Anna menurut, ia berjalan menuju ruang kelasnya. Mungkin sedari tadi David mencari dirinya. Gara-gara kehadiran gadis itu, semuanya berubah drastis. Mengapa ini bisa terjadi?
Dengan langkah gontai Anna menyusuri lantai koridor sambil terus menunduk menatap ubin koridor. Bahkan mengangkat kepalanya saja rasanya Anna malas melakukan itu.
Saat ia berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada sepasang sepatu berdiri tepat didepan Anna. Anna mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang telah menghalangi jalannya itu.
"Anna?? Kau darimana saja? Aku mencarimu kemana-mana. Kau tiba-tiba saja menghilang tanpa mengajakku, aku sampai kelelahan mencarimu." Dari nafas David saja sudah jelas bahwa ia sangat ngos-ngosan.
"Aku baru saja dari toilet."
"Kenapa tidak mengajakku?"
"Kenapa aku harus mengajakmu? Itu adalah toilet para gadis, pria dilarang masuk!" tukas Anna
"Oh iya, aku lupa." David hanya bisa cengengesan saja sedangkan Anna, gadis itu sampai saat ini belum menunjukkan wajah ceria seperti biasanya.
"Ayo, sebaiknya kita ke kelas." David langsung menarik tangan Anna tanpa membiarkannya berpikir lebih dulu.
"Tunggu, apa Vince dan kekasihnya sudah pergi?"
"Kurasa iya, sebaiknya tidak usah memikirkan soal ini Anna. Kau tau, sudah dari awal aku mengatakan bahwa jangan pernah terlibat apapun degan pria-pria itu tapi ternyata kau tidak mau mendengarkan apa yang sudah aku katakan. Lantas saat ini apa yang bisa kau lakukan selain hanya bisa menangis bahwa kau pernah dibohongi olehnya!" tegas David. Anna tidak bisa lagi mengelak, apapun yang David katakan memang benar, apa lagi yang bisa Anna harapkan dari Vince? Rasanya sudah tidak ada lagi.
***
Disisi lain, Vince dan Veronica berada di dalam cafe dan sedang duduk berdua. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka, Vince diam sambil terus mengaduk minumannya sedangkan Veronica tengah asik bermain ponsel. Sebenarnya banyak hal yang ingin Vince ketahui dari Veronica tapi ia tidak bisa bicara jika bukan Veronica yang memulai pembicaraan.
"Aku..."
"Kau datang tiba-tiba tanpa memberitahu siapapun." Leo tiba-tiba saja datang dan duduk tepat di samping Veronica.
"Aku ingin memberikan surprise pada kalian, itu sebabnya aku tidak memberitahukan pada siapapun," ujar Veronica.
"Sungguh mengejutkan." Leo melirik Vince sekilas yang hanya menunduk mengadum minumannya, "Setelah kau pergi tiba-tiba dan memutuskan hubunganmu dengan Vince kau bahkan tidak pernah menghubungi kami."
"Ya kau tau, aku pindah ke Amerika karena permintaan ayahku. Dan bagiku sangat sulit menghubungi kalian karena beberapa hal dan masalah yang terjadi di rumah kami."
"Kenapa kau tiba-tiba datang kesini? Ada maksud apa? Bukankah kau sudah menetap disana. Dan setahuku kau tidak memiliki sanak keluarga disini." Leo menatap Veronica dengan tatapan serius.
"Untuk... Aku datang kesini untuk bertemu kalian dan untuk meminta maaf pada Vince."
"Mengapa baru sekarang kau minta maaf setelah ia berusaha untuk mengobati luka yang diperbuat olehmu? Kau tau, karena kedatangan mu itu hati seorang gadis terluka lagi dan itu disebabkan oleh kedatanganmu!" tegas Leo.
Veronica menatap Vince lalu kemudian kembali menatap Leo. Bagaimana bisa Leo mengatakan hal semacam itu padanya? Apa yang terjadi?
Vince juga menatap Leo dengatan tatapan tidak percaya. Ia tidak mengerti mengapa Leo sampai bicara seperti itu, san siapa gadis yang telah ia lukai hatinya?
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Kini Vince yang bicara, ia tidak ingin Leo terus bicara hal seperti itu pada Veronica.
"Kau lupa dia?"
"Apa maksudmu?" tanya Vince.
"Anna, gadis Asia itu. Kau tau apa yang telah kau perbuat padanya? Kau melukainya! Kau berbohong padanya, ada apa denganmu Vince? Kau melakukan ini karena kau masih mencintai Vero? Benar bukan? Lantas mengapa kau memberikan perlakuan spesial pada Anna?!" bentak Leo.
"Anna?" gumam Veronica. Ia seperti ingat akan gadis itu, gadis yang ia temui tadi pagi. Benarkah?
Vince diam, ia bahkan lupa pada Anna. Bagaimana mungkin ia melakukan ini pada Anna, gadis yang sangat baik itu.
"Lagi dan lagi aku melukainya," gumam Vince.
"Kau bahkan tidak tau seperti apa ia menangisimu tadi." Leo bangkit dari kursi dan pergi begitupun saja. Rasanya ia sangat marah dan kesal karena Vince berbuat demikian. Apakah ia salah? Ia tidak suka jika Anna menangis, sungguh.
Leo berjalan pergi meninggalkan Vince dan Veronica yang masih diam mematung.
"Anna? Gadis itu gadis yang sama yabg kutemui tadi pagi bukan?" tanya Veronica, Vince hanya mengangguk mengiyakan saja.
"Dia menyukaimu?" tanya Veronica lagi.
"Entahlah, aku pun tidak tau."
"Baiklah, apa aku bisa menanyakan sesuatu padamu lagi?"
"Katakan," imbuh Vince.
"Kita baru saja bertemu, tapi ada yang membuatku bingung. Mengapa kau tidak menanyakan apa alasanku datang kesini setelah meninggalkan mu cukup lama?"
Vince tersenyum, "Aku tidak menanyakan hal itu. Kau datang dan ada di hadapanku saja sudah lebih dari cukup, aku tidak butuh apapun lagi."
"Itu berarti, kau masih mencintaiku?"
"Kurasa begitu."
Veronica tersenyum, ia mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Vince.
"Aku mencintaimu, Vince. Maaf jika aku telah menyakiti perasaanmu."
Vince tersenyum kaku, ia tidak tau harus berekspresi seperti apa. Harus kah ia bahagia karena pengakuan Veronica, atau ia justru merasa bahwa ungkapan cinta yang Veronica katakan itu semua hanyalah omong kosong dan percuma saja?
"Vince, aku tau. Kau mungkin masih belum bisa menerima segalanya, tapi percayalah. Aku benar-benar sangat tulus mencintaimu, aku datang kesini untuk menebus kesalahanku padamu, jadi kumohon tolong maafkan aku, ya?"
"Sebaiknya kita tidak membahas hal ini dulu," imbuh Vince sedangkan Veronica mengangguk mengiyakan saja. Ia tidak ingin membuat keadaan menjadi sangat rumit.
Vince bangkit dari kursinya berniat pergi tapi Veronica juga ikut berdiri bermaksud untuk menyusul Vince.
"Kau mau kemana? Apa kau akan pergi?" tanya Veronica.
"Tidak. Aku ingin ke toilet? Apa kau ingin ikut?" balas Vince dengan cuek, sedangkan Veronica hanya tersipu malu.
"Baiklah, kau boleh pergi. Aku akan menunggu disini," ucap Veronica seraya tersenyum.
Vince pergi meninggalkan Veronica, ia duduk di kursi kembali untuk menyeruput minuman yang telah mereka pesan tadi. Rasanya diluar dugaan, selama bertahun-tahun berpisah dengan Vince kini ia bisa bertemu dengan Vince, dan bahkan perasaan yang telah ada selama bertahun-tahun itu tak kunjung hilang, Veronica benar-benar merasa bersyukur. Bagaimana tidak? Setelah apa yang gadis itu lakukan Vince masih mau menerimanya.
Saat tengah asik menikmati minumannya, Veronica melirik kearah tas Vince. Pria itu meninggalkan tas dan ponselnya disana dan sedari tadi ponselnya berdering, apa yang harus Veronica lakukan? Apa ia harus mengangkatnya? Tapi bukankah itu tidak sopan?
"Siapa yang menghubungi Vince? Kenapa sedari tadi ponselnya berdering?" gumam Veronica. Karena merasa penasaran, ia bangkit berniat untuk mengambil ponsel Vince, tapi sebelum tangannya menyentuh ponsel itu, ia berhenti. Baginya ini adalah privasi, dan tidak baik mengecek sesuatu tanpa seizin pemiliknya.
Veronica kembali duduk di kursinya dan mengaduk-aduk minumannya.
"Apa mungkin telepon itu berasal dari gadis tadi?" ucap Veronica membatin berusaha untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana jika orang yang menelepon Vince adalah Anna? Apakah gadis itu benar-benar sangat mencintai Vince? Jika benar, Vince ternyata dekat dengan gadis lain dan bahkan memberikan perhatian lebih lada gadis lain, apakah hal semacam ini wajar?