah anak tengah. Mila merupakan anak tertua, sementara Sila adalah si bungsu. Kedua wanita itu telah berkeluarga dan tinggal di luar Jawa. Ini adalah pertama kalinya mereka datang sejak hari pemakaman saudaranya. Keduanya sangat jarang berkomunikasi dengan Zara, bahkan bisa dikatakan seluruh keluarga Dipta tidak akrab dengan menantu perempuannya itu. Bukan Zara tidak ingin akrab dengan mereka, tetapi mereka yang kerap kali tidak menganggap Zara ada. Untungnya, mereka tidak pernah mengusik atau membuat keributan, sehingga Zara pun tidak terlalu mempermasalahkannya. Selama mereka semua baik-baik saja, itu sudah cukup. Namun, kali ini Zara merasa akan ada sesuatu yang berbeda. Tak ada Dipta yang biasanya menjadi perantara. Bisakah ia berbicara dan berkomunikasi dengan baik dengan kedua iparnya tersebut?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN