Hari pertama kembali bekerja rasanya melelahkan sekali untuk Zafran. Jika dulu ia hanyalah pengacara biasa yang sedang meniti karir, tetapi kini juga harus menjalankan operasional firma hukum tempatnya bekerja. Walau sudah ada tim profesional, tetap saja Zafran yang berada di puncak organisasi mewakili Zara harus memberikan perhatian penuhnya.
Hanya saja, mengurus dokumen yang bertumpuk rasanya tidak seberapa dibandingkan mendengar kalimat-kalimat sumbang dari sebagian besar rekannya. Secara garis besar, mereka memandang sinis Zafran yang dianggap mencari muka selama almarhum Dipta masih ada, hingga dipercaya untuk menggantikannya memimpin firma hukum mereka.
“Tahu gitu dulu gue juga ikutan cari muka ke almarhum Pak Dipta. Warisannya gede,” cibir pria berkemeja biru.
“Benar. Dari kemampuan dan pengalaman, kita lebih senior dan kompeten dari dia,” tambah pria berkemeja marun setuju.
“Tapi kok Bu Zara mau ya sama Zafran? Selama masih ada almarhum Pak Dipta, rasanya mereka gak pernah kelihatan akrab.” Si pria berkemeja biru mengusap dagu dan berpikir.
Ia merupakan senior Zafran serta lebih dulu bergabung ke PL dan Partners, sehingga masih belum terbiasa memanggil Zafran tanpa embel-embel formalitas, kecuali dalam acara tertentu.
“Kalau gue di posisi Bu Zara juga gak bakalan nolak. Orang Pak Zafran ganteng banget, gitu. Masih muda lagi. Gak bakal malu-maluin diajak ke kondangan,” seloroh perempuan yang mengenakan blazer abu-abu terang.
“Ya itu ‘kan elo yang doyan nemplok sana-sini,” sanggah pria berkemeja biru. “Bu Zara kayaknya gak begitu.”
“Sok tahu, lo! Lagian selain warisan, sebenernya Pak Zafran rugilah nikahin Bu Zara. Udah janda, umurnya lebih tua pula,” sahut satu-satunya perempuan di antara ketiganya.
“Tapi masih belum punya buntut,” bela pria berkemeja marun.
Perempuan yang rambutnya di cepol itu menjentikkan jari seraya menimpali, “Nah itu juga kerugian. Bayangin aja, sembilan tahun lebih almarhum Pak Dipta sama Bu Zara menikah, tapi gak punya anak. Jangan-jangan Bu Zara gak subur?” Ia menebak-nebak dan wajahnya segera tampak memelas. “Kasihan banget Pak Zafran dapet perempuan kayak gitu.”
Ketiga pegawai yang tengah bergosip itu berada di dalam pantri. Tak ada seorang pun yang menyadari jika sosok yang tengah dibicarakannya berdiri di balik tembok dan mendengar semuanya.
Zafran termangu dan bergeming. Niatnya membuat kopi untuk menemani bekerja terpaksa ia gagalkan. Tak ingin indra pendengarnya tercemari dan hatinya menumbuhkan sakit hati, pemuda itu berbalik arah, meninggalkan rekan-rekannya.
Bukan tak ingin menegur, Zafran hanya tidak ingin membuat keributan. Lagipula, sekeras apa pun ia membela diri, belum tentu orang lain akan mendengarkan. Lebih baik ia fokus saja pada tugasnya dan menjalankan pesan-pesan almarhum Dipta dengan sebaik-baiknya.
“Cepet banget, Pak? Atau mau saya yang buatkan kopinya?” tegur seorang gadis dari balik meja kerjanya. Ia adalah Jihan, asisten Zafran sejak baru bergabung dengan PL dan Partners.
“Gak perlu, sudah hampir jam makan siang, tanggung,” sahut Zafran sambil mengedikkan bahunya. “Oh ya, nanti setelah meeting sama perusahaan outsourcing saya gak ada jadwal lagi ‘kan?”
Jihan menggeleng dan menjawab, “Gak ada, sih, Pak. Sengaja saya kosongkan. Biasanya meeting sama mereka ‘kan makan waktu banget.”
