06 Pilihan

1651 Kata
“Penghianat sepertimu berani melawan kami?” Mila tersentak dan berdiri, tapi tentu saja ia tak akan bisa lebih tinggi dari Zafran. “Apa selain penghianat kalian juga serakah, ingin menikmati kerja keras orang lain yang sudah dengan tulus mengangkat derajat kalian sampai ke titik ini?” Tanpa mengendurkan senyumnya, Zafran pun menjawab, “Bisa Bu Mila tunjukkan bukti konkret kami menghianati dan merebut hasil kerja keras almarhum Pak Dipta?” Mila dengan wajah bersungut-sungut sudah mengangkat tangannya, hendak menunjuk Zafran yang begitu tenang. Namun, ia segera menghempaskan tangannya dan menggerutu kesal. “Tidak ada?” tanya Zafran yang terdengar menantang. “Sombong sekali kamu, Zafran!” tuduh Sila ikut geram. “Terima kasih atas pujiannya, Mbak,” sahut Zafran tak sedikit pun merasa tersinggung. “Tapi sungguh saya mengingatkan, Mbak Sila dan Bu Mila tidak bisa mengusir kami dari rumah ini ataupun mengambil alih PL dan Partners, apalagi meminta tanah dan toko bunga yang saat ini dikelola istri saya. Kami memiliki dokumen kepemilikan yang sah.” “Pasti kamu yang memanipulasi! Licik!” murka Mila. “Maka dari itu, mari kita bertemu di pengadilan, supaya Bu Mila yakin apakah dokumen yang kami miliki adalah hasil manipulasi atau bukan,” Zafran menawari. Sila yang masih duduk di sofa sambil bersedekap tertawa sinis. “Ya, tentu sebagai pengacara kamu akan memberikan solusi itu. Tapi sebagai manusia, harusnya kalian tahu diri! Semua ini bukan hak kalian!” cecarnya seraya menggerutu. “Justru karena kami tahu diri, kami berusaha merawat peninggalan almarhum Bapak dengan sebaik-baiknya,” sahut Zafran yang memang sudah sangat terbiasa berdebat tersebut. “Bu Mila, Mbak Sila, dan keluarga juga merawat perkebunan sawit sama pabrik pengolahannya dengan baik, ‘kan? Oh iya, harga batubara akhir-akhir ini bukannya semakin tinggi juga?” “KAMU,-” Mungkin debat itu akan terus berlangsung jika saja saat ini kumandang azan Maghrib tidak menyela. Mereka semua pun terpaksa membubarkan diri, meskipun Mila dan Sila masih terus menyimpan kekesalan dalam hati. Kedua bersaudari itu memanggil keluarga masing-masing yang tengah bersantai di halaman dan segera menempati kamar tamu yang selalu mereka gunakan jika berkunjung. Zafran dan Zara menapaki anak tangga menuju ke lantai dua tanpa saling bersuara. Namun, beberapa saat setelah Zara memasuki kamarnya, pintu yang tidak terkunci itu kembali terbuka, membuat wanita itu terperanjat. “Ngapain kamu masuk ke sini?” hardik Zara saat melihat Zafran kembali menutup pintu kamar dan justru menguncinya dari dalam. Pria itu membawa masuk satu buah koper dan menyimpannya di sudut kamar. Ia seolah tidak mempedulikan hardikan sang istri sama sekali. Bahkan tanpa ragu pula melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya, dimulai dari dasi. “Untung koper yang ini belum dibongkar, bisa cepet dibawa,” ujar Zafran sambil terkekeh. “Mau apa kamu?” tanya Zara waspada. “Minta jatah,” sahut Zafran tanpa pikir panjang. Kedua bola mata Zara membelalak sempurna. Tubuhnya secara refleks beringsut menjauh dan lengannya mendekap erat tas tangan di depan dadaa. “Jangan kurang ajar!” seru Zara tajam. “Masa’ minta jatah sama istri sendiri dibilang kurang ajar?” sanggah Zafran terus mendekati wanita yang semakin merasa terpojok itu. Tatapan Zafran tampak nakal, begitupula dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Jemarinya dengan lihai melepas arloji serta kancing lengan kemeja. “Terus, biar gak kurang ajar, saya harus minta jatah sama siapa? Istri orang?” Langkah Zafran tampak lambat di mata Zara dan membuat degup jantungnya semakin menggila. “Bu Zara rela saya minta jatah sama