"Bagaimana kau bisa ada disini? Untuk apa?"
Gadis itu menatap Anna dengan tatapan bingung, begitupun juga dengan David.
"Anna katakan, ada apa?" Bisik David pada Anna.
"Kau mengenalku?" tanya gadis itu. Anna menggeleng.
"Maaf, sepertinya aku salah orang."
Gadis itu tersenyum, "Tak apa, itu sering terjadi. Ah iya, apa aku bisa minta tolong pada kalian?"
"Silakan, katakan saja. Jika kami bisa membantu pasti akan kami bantu," seru David, Anna melirik David sekilas temannya itu tampak sangat bersemangat.
"Begini, aku sedang kesulitan mencari seseorang mungkin kalian mengenalnya. Bisakah kalian membantuku mencari orang itu?" tanya gadis itu.
"Pertama-tama beritahu kami siapa namamu dan darimana kau berasal dan—"
"Dan katakan siapa orang yang kau cari!" timpal Anna.
"Ah iya, aku sampai lupa memperkenalkan diriku pada kalian." Gadis itu mengulurkan tangannya pada David seraya tersenyum, "Namaku Veronica, kau bisa memanggilku dengan sebutan Vero aku berasal dari Amerika."
"Ah iya, aku David dan dia sahabatku, namanya Anna."
"Senang bisa berkenalan dengan kalian, omong-omong bagaimana jika kita ke cafe depan kampus sekalian berbincang agar bisa mengenal lebih dekat," usul Veronica. David tampaknya tidak keberatan, ia malah dengan senang hati menerima tawaran Veronica. Tapi bagaimana dengan Anna? Ia merasa segalanya terjadi begitu cepat tanpa bisa ia sadari, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Anna benar-benar tidak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi. Bagaimana bisa gadis yang katanya sangat Vince cintai itu kini datang lagi dan berniat untuk masuk kembali ke kehidupan Vince?
"Anna? Apa kau akan ikut?" tanya Veronica.
"Ah ti—"
"Tentu dia akan ikut, ayo Anna!!" David menarik tangan Anna agar ia ikut. Jujur saja rasanya Anna sangat malas. Kenapa mereka harus bertemu sih? Kenapa harus sekarang disaat hubungan Anna dan Vince baru saja akan dimulai. Kenapa dia harus datang lagi ke kehidupan Vince? Kenapa dia harus datang kesini, kenapa ia tidak mencari tempat lain saja untuk didatangi?
Veronica sedari tadi memperhatikan Anna, ia tampak sangat gelisah.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Veronica. Anna hanya mengangguk mengiyakan padahal sebenarnya rasanya Anna sangat malas harus melihat dia. Anna merasa dengan kehadirannya ia dan Vince akan menjauh. Apakah salah jika Anna berpikir seperti ini?
"Oiya, omong-omong siapa orang yang kau cari? Dan bagaimana bisa kau yakin bahwa kami mengenalnya?" David kini bersuara.
"Iya, aku sampai lupa mengatakannya pada kalian. Setauku mereka membuat gang tapi entah nama gangnya apa, dia adalah Leo dan Vince," jelas Veronica. Detik itu juga langkah Anna terhenti, ia diam mematung. Apa yang sangat ia takutkan kali ini benar-benar terjadi. Bagaimana ini?
"Leo dan Vincent? Ketua dan wakil ketua black catcher?" tanya David untuk memastikan.
"Iya!! Kalian mengenalnya bukan?"
David melirik Anna sekilas, ia bisa mengerti dengan apa yang Anna pikirkan saat ini
"Semua orang juga tau siapa dia," timpal Anna.
"Iya kau benar, tapi aku membutuhkan kalian. Kalian tau bukan bahwa aku baru disini dan ini membuatku kesulitan mencari mereka."
"Kau bisa menunggunya disini, mereka pasti akan lewat sini," ujar Anna lagi.
"Kenapa harus menunggu? Apa kalian tidak ingin membantuku? Maksudku jika tidak ingin kau bisa bicara dengan jujur, aku bisa meminta bantuan pada orang lain," balas Veronica. Ia sedari tadi tau ada hal aneh yang terjadi pada Anna. Sejak saat mereka pertama kali bertemu, raut wajah Anna seketika itu langsung berubah.