Zafran menghela napasnya panjang. “Sambutan hangat setelah seminggu libur, ya?” Pemuda itu terkekeh, begitupula dengan asistennya.
“Semangat, Pak!” seru Jihan antusias.
Zafran balas memberikan semangat yang serupa sebelum kembali memasuki ruang kerjanya. Daripada mendengarkan omongan-omongan sumbang yang tidak ada benarnya, lebih baik ia fokus bekerja. Lagipula, dengan bekerja ia juga bisa sejenak melupakan
masalah rumah tangganya yang masih sangat rapuh itu.
Saat Zafran bergelut dengan pekerjaannya hingga sore menjelang, di rumah Zara disambut oleh kehadiran kedua mantan iparnya. Tak hanya berdua, baik Mila dan Sila juga datang bersama dengan sang suami serta anak-anaknya, membuat rumah besar yang akhir-akhir ini terasa sepi itu menjadi begitu ramai.
Bukan hanya ramai, begitu Zara menjejakkan kakinya dari ruang tamu hingga ruang tengah ia sudah disuguhi pemandangan yang terasa berbeda. Banyak makanan berserakan, begitu juga dengan mainan, pakaian anak, dan sebagainya. Semua itu membuat Zara cukup terperangah, karena tak terbiasa.
“Eh, sudah pulang?” sapa Mila sambil menyuapi anak keduanya yang masih berusia lima tahun.
“Iya, Mbak,” jawab Zara seraya mendekati Mila dan bersalaman. “Kapan datang? Sudah lama?”
“Lumayan,” sahut Mila. “Habis nyekar ke makam Dipta tadi.”
“Oh ya? Kok gak ketemu? Aku di sana dari abis Duhur tadi, loh!” Zara duduk di sofa tunggal dan meletakkan tas tangan dari brand yang sama dengan namanya tersebut di samping sofa.
“Ma, sudah! Aku mau berenang lagi,” ujar putri Mila yang segera berlari ke kolam renang di samping rumah.
“Jangan jauh-jauh dari papa!” Pesan yang dengan sedikit teriakan itu segera diiyakan.
Mila kembali berhadapan dengan Zara dan menjawab pertanyaan mantan adik iparnya tersebut.
“Kami ke sana pagi.”
“Oh, pantesan.” Zara menganggukkan kepala.
“Mbak Zara ke makamnya Mas Dipta dari abis Duhur sampai sekarang? Gak takut Zafran cemburu?” sahut Sila yang baru bergabung dari arah dapur.
“Maksudnya?” Sebelah alis Zara menukik dan dahinya berkerut.
“Gak ada maksud, cuma nanya aja. Mbak ‘kan sudah jadi istrinya Zafran, ya ngapain gitu lama-lama di makam Mas Dipta?” jelas Sila yang ikut duduk di samping sang kakak.
“Gak nyangka ya kami tahu kamu sudah nikah sama Zafran?” tanya Mila dengan sudut bibirnya yang tersungging. “Jangan mentang-mentang kamu gak ngabarin, jadi ngira kami gak akan tahu.”
Untuk sejenak Zara terkesiap, tetapi ia segera kembali menguasai dirinya. Seperti Mila yang tersenyum, ia pun membalas ulasan itu dengan lebih teduh dan lembut.
“Bukan begitu maksudku, Mbak,” sahut Zara membela diri.
“Lalu?” Mila menodong.
“Gak apa-apa kok Mbak Zara kalau sengaja gak ngasih tahu. Lagipula kami ini hanya orang lain ‘kan sekarang?” sahut Sila tanpa emosi berarti.
Zara kesulitan menelan ludahnya sendiri. Niatnya tak mengundang siapa pun dalam pernikahan keduanya semata-mata karena belum bisa menerima takdir yang berubah dengan begitu cepat. Meski hubungannya dengan Mila dan Sila tak terlalu baik, sebenarnya ia tidak keberatan memberitahu mereka jika saja ia menikah dalam keadaan yang jauh lebih siap.
