Dua tangan Della bergerak mengalung di tengkuk Erky saat lengan pria itu menarik pinggangnya merapat. Dalam satu hentakkan, Erky sudah berhasil mengangkat tubuh Della dan membuat posisinya berbalik.
Erky duduk di sofa, membawa Della dalam pangkuannya. Dua lutut Della mengurung pinggang Erky dengan dua tangan yang kini bergerak meremas helaian rambut kasar Erky, bersama ciuman yang tidak diberi jeda.
Dua tangan Erky bergerak mendorong ke atas bagian dress yang menutupi paha Della, membebaskannya sampai Della bisa membuka kakinya lebih lebar dan duduk tepat di atas pahanya. Tubuh mereka saling merapat, saling beradu dalam gerakan yang sama-sama tahu bahwa ... mereka saling menginginkan satu sama lain.
Della bisa merasakan tangan Erky mulai bergerak di tubuhnya, meraih pinggulnya, mengusap punggungnya, lalu... gerakan mereka terhenti ketika tangan Erky sudah beralih pada tangannya yang kini bergerak meraih butir kancing kemeja Della di bagian d**a.
Tidak ada gerakan lebih berarti dari tangan Erky ketika melihat Della diam saja. Namun, saat Della kembali merendahkan wajah untuk menciumnya, tangan Erky otomatis bergerak membebaskan butir demi butir kancing kemeja Della. Tidak seluruhnya terlepas, tapi mampu membuat kemeja itu hampir terbebas. Saat tangan Erky mengusap lembut pundak kemeja Della, bagian lengan kemeja itu merosot dan meluruh di satu sisi, menampakkan pundak putih yang terbuka.
Bibir Erky meninggalkan bibir Della, dan beralih untuk menyasar pundaknya, menciumnya, memberi jejak hangat yang membuat tubuhnya gemetar. Ciuman-ciuman kecil itu menggelitik di sepanjang pundak, bergerak sampai ke lekuk lehernya.
Dan "ky ...." Serak suara Della yang lirih terdengar karena bersamaan dengan itu satu tangan Erky bergerak pelan di bola bola nya.
Erky seolah tidak mendengar, wajahnya masih tenggelam di lekuk leher Della, memberi kecupan ringan dan lumatan-lumatan kecil sampai tangan Della tidak bisa lagi mencegah tangan Erky yang kini meremas pelan bola bolanya yang masih terbungkus.
"Ky ...." Ada seberkas kesadaran yang tersisa ketika tangan Erky hendak menyisip bungkusan dari bola bola itu.
Wajah Erky terangkat, mata sayu itu menatapnya, mengerjap lemah. "Kita akan berhenti di sini Kalau lo nggak mau." Mencoba menahan diri, Erky menarik tangannya perlahan, tapi dia lupa bahwa Della masih berada dalam pangkuannya, yang artinya dia bisa kehilangan kendali kapan saja saat pinggul Della bergerak lagi.
Della kalut, karena ketika tangan Erky meninggalkan tubuhnya, dia merasa ... kehilangan. Ketika wajah Erky menjauh, dia merasa kosong. Jadi, hanya selang beberapa saat, tidak membiarkan isi kepalanya berpikir terlalu banyak, dua tangan Della kembali mengalung di tengkuk Erky, jemarinya kembali tenggelam di antara rambut laki-laki itu.
Della kembali menjadi orang pertama yang mencium Erky. Sebuah persetujuan untuk melanjutkan apa-apa yang Erky akan lakukan padanya.
Satu tangan Erky menarik pinggul Della sampai tubuhnya duduk tepat di pangkal paha Erky. Ada erangan kecil yang terdengar frustrasi ketika Della menggerakkan pinggulnya di sana, terdengar asing, tapi menyenangkan.
Menyenangkan karena dia tahu, semua gerakan yang dilakukannya begitu mempengaruhi Erky.
Ciuman itu semakin tidak terkendali, Erky melumat habis, mengisap kencang setiap sudut bibirnya. Sementara tangan Erky sudah berhasil membuat kemeja kuning Della meluruh seluruhnya dan tergeletak di lantai. Dan sekarang, telunjuk Erky menyelip di antara tali bra di bahunya, menariknya turun melewati pundak, membiarkannya tersampir begitu saja di pertengahan lengan.