"Anna," bisik David. Ia tau dan sangat mengerti dengan apa yang sahabatnya itu pikirkan saat ini. Ia memegang bahu Anna, seraya terus berbisik meminta agar Anna bisa tenang.
"Jika kalian keberatan aku akan mencari orang untuk membantuku menemui mereka," ujar Veronica lagi.
Anna menatap Veronica, "Mengapa kau datang kesini lagi?"
Veronica menatap Anna dengan tatapan bingung, apa maksud pertanyaan Anna?
"Apa maksudmu?"
"Mengapa kau datang kesini lagi setelah meninggalkan Vince tanpa alasan yang jelas?" Kini Anna berani terang-terangan, ia ingin mengetahui apa alasan Veronica. Kenapa baru sekarang ia datang?
"K-kau? Kau tau itu darimana? D-dari mana kau tau itu?"
"Kau pergi dan memutuskan hubungan dengan Vince secara sepihak. Lalu tiba-tiba saja kau datang kembali dan mencari tahu dimana keberadaan Vince, apa kau tidak merasa malu?"
"Anna?" Suara berat pria terdengar, suara yang sangat Anna kenali. Ia menoleh, ia mendapati Vince dan Leo berdiri tepat dibelakangnya. Apa-apaan ini? Vince dengar semuanya?
"Vince?"
Anna menatap Vince dengan tatapan terkejut. Sungguh, ia merasa sangat takut dan gelisah, bagaimana jika Vince marah dengan apa yang Anna ucapkan barusan? Tapi itu juga tidak mungkin terjadi. Vince telah mengatakan bahwa Veronica hanyalah masalalunya dan tidak mungkin ia kembali bukan?
"Apa yang sedang kau lakukan, mengapa kau mengatakan hal itu padanya?" Kedua bola mata Anna membulat sempurna, bagaimana bisa Vince mengatakan hal itu padanya.
"A-aku..."
"Kau tau siapa dia? Dia adalah orang penting untukku. Lantas siapa dirimu berani mengatakan hal itu padanya?" Kini Vince membentak Anna. Sudah Anna duga, ini pasti akan terjadi. Vince tidak serius dengan apa yang ia katakan, itu hanya omong kosong semata.
Tak terasa satu bulir jatuh membasahi pipi mulus Anna, Vince berubah. Mengapa semua terjadi begitu cepat?
"Kau baik-baik saja?" Vince melewati Anna, ia mendekati Veronica. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Apa lagi yang bisa Anna lakukan selain tersenyum kecut?
"Aku... aku baik-baik saja. Ku pikir kau tidak akan pernah menemuiku setelah apa yang sudah aku lakukan padamu waktu itu. Tapi ternyata kau masih sama, kau masih mau menerimaku dengan tangan terbuka, terimakasih Vince." Veronica menggenggam kedua tangan Vince seraya tersenyum. Sedangkan Anna? Gadis malang itu hanya bisa diam sambil menahan nyeri dadanya. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan melihat orang yang kita sukai kembali dekat dengan masalalunya yang telah ia katakN bahwa telah melupakannya Ternyata ucapan Vince semuanya bohong, hanya omong kosong belaka.
Vince tidak menjawab, ia hanya terus diam menatap wajah gadis yang ada dihadapannya itu. Rasanya seperti mimpi bisa menatap mata hijaunya yang teduh itu, pipinya yang merah merona, kulitnya yang putih, dan juga rambutnya yang sampai saat ini wanginya tetap sama.
Anna mundur secara perlahan, ia memilih pergi. Rasanya pertahanannya ia saat ini ia coba agar terlihat biasa saja tidak bisa. Ia tidak bisa menutupi betapa terluka batinnya saat ini melihat orang yang sangat kita percayai justru malah berkhianat. Leo bisa lihat Anna terlihat sangat terluka melihat Vince dan Veronica bercengkrama seperti itu.