“Makamnya Dipta masih basah, Ra, buru-buru banget kamu menikah lagi? Sudah gak betah jadi janda? Atau udah kedinginan dan gatel?” tuduh Mila yang segera menggoreskan luka dalam hati Zara.
“Astaghfirullah haladzim, Mbak, istighfar,” tegur Zara sambil mengusap dadanya yang tertutup pasmina.
“Loh, Mbak bener ‘kan, Ra? Kalau kamu gak gatel, gak mungkin nikah buru-buru! Gak ngasih kabar lagi,” sahut Mila tanpa rasa bersalah. “Ibu sampai shock banget waktu tahu kamu secepat itu lupain Dipta.”
Selain Zara dan Zafran, hanya orang di rumah ini serta orang tua Zafranlah yang mengetahui perihal wasiat terakhir Dipta. Entah apa alasannya, Dipta tidak mengizinkan keluarganya diberitahu. Maka tak heran jika keluarga pria yang telah berpulang itu menjadi sangat terkejut saat mengetahui Zara sudah menikah lagi.
“Enggak, Mbak! Sungguh! Kami punya alasan kenapa pernikahan ini terkesan buru-buru.” Zara tidak ingin semakin disalah pahami.
“Ya alasannya gatel itu.” Sila menyahut dengan sinis.
“Astaghfirullah haladzim,” gumam Zara menghela napasnya panjang.
“Bener gitu, Ra?” tanya Mila. Sebenarnya ia tidak menginginkan jawaban, hanya ingin melihat reaksi mantan adik iparnya saja.
Zara menggeleng dan sudah membuka mulutnya hendak menjawab, tetapi kalimat itu harus tertelan kembali saat Sila menyahut terlebih dahulu.
“Memangnya apalagi kalau bukan itu, Mbak?"
“Eh, tapi kalau sudah menikah harusnya kamu ikut suami, ‘kan? Kenapa masih tetap di sini? Zafran gak punya rumah? Atau sengaja gak mau pergi dari sini, karena sudah keenakan?” tanya Mila dengan entengnya.
"Makanya mereka nikah diam-diam, biar kita gak tahu dan mereka bisa tetap menikmati fasilitas ini. Padahal ‘kan kita yang lebih pantes. Bagaimanapun, kita saudara kandungnya Mas Dipta, sementara Mbak Zara? Cuma orang luar yang kebetulan saja menikah sama Mas Dipta. Coba kalau bukan?” ujar Sila panjang dan diakhiri dengan senyum miring.
Tak ada urat dalam setiap kalimat yang meluncur dari bibir wanita dengan dua anak itu, seolah ia hanya sedang berbasa-basi tanpa memedulikan bahwa kalimat tersebut sangat mampu menggoreskan luka. Pada akhirnya, Mila dan Sila menunjukkan diri mereka yang sesungguhnya setelah Dipta tiada.
“Jadi, intinya aku gak boleh tinggal di sini lagi, Mbak?” tanya Zara langsung pada intinya. Ia tidak suka kalimat yang berputar-putar.
Kedua bersaudari di hadapan Zara menyunggingkan senyum. Bahkan ujung bibir mereka mungkin bisa menyentuh telinga masing-masing.
“Baguslah kalau kamu tahu diri, Mbak,” sahut Sila membenarkan.
“Lagipula sekarang kita adalah orang asing, bukan? Gak ada lagi yang mengikat. Kalian juga tidak punya anak yang perlu kami nafkahi sebagai keluarga Dipta,” tambah Mila tanpa ragu.
Bagaimanapun kedua wanita itu tahu jika ada seorang anak yatim, maka keluarga pihak ayahlah yang wajib menafkahinya meski sang ibu mampu mencari nafkah. Namun, dalam kasus Dipta dan Zara tidak ada variabel tersebut, sehingga kedua bersaudari itu bisa
dengan mudah memutuskan hubungannya dengan Zara.
“Tapi,”
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa gak punya anak, sih? Kamu beneran mandul, Ra?” tanya Mila memotong kalimat yang akan Zara ucapkan.
“Enggak!” Buru-buru Zara menyanggah. Ia tidak ingin kalah cepat dan semakin terpojokkan. “Belum rejeki saja.”
“Mas Dipta, sih, dulu disuruh nikah lagi gak pernah mau! Akhirnya malah gak bisa punya penerus,” gerutu Sila menyayangkan. “Kasihan banget Masku. Udah gak bisa merasakan hasil kerja kerasnya, gak punya keturunan pula.”
Tanpa terasa, tenggorokan Zara tercekat. Ia pun ingin memiliki keturunan, sama seperti seorang istri pada umumnya. Namun, seperti yang Zara katakan, kehadiran anak memang bukan rejeki dalam pernikahannya dengan almarhum Dipta. Tak peduli bagaimana mereka dulu berusaha, jika bukan rejeki maka hal itu juga tidak akan pernah datang.
“Coba aja dulu Dipta mau dengerin saran kita buat nikah lagi, paling tidak kerja kerasnya gak perlu dinikmati orang lain meskipun dia gak berusia panjang,” tambah Mila menyesal.
“Kenapa Mbak Mila selalu anggap aku orang lain? Aku ini istrinya Mas Dipta, perempuan yang sudah menemaninya sampai ke titik tertinggi di hidupnya,” sahut Zara terus membela diri.
“Istri Dipta?” Mila membeo dengan kalimat yang diiringi tawa sumbang. “Kamu sekarang istrinya penghianat itu. Gak punya malu banget masih ngaku jadi istrinya Dipta.”
“Pp-penghianat?” Zara tercekat.
“Iyalah. Apalagi namanya kalau bukan penghianat?” tanya Mila dengan tatapan tajamnya. “Sudah dibiayain kuliah sampai lulus S2, dibantu membangun karir, dianggap adik sendiri, ujung-ujungnya main api sama kamu. Gak usah ngeles kalau kalian dulu gak pernah berhubungan!”
Zara tak mampu berkata-kata, ia hanya terus menggeleng sambil menahan matanya yang mulai terasa panas. Lagi-lagi tuduhan seperti itu yang orang lain lontarkan untuknya. Jika saja berteriak dari atas Monas mampu membuat semua orang mendengar bahwa ia tidak menyukai pernikahan ini, mungkin Zara akan melakukannya.
“Sudah, gak perlu ribut muter-muter. Kita langsung selesaikan saja semuanya.”
Mila menepuk tangannya sekali. Di sampingnya, Sila mengangguk setuju.
“Kamu sudah menikah lagi, sudah ada yang menafkahi, sudah jadi tanggung jawab Zafran. Sebagai istri yang baik, kamu harus ikut sama suami. Gak baik juga kalau masih tinggal di rumah mantan suami yang sudah meninggal. Gak perlu khawatir rumah ini akan seperti apa, Dipta masih punya saudara yang bisa merawat,” jelas Mila tanpa ragu mengusir Zara.
“Oh ya, jangan lupa PL dan Partners juga. Kami masih sanggup mengurusnya, tidak perlu orang lain,” tambah Sila yakin.
“Kalau kamu merasa gak adil, kami akan membiarkanmu membawa kebun yang di Bogor sama toko-toko bunga yang kamu urus itu. Cukup ‘kan? Cukuplah harusnya, banyak gitu omsetnya.” Mila memaparkan.
“Gak usah minta lebih! Mbak Zara dulu datang hanya dengan pakaian, sekarang bisa pergi dengan tanah seluas itu ‘kan sudah untung banget,” pesan Sila.
“Sayangnya semua yang anda sebutkan tadi adalah milik istri saya. Sah secara hukum dan tidak ada yang bisa mengambilnya, kecuali istri saya menjualnya!”
Sebuah suara menyahut dari arah pintu utama dan menarik perhatian ketiga perempuan yang ada di ruang tengah.
“Zafran,” gumam Zara begitu lirih melihat suaminya itu menghampiri.
"Atau mungkin Bu Mila dan Mbak Sila mau ketemu saya di pengadilan kalau tetap ingin mengusir istri saya?" Zafran menyunggingkan senyum simpul dan berdiri di samping Zara yang bergeming menatapnya.