Hari ini mentari bersinar terik menembus sela-sela ventilasi udara yang ada di kamar Anna. Rasanya Anna enggan untuk bangun, tubuhnya masih terasa lelah dan tentu ia masih mengantuk.
Tok tok tok!!
Tok tok tok!!
Ketukan pintu membuat Anna terbangun dari tidurnya yang lelap itu. Ia membuka matanya dengan perlahan, manik matanya menangkap sosok James berada tepat di hadapannya.
"Ayah??" Anna bangun dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa setelah itu ia segera berlari ke pelukan sang ayah. Rasanya benar-benar nyaman, Anna benar-benar sangat merindukan ayahnya.
Mata Anna berkaca-kaca, ia sungguh bahagia karena ayahnya sudah pulang.
"I miss you so much, dad," lirih Anna.
"I miss you too my little girl."
"Kau berbohong padaku, kau bilang akan pulang kemarin tapi setelah aku menunggu rupanya ayah baru pulang hari ini," ucap Anna dengan kesal.
"Surprise!!" seru James.
"Ayah benar-benar usil!"
"Hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama, ayah cutii!!!"
"Hah?? Sungguh? Ya Tuhan aku benar-benar sangat senang." Anna kembali memeluk ayahnya dengan sangat erat.
James mengusap kepala putri semata wayangnya itu seraya tersenyum. "Kau benar-benar gadis yang sangat hebat. I love you, honey."
Hari ini mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama, mulai dari makan bersama, berbelanja, jalan-jalan dan masih banyak lagi.
Anna benar-benar sudah menanti ini sejak lama. Ia menanti bisa berkeliling kota Berlin bersama sang ayah, menghabiskan waktu bersama untuk menikmati keindahan yang ada di Kota Berlin ini. Untung saja setelah James dinas ia mendapatkan cuti selama seminggu.
"Ayah memutuskan untuk berlibur," ujar James. Anna menoleh, ayahnya mengajaknya berlibur?
"Berlibur?" tanya Anna.
"Ya, berlibur. Kita akan menyewa mansion selama seminggu, bagaimana menurutmu?"
Anna tampak berpikir, ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi bagaimana bisa?
"Apakah ayah yakin?" tanya Anna untuk memastikannya.
"Apa ayah terlihat bercanda? Ayah serius Anna. Kita akan berlibur dan kau akan mengambil cuti selama seminggu, bagaimana?"
Anna setuju, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ini adalah kesempatan yang sangat besar agar ia bisa menghabiskan waktu bersama sang ayah. Lagipula, kapan lagi mereka akan bisa melakukan hal ini lagi? Anna tidak mungkin membiarkan kesempatannya hilang begitu saja.
"Baiklah, aku setuju. Hanya seminggu, dan itu waktu yang sudah lebih dari cukup!" seru Anna. Ia tampak sangat bersemangat.
"Baiklah, ayah akan mengurus semuanya. Mulailah berkemas, besok kita akan berangkat."
"Apa? Secepat itu??"
"Lantas?"
"Eum, baiklah." Anna tersenyum seraya menggaruk tengkuknya. Anna akan menyerahkan segalanya pada sang ayah, semua akan jauh lebih mudah sekarang. Ia hanya perlu berkemas dan semua akan selesai. Anna yakin ayahnya akan mengurus segalanya dengan cepat, itulah keahliannya.