Erky bangkit, membuat Della memeluk erat tengkuknya agar tidak terjatuh dan memercayai tubuhnya yang kini diangkat untuk selanjutnya direbahkan di sofa. Erky melakukannya dengan hati-hati, tangannya menyangga pinggul Della dan kepala belakangnya sampai Della benar-benar mendapatkan posisi berbaring yang nyaman.
Setelah itu, Erky memosisikan tubuhnya di antara dua kaki Della yang terbuka. Tubuh itu kembali merapat, menindih tubuh Della yang berada di bawahnya. Bibirnya kembali memberi kecupan ringan di sepanjang pundak yang sudah terbebas dari tali-tali yang tadi menghalanginya, bergerak lebih rendah, Erky mengecup ringan bola bola Della.
Seperti sebuah rayuan, Erky tersenyum dan kembali mencium bibir Della dengan tangan yang kembali meremas bola bola nya pelan.
Della sulit mengendalikan diri ketika tangan itu benar-benar masuk, meremas bola bola nya yang masih terbungkus bra, menyentuh langsung sebagian kulit dadanya. Pinggul Della bergerak, dan erangan kecil Erky terdengar lagi.
Erky tiba-tiba menjauh, Erky berlutut untuk membuka sehelai kaos yang sejak tadi membungkus tubuhnya. Della bisa melihat bagaimana tubuh Erky yang setengah telanjang itu kembali mendekat. Satu tangannya kini mengusap d**a keras yang sejak tadi hanya bisa dirabanya dari luar.
Sungguh, ini menyenangkan. Lebih menyenangkan dari apa pun yang dibayangkannya.Tidak membiarkan itu terlalu lama, Erky membawa Della bangkit sesaat, hanya untuk melepaskan kaitan bra di punggungnya sebelum kembali merebahkannya di sofa.
Bibir Erky mencium bibirnya singkat, lalu bergerak turun mencium rahangnya, lekuk lehernya, dan berakhir mencium langsung kulit bola bolanya karena tangannya sudah berhasil membuka bra yang sejak tadi menghalanginya.
Della mendesah tanpa sadar saat bibir Erky mencium puncak bola bolanya, memberi lumatan kecil, mengulumnya pelan. Satu tangan Erky sudah berhasil menyisip ke balik celana dalam Della dan meningalkan jejak panas yang ... menyenangkan.
Erky tidak lagi menindihnya, tubuhnya memberi ruang agar tangannya bisa bergerak bebas di pangkal paha Della. Della merapatkan kaki, tapi Erky kembali menjauhkannya dengan lembut. Tangannya sudah mengait bagian atas celana dalam Della menurunkannya setengah.
Wajah Erky terangkat, pandangannya yang terlibat berkabut itu menatap Della lembut. Kembali dia bergerak ke atas, mencium kening Della, lalu wajah itu bergerak miring untuk mencium bibirnya. Bermain-main, kembali melumat bibirnya lagi, untuk mengalihkan perhatian pada tangan yang kini sudah menyelinap masuk ke dalam celana dalam.
Dan jemari itu, tepat menyentuhnya di sana.
Dan .... "ky ...." Suara Della tenggelam dalam ciuman, tapi Erky jelas mampu mendengarnya.
"Berhenti?" gumam Erky, suaranya begitu serak, dalam, dan ... lagi-lagi, Della menggeleng. Kembali menarik wajah itu mendekat.
Oke. Persetujuan kedua. Tangan Erky kembali menyentuhnya di sana, mengusapnya pelan. Basah, hangat, dan... gila. Erky menggerakkan jemarinya perlahan, mengusapnya naik-turun.
Erangan Della tenggelam dalam ciuman, tapi tentu tidak membuat Erky berhenti. Gerakan jemari Erky di tubuhnya semakin menggila, iramanya semakin cepat, sampai membuat Della menggumamkan namanya beberapa kali, tapi justru membuat Erky malah semakin berhasrat.
Dan Della mulai tidak bisa lagi mengendalikan diri di detik selanjutnya. Punggungnya melengkung kecil, jemari kakinya terasa kaku, dua tangannya mencengkram kencang rambut Erky. Karena seperti ada yang meledak di dalam tubuhnya, yang kemudian memberi gelenyar aneh dan geli, menyasar ke setiap sudut tubuh dan ujung-ujung jemari.
Setelah itu, tubuh Della terkulai. Dan kekehan pelan Erky terdengar saat mencium bibirnya.
Erky pun bangun dan langsung menurunkan celana nya, membebaskan yang disana sudah sangat keras .
Erky pun memposisikan kembali tubuh nya di atas Della..
"Del ..... "