"Apa kau baik-baik saja?" tanya Leo dan Vincent bersamaan.
Mereka saling berpandangan, situasi macam apa ini? Anna benar-benar merasa bingung.
"A-aku... Iya, kali ini aku baik-baik saja. Tapi entahlah besok atau lusa. Mereka sudah mengancamku, dan rasanya sangat menakutkan," jawab Anna gagu.
Leo melirik Vincent sekilas, rasanya sangat canggung melihat Vincent hanya diam menatap Anna.
"Aku akan pergi," pamit Leo. Saat hendak melangkah pergi Anna menarik jaket Leo, agar membuatnya berhenti.
Leo menoleh lalu menatapnya, "Ada apa? Bukankah semuanya sudah aman?"
Anna menggeleng, "Kali ini mungkin aku aman tapi bagaimana dengan besok, lusa? Apa yang harus aku lakukan? Kali ini mungkin aku beruntung, tapi bagaimana dengan hari selanjutnya? Mereka sudah mengancamku," ucap Anna, matanya kini sudah berair.
"Beri tahu ayahmu dan semua akan selesai, gampang bukan?" Leo masih terlihat sangat santai dan sangat menyebalkan.
Anna menghela nafas pelan, "Ayahku tidak ada. Tapi tak apa, aku akan mengatasinya. Terimakasih untuk kalian, aku pergi." Anna mengambil bukunya yang terjatuh di aspal jalanan. Ia menunduk untuk mengambilnya, saat hendak pergi Leo menarik tasnya hingga membuatnya hampir saja jatuh.
"Kenapa kau harus selalu terlibat masalah? Kau benar-benar gadis yang suka membuat onar. Biar ku beritahu, ancaman mereka memang jangan kau anggap sepele, jadi berhati-hatilah,"ujar Leo. "Jangan keluar sendirian dalam situasi seperti ini!" sambungnya lagi.
Anna tersenyum, "Baiklah."
Leo melirik Vincent sekilas, "Antar gadis ini pulang ke rumahnya dengan selamat. Aku akan pergi," ucapnya.
Anna menatap kepergian Leo, ada rasa kecewa yang Anna rasakan ketika Leo melangkah pergi. Anna merasa kecewa.
"Mari," ajak Vincent
Anna menoleh seraya tersenyum kaku, "Tidak usah, aku akan pulang sendiri. Lagipula aku juga tau jalan rumahku, kau tidak usah repot-repot mengantarku," tolak Anna.
"Apa kau tidak merasa takut dengan ancaman orang-orang itu? Bisa saja mereka mengikuti mu hingga sampai rumah."
Anna kembali menoleh, "Bukan urusanmu! Aku akan pulang sendiri," balas Anna dengan keras kepala.
Vincent tidak mengerti mengapa Anna selalu menghindarinya, apa karena masalah foto itu lagi?
Vincent menarik tangan Anna, "Mengapa kau sangat keras kepala? Kau bisa di habisi oleh anak-anak Red Bulls, jangan anggap sepele hal itu!" ucap Vincent dengan tegas.
Anna menghempaskan tangan Vincent, "Aku tau! Tapi aku tidak ingin pulang denganmu! Apa untungnya denganku? Aku selalu saja mendapat masalah karena terlalu dekat dengan kalian! Cukup, tolong jauhi aku. Aku lelah harus terus seperti ini!" Anna menatap nanar manik mata Vincent.
Ketika Anna mengatakan hal itu, perubahan dari mimik dan tatapan Vincent terlihat berbeda. Mungkin kata-kata Anna telah melukainya, Anna merasa tidak enak dengan hal ini.
"Maaf jika karena hal ini kau sampai terlibat masalah," ungkap Vincent. Ia tersenyum lirih, ada rasa kecewa yang terlihat dari sorot matanya.
"Maaf, kumohon maafkan aku. Aku sama sekali tidak berniat melukai perasaanmu, Vince," ucap Anna membatin. Rasanya Anna ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan segala keadaan yang ia alami saat ini. Tapi, Anna tidak bisa mengakuinya.
"Tapi tolong, untuk kali ini jangan keras kepala. Biarkan aku yang mengantarmu pulang, dan aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, sungguh."
Anna melirik Vincent sekilas, ia tidak menyangka hubungan yang sama sekali belum pernah ia mulai tapi ternyata sudah berakhir.
Rasanya sangat aneh, tapi Anna tidak bisa melakukan apa-apa. Bukankah ini yang ia inginkan?