perempuan lain? Padahal kita belum sempat malam pertama, loh!” Zafran terus memancing. Wajah Zara semakin pasi, tetapi sama sekali tidak membuat Zafran menghentikan langkahnya. Kaki wanita itu bertumbukan dengan sisi ranjang yang memaksanya duduk di sana, padahal Zafran sudah semakin dekat. Tidak sungguhan mendesak, Zafran justru tengah menahan tawa yang hampir meledak dalam dirinya. Tak disangka pemikiran jahil yang tiba-tiba hadir itu malah menjadi momen yang menyenangkan, seolah ketegangan bersama Mila dan Sila tadi telah lenyap begitu saja. “Berhenti di sana atau aku akan teriak!” ancam Zara. Zafran mengedikkan bahu tak acuh. “Teriak saja! Tak akan ada yang peduli, paling-paling kita hanya dicibir karena melakukan ‘itu’ waktu Maghrib.” Zara semakin mengeratkan cengkeramannya pada sisi tas di depan dadaa. Kepanikannya terus memuncak saat Zafran telah berada di hadapannya, sangat dekat hingga lutut keduanya bisa saling menyapa. Susah payah Zara menelan ludahnya sekaligus mencari cara kabur. Kancing kemeja Zafran telah terbuka sempurna, tetapi tubuhnya masih terbalut kaus berwarna putih yang tak mampu menutupi postur bidang dan proporsionalnya. Tatapannya mengunci sosok Zara dan tangan kanannya terangkat hendak mengusap kepala wanita itu yang masih tertutup hijab. “Bismillahirrahman,” “Tidaak!” Zara mendorong tubuh Zafran dan segera berlari terbirit menggunakan sisa tenaganya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu ruang ganti berdebum bersamaan dengan lepasnya tawa Zafran. Entah apa yang merasuki pengacara itu hingga tiba-tiba saja begitu usil di waktu yang tak terduga. Ia ikut melangkah ke ruang ganti, tetapi hanya berhenti di depan pintu lalu mengetuknya. “Jangan lama-lama! Saya juga belum wudu, kita salat Maghrib berjamaah,” pesan Zafran mengingatkan. Walau tak mendapatkan jawaban, Zafran sama sekali tidak tersinggung. Sudah terlalu terbiasa. Lagipula, ia juga sudah cukup senang dengan respons yang Zara tunjukkan tadi. Setidaknya ia tahu, bahkan dirinya bukanlah sekedar batu atau kertas bernyawa di mata sang istri. Mungkin lain kali ia akan mencoba menggunakan ancaman serupa untuk menaklukkan wanita itu. Zafran masih tertawa saat ia berjalan ke arah kopernya, hendak mengambil pakaian ganti serta perlengkapan beribadahnya. Namun, tawa itu lenyap dalam sekejap, begitupula dengan tubuhnya yang tiba-tiba menjadi kaku. Matanya menangkap keberadaan pigura berukuran sedang di atas lemari setinggi satu meter di hadapannya. Tampak jelas foto yang menampilkan kemesraan serta kebahagiaan Zara serta Dipta di masalalu. Perasaan Zafran memburuk seketika dan tanpa pikir panjang ia menarik pigura tersebut lalu menelungkupkannya. Tak peduli jika orang lain mengatakan ia egois atau tak tahu diri karena merasa tidak suka saat melihat foto tersebut. Sungguh Zara saat ini adalah miliknya, tetapi masih jauh dari jangkauannya. Keberadaan foto itu membuatnya merasa seperti tengah diolok oleh masalalu serta rasa balas budi yang membelenggunya. “Memang tidak seharusnya aku berada di sini.” Tak berapa lama kemudian, Zara muncul dari balik pintu ruang ganti dan telah mengenakan mukena. Zafran meminta untuk menunggunya sebentar. Meskipun tidak dihiraukan, tapi tanpa diduga Zara bersedia melakukannya. Untuk pertama kalinya, pasangan suami istri itu melaksanakan ibadah bersama. Menanggalkan segala permusuhan dan rasa tidak suka, kegiatan itu berlangsung dengan khusyuk dan hikmat. Belum lagi suara Zafran yang merdu sebagai imam membuat suasana semakin syahdu. “Sudah cukup, kembalilah ke kamarmu!” pinta Zara tepat setelah mereka selesai menjalankan kewajibannya. Zafran melipat sajadah seraya membalas, “Baiklah kalau