Leo mengikuti Anna, ia menyusul Anna menuju toilet wanita untuk mengecek apa Anna baik-baik saja sekarang.
Anna membuka pintu toilet dengan hentakan. Rasanya hati Anna saat ini benar-benar terluka. Kenapa semua menjadi seperti ini, dan kenapa terjadi begitu cepat?
Anna melihat pantulan tubuhnya di cermin, matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang kian membasahi pipi mulusnya itu. Ia mengelus dadanya sebentar, mencoba untuk menenangkan diri.
"Tak apa. Jika kau ingin menangis maka menangislah, tidak akan ada siapapun yang datang." Suara pria terdengar, Anna mengusap kasar wajahnya seraya menoleh kebelakang, rupanya Leo sudah berdiri diambang pintu dan melihat kearahnya.
"Mengapa pria itu datang kesini?" gumam Anna.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Anna.
"Melihat apakah kau baik-baik saja. Aku ingin memastikan bahwa kau tidak akan bunuh diri setelah melihat apa yang baru saja terjadi," timpal Leo dengan candaannya yang sama sekali tidak lucu itu.
"Jika kau datang kesini hanya untuk mengejekku sebaiknya pergi saja dari sini! Aku muak melihatmu!" bentak Anna.
Leo hanya tersenyum, "Kau benar-benar gadis yang payah." Leo perlahan mendekat kearah Anna.
"Jangan mendekat!!" teriak Anna.
"Kau yang membuat dirimu jatuh dalam situasi ini sendiri, apakah kau sadar akan hal itu?"
Mata Anna membulat, ia bahkan tidak mengerti dengan apa yang coba Leo jelaskan sekarang.
"Kau sendiri yang menjebak dirimu dalam situasi ini. Kau sendiri yang menjerumuskan dirimu dalam perasaan sialan ini," ujar Leo. Anna masih tidak mengerti dengan apa yang Leo katakan.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak akan pernah mendapatkan sesuatu yang kau inginkan dari Vince. Sampai kapanpun perasaan Vince tidak akan pernah berubah karena satu-satunya gadis yang ia cintai adalah Veronica. Kau sendiri juga sudah tau siapa orang yang sangat Vince cintai, tapi justu kau sendiri yang membiarkan dirimu masuk kedalam hubungan itu," jelas Leo seraya tersenyum sinis.
Anna terdiam, ia tidak bisa mengelak dari apa yang Leo katakan barusan. Memang benar apa yang Leo katakan, tapi Vince sendiri yang menjelaskan pada Anna bahwa Veronica hanyalah masa lalunya. Ekspektasi kadang tidak sesuai dengan realita yang terjadi.
"Harusnya sebelum kau mengambil keputusan itu kau harus lebih dulu memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi."
Anna menatap Leo, "Bagaimana bisa aku tidak mempercayai apa yang telah Vince katakan padaku? Dia menjelaskan bahwa Veronica hanya masa lalu baginya dan juga bahwa ia tidak lagi mencintai gadis itu." Anna menghela nafas pelan sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Dia yang telah meyakinkanku. Ya awalnya memang aku tidak percaya tapi dengan perlakuan yang ia berikan padaku jelas semua gadis akan merasa bahwa hal yang Vince lakukan adalah sebuah ketulusan, apakah aku salah akan keyakinan ku ini?"
"Kau pernah dengar pepatah bahwa cinta pertama itu sulit dilupakan? Itulah yang Vince lakukan saat ini. Cinta pertamanya telah kembali lantas siapa dirimu?"
Air mata lagi dan lagi jatuh membasahi pelupuk mata Anna. Apa yang Leo katakan saat ini benar-benar sangat benar, bagaimana bisa Anna tidak memikirkan hal ini?
"Itu berarti dia hanya menjadikan aku alat agar bisa melupakan Veronica? Oh ya Tuhan, mengapa rasanya sangat sakit? Apa karena aku mencintainya?" gumam Anna.
"Sebaiknya kembali ke kelas dan cobalah untuk fokus, aku akan pergi." Leo perlahan melangkah pergi meninggalkan Anna dengan sejuta pertanyaan yang ada dibenaknya.