"Ayo, ikut denganku. Dengan begitu aku bisa merasa tenang," ucap Vincent lagi. Sedari tadi Anna hanya diam tidak menganggapi ucapan Vincent.
"Vince, terimakasih. Tapi aku..."
"Tolong... tolong jangan keras kepala. Kita tidak ada yang tau masalah apa yang ada diluar sana dan mungkin sedang mengintaimu, jika kau sampai kenapa-napa aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri," timpal Vincent.
Anna mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Vincent seraya menatapnya dengan tatapan yang serius.
"Terkadang aku tidak mengerti denganmu, Vince. Kau seakan-akan mempermainkan ku. Apa dugaan ku ini salah? Setiap kali aku berusaha untuk lebih dekat denganmu maka kau punya cara tersendiri hingga membuatku perlahan menjauh. Tapi setiap kali aku berusaha untuk menjauhi mu kau selalu punya cara untuk membuatku merasa seolah-olah aku sangat diperlukan dan kau sangat peduli padaku. Lantas bagaimana aku harus menyikapi keadaan ini, keadaan yang bahkan tidak bisa aku pahami?"
Vincent terdiam, lidahnya keluh rasanya. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan yang Anna layangkan padanya. Ia bahkan tidak mengerti dengan apa yang Anna maksud, lalu bagaimana cara untuk menjawabnya?
"Kau bahkan hanya bisa diam saja, kau tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Lantas menurutmu apakah apa yang aku lakukan ini salah?" Anna kembali mendesak Vincent, lagi dan lagi.
"Aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, lalu bagaimana caraku bisa menjawabnya?" Vincent memegang kedua bahu Anna seraya tersenyum simpul, "Aku sama sekali tidak pernah ada maksud untuk melukaimu perasaan mu Anna," sambungnya.
Anna diam, ia mundur beberapa langkah. Lalu bergegas pergi menuju Taxi yang berada di sudut jalan.
Vincent tidak mengejar Anna, ia membiarkan Anna pergi. Sekeras apapun ia mencoba, Anna tetap tidak akan peduli dengannya.
Anna bergegas masuk kedalam taxi yang letaknya tidak jauh dari tempat ia berdiri tadi. Sebelum ia membuka ointu taxi, Anna menoleh kearah Vincent yang hanya bisa diam sambil menatap kepergiannya.
Rasanya, Anna telah berbuat sesuatu yang sangat jahat sehingga membuat Vincent seperti ini. Padahal Vincent benar-benar baik padanya. Tapi apa yang bisa Anna lakukan? Ia hanya tidak ingin terus-menerus di permainkan. Ia bukan permainan, benar-benar bukan!
***
Anna tiba di rumahnya dengan keadaan selamat. Jujur saja, ia merasa sangat cemas. Di rumah hanya ada dia seorang diri, dan soal ancaman anak-anak tadi Anna tidak bisa tetap santai setelah mendengar mereka mengatakan itu. Ancamannya bukan semata-mata ancaman biasa, melainkan sesuatu yang mungkin sangat berbahaya untuknya.
Anna sendiri tidak mengerti mengapa harus dia yang ada di situasi seperti ini. Ia sendiri bingung harus menyikapinya seperti apa. Anna hanya bisa berharap semoga ia akan baik-baik saja ya wakwkwk kemungkinannya itu sangat kecil.
Anna sangat takut dan khawatir jika sampai anak-anak red bulls tau dimana tempat Anna tinggal. Andai saja ia ikut dengan ayahnya, mungkin ia tidak akan pernah menghadapi semua ini. Tapi apa yang bisa ia lakukan selain berharap yang baik-baik saja sekarang?
***
Anna membuka pintu kamarnya, untung saja buku yang ia beli tadi tidak hilang. Jika sampai hilang ia harus pergi mencarinya lagi dan tentu akan memakan waktu yang lama.
Ia bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas air, dan agar ia bisa merasa jauh lebih tenang. Hari ini benar-benar hari yang sangat berarti bagi Anna, bagaimana tidak? Ini pertama kalinya bertemu dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa ampun seperti mereka itu dan bahkan ia diancam untuk hal yang Anna tidak tahu apa alasan dibalik hal itu.
Anna semakin yakin bahwa, Leo dan Vincent adalah penyebab ini semua. Tentu saja, tidak ada yang bisa mengelak dari kenyataan itu, bukan? Tapi sayangnya semua terjadi di luar kendali Anna. Ia bahkan tidak tau dimana letak kesalahannya yang sebenarnya.
Setelah selesai minum, Anna menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan untuk menenangkan diri juga..