Bu Zara mau kita menempati kamar di depan. Ayo!” “Saya bilang kamu, tanpa saya,” tegas Zara yang sudah selesai melipat bagian bawah mukenanya. Ia sama sekali tidak menanggalkan penutup kepala, meskipun Zafran adalah suaminya. Pria itu menghela napasnya panjang dan berlalu ke arah sofa panjang di mana kopernya berada. Ia menjatuhkan tubuhnya yang lelah setelah seharian bekerja, tetapi pandangannya masih menatap Zara yang masih menunggu. “Saya akan tidur di sini atau dimanapun Bu Zara berada,” sahut Zafran yang kembali membuat Zara merasa kesal. Wanita itu sudah hampir membantah, tetapi Zafran lebih dulu melanjutkan kalimatnya. “Selama mereka ada di rumah ini, saya tidak akan memberikan peluang mereka untuk mengintimidasi anda,” jelas pria itu. Tatapan tajam Zara mengendur dan menjadi sedikit lebih bersahabat. Tak dapat dipungkiri jika semua tuduhan Mila dan Sila sore tadi mampu membuatnya terintimidasi sekaligus menggoreskan luka. Namun, sesungguhnya ia yakin bisa mengatasi permasalahan itu meski tanpa Zafran. “Berikan saja yang mereka inginkan, saya tidak keberatan,” ujar Zara yang sudah duduk di pinggir ranjang, cukup berjarak dari sang suami. “Lagipula mereka memang berhak memiliki dan menikmati hasil kerja keras Mas Dipta selama hidupnya.” “Begitukah?” tanya Zafran memastikan yang dibalas anggukan Zara. “Saya tidak ingin ribut-ribut,” jelas wanita itu. “Lalu, jika kita harus pergi, Bu Zara mau tinggal di rumah saya?” Zafran bertanya dengan nada menuntut, bahkan ia tak memberikan kesempatan pada Zara untuk menjawab dan melanjutkan kalimatnya. “Kalau saya menuruti keinginan Bu Zara untuk tidak melawan Bu Mila dan Mbak Sila, apa anda bersedia menjadi istri saya seutuhnya? Menjalankan kewajiban istri, berbakti, dan menghormati saya sebagai imam. Bu Zara bersedia?” Zara terperanjat dengan rentetan kalimat pemuda itu. “Zaf, kamu tahu kalau saya,-” “Masih terlalu berat untuk melakukannya?” Zafran memotong. Wanita itu menghela napasnya panjang dan mengangguk membenarkan. “Benar, yang berduka dan baru saja kehilangan suami yang sangat dicintainya adalah anda, saya paham. Tapi jangan pernah merasa jika hanya anda saja yang paling tersakiti dalam situasi ini,” tegas pria itu tajam. “Maksud kamu?” Zafran mengedikkan bahunya seraya menyandarkan punggung pada sofa. “Jika saya merelakan pemberian Bapak pada saudara-saudaranya, lalu saya dapat apa? Sudah tidak dianggap oleh istri, warisannya pun diambil alih. Setidaknya biarkan saya memiliki salah satunya. Bagaimanapun, saya sudah mengorbankan masa depan saya untuk berada di sini. Jadi, Bu Zara pilih yang mana?” Zara terdiam, tetapi matanya menatap nanar pada sang suami yang lebih muda tersebut. Bukan tak bisa menjawab, tetapi sedikit banyak ia menyetujui kalimat Zafran. Ia tak ingin ribut hanya karena masalah harta yang tidak dibawa mati. Namun, jika melepaskannya, Zara juga tidak sanggup menjalankan kewajibannya sebagai istri. “Baik, lakukan saja kalau kamu mau mempertahankan rumah, firma hukum, dan kebun. Saya tidak akan ikut campur,” putus Zara pada akhirnya. Zafran tersenyum miris. “Sepertinya anda memang lebih suka membuat saya terlihat seperti mata duitan dan gila harta daripada menjalankan kewajiban anda.” Wanita itu tak menghiraukan dan beranjak menuju ruang ganti, meninggalkan Zafran yang menghela napasnya panjang sekaligus lelah. Pernikahan mereka baru berjalan beberapa hari, tetapi kesabaran Zafran terus diuji. Bukan rumah tangga seperti ini yang Zafran idamkan, tapi bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur menyanggupi permintaan Dipta, maka dari itu harus bertanggung jawab pada pilihannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN