PROLOG
Sekolah itu 90 % tempat belajar dan 10 % nya bermain, sedangkan rumah itu 50% tempat bermain, 30% beristirahat, dan 10 % nya baru belajar. Normalnya begitu. Namun, tidak dengan Yonathan, lelaki yang terobsesi dengan belajar itu memiliki kamusnya sendiri. Baik di rumah maupun di sekolah sama sekali tak ada beda, buku tidak pernah lepas dari genggamannya, entah ketika jam istirahat di sekolah, atau pun waktunya tidur pada malam hari, mungkin yang jadi pengecualian hanya ketika mandi saja. Syukurlah, setidaknya lelaki itu memiliki ruang untuk memikirkan persoalan hidup yang lain dalam waktu 30 menit per 1 kalinya.
Bagaikan tak ada waktu lain, sesampainya di rumah Nathan kembali membuka buku paket mata pelajaran yang ia pelajari di sekolah tadi, tentunya setelah melepas baju seragam dengan setelan yang lebih santai. Ketika orang-orang mengistirahatkan diri dengan tidur siang, berjalan-jalan di laman sosial media, atau mungkin ketika bukan b***k maya maka lebih memilih berjalan-jalan di taman atau berkeliling komplek. Sedangkan Nathan, anak ini baru merasa tenang kalau otaknya tidak berhenti berpikir, ia merasa dirinya lengkap kalau ditemani jutaan huruf dan angka di dalam bukunya.
Hidup Yonathan Aldebaran hanya berpusat pada satu tujuan, yaitu menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Nathan tidak ditakdirkan pintar, tapi ia memilih untuk menjadi pintar. Ia bukan si peringkat pertama yang hobinya tidur saat jam pelajaran tapi masih menguasai apa yang diterangkan, bukan juga yang hanya membaca sekilas tapi langsung mengingat segala yang dipelajari dalam satu semester terakhir, Nathan hanya seseorang yang perlu berusaha keras untuk setara atau bahkan melebihi mereka yang berkemampuan tanpa bersusah payah.
Bukan tanpa alasan, Nathan melakukan semua ini hanya agar dianggap keluarga oleh yang bukan keluarganya, keluarga Adhitama. Nathan memang diperlakukan baik, amat sangat baik, sampai-sampai Nathan merasa kalau mereka itu memang keluarganya, tapi tidak dengan anggapan orang lain. Nathan hanya tidak ingin dilihat jadi yang berbeda. Cukup kenyataan mengenai ia bukan keturunan Adhitama, tapi tidak dengan kemampuannya yang setara. Dengan begitu, semua orang akan beranggapan kalau Nathan memang pantas menjadi bagian dari keluarga Adhitama. Yonathan Adhitama, Nathan akan membuat nama keluarga itu selalu cocok untuk melekat pada nama depannya.
Bagaimana? alasan Nathan untuk memilih jalan hidup yang seperti ini cukup masuk akal, bukan? ah tidak, bukan hanya cukup, tapi sangat masuk akal dan pantas untuk dijalani.
Pandangan Nathan lurus ke luar jendela beberapa saat, sebelum akhirnya memilih untuk menutup bukunya dan berjalan ke arah pintu, lalu membukanya bersamaan dengan seseorang dari luar hendak masuk tanpa ijin.
Krik! krik!
"Apa?" suara Nathan terdengar begitu dingin.
Agas diam beberapa saat, lalu tawa memaksanya pun keluar, menyamarkan kegagalannya yang sama sekali tak mendapati keterkejutan dari Yonathan, seolah lelaki itu sudah meramalkan kedatangannya.
Bukan masalah, hal itu nyatanya tidak menyurutkan niat Agas. Ia nyelonong masuk ke dalam kamar, menghadap benda elektrik berbentuk persegi yang bukan miliknya, kemudian menyalakan mesin itu tanpa ijin. Kali ini ia berhasil membuat raut wajah Nathan berubah, apalagi ketika Agas mengunduh sesuatu di komputernya, jelas saja Yonathan ingin sekali menghentikan perbuatan itu, tapi terhalang oleh siaran langsung yang tengah berlangsung, tidak mungkin Yonathan marah-marah di depan kamera yang menyala.
"Welcome to The Destination of Legacy."
Sebuah laman permainan kini terpampang pada layar komputer milik Yonathan, sesuatu yang tidak pernah sekalipun lelaki itu sentuh, apalagi sampai membuatnya tinggal di dalam komputer miliknya, benda yang hanya ia gunakan untuk kepentingan dalam pembelajaran. Yonathan hampir tidak bisa menahan amarahnya, ia melampiaskan kekesalan itu pada kedua telapak tangannya yang mengepal kuat.
Sampai akhirnya Agas benar-benar membuat ulah.
"Nat, lo temen gue, 'kan?" Agas menatap mata temannya itu begitu serius, "plis, sekali ini aja."
Agas bergegas, meninggalkan game MOBA (multiplayer online battle arena) yang tengah berlangsung maka secara otomatis memindahalihkan tanggung jawabnya pada seseorang yang bahkan tidak tahu-menahu sedikit pun mengenai dunia permainan online, apalagi semacam Arena pertarungan daring multipemain yang tentu saja bukanlah sesuatu yang bisa dimainkan oleh pemain yang tanpa ilmu.
"Sus scrofa domesticus!"
Mau tak mau Yonathan pun akhirnya terduduk menghadap layar komputernya, penampilan laman yang sebelumnya tidak pernah ia lihat secara langsung dan begitu dekat seperti sekarang ini.
"Itu tongkatnya pakek."
Hening.
Yonathan berhenti menggerakkan mouse, sepertinya ia mendengar sesuatu yang tak bisa dikatakan biasa. Setelah beberapa detik matanya berkeliling memerhatikan sekitar, ia pun hendak kembali menjalankan misi, tapi yang terjadi adalah seonggok wajah memenuhi layar komputer.
"Jangan lari-larian doang, b**o!"
Glek!
Tubuh Yonathan terhempas ke atas kasur saking terkejutnya, ditambah napas yang tak beraturan juga otot-ototnya yang tegang membuat lelaki itu gemetaran.Gawat! Yonathan bahkan tidak pernah memulainya, ia hanya melanjutkan apa yang tidak pernah ingin ia mainkan, tapi secara tidak adil Yonathan harus menyelesaikannya. Pilihannya ada dua, selesaikan permainan, atau hidupnya lah yang akan selesai.
~ End Prologue ~
Hai ... Welcome in my story? ini cerita fantasi pertama yang aku bikin, bukan cuma itu ... tapi bakal ada aksi, juga petualangannya huhu semoga lancar jaya yaa dan tentunya kalian juga enjoy di sini❤
Jangan lupa ikuti saya di i********: @lovelyliy_