Terjadi keanehan

1379 Kata
Happy Reading . . . "Hai, Guys. Balik lagi di channel gue ... Ganteng-Ganteng Gamers. Woooo ..." Pssst! Agas segera mendesis, menyudahi slogan pembukaannya yang terbilang rusuh atau konten 'gerebek ngegame'--konten terbaru yang ia buat di saluran Youtube miliknya akan gagal total. Pasalnya, niat terselubung dari kontennya ini adalah melihat ekspresi terkejut dari orang yang rumahnya akan dijadikan tempat Agas bermain game. "Berhubung tema konten ini baru mau gue bikin, alias first time nih jadi gue milih temen sekelas senadi gue buat jadi orang pertama." Agas tergelak, ia tak bisa menahan tawanya sampai beberapa detik sebelum akhirnya ia segera berdesis, kembali menyadari keberadaannya sekarang yang sudah berada di depan rumah target. Santi Asyah temen sekelas senadi? ? Harun Dimas temen lu yang mana dah Yakaligakuy spill dungg Untuk menjawab pertanyaan para penonton di siaran langsungnya, Agas pun mengubah posisi kamera--menjadi kamera belakang agar menyorot ke arah depannya. "Kalian gak bakal tau. Dia gak pernah muncul di konten gue. Eittt, jangan salah paham!" sanggah Agas segera, sebelum muncul komentar yang memojokkan dirinya. "Bukan gue yang gak ngajak, tapi emang anaknya tuh anti sosial hahaha eh," kembali memelankan suaranya yang tak sengaja lepas. "Makanya ini konten gerebek ngegame gue jadiin dia target woy biar tau rasa tuh anak gak bisa nolak." Istri Sahnya Iqbal salfok sama rumahnya dong woy? Ikatancintalovers itu rumah apa istana ? Reyna Naura pantes gamau diajak ngonten brohh, horang kaya Psst! "Diem, bisa? gue mau masuk gak jadi-jadi ini hehe canda gajadi. Haiyokk kita langsung gas aja." Setelah melewati beberapa orang di berbagai pintu, mulai dari gerbang sampai ke pintu rumah, akhirnya Agas sampai juga di depan pintu kamar berwarna putih tulang. Dengan wajah sumringah, ia sudah mengambil kuda-kuda untuk mengejutkan penghuni yang ada di dalam sana, tangannya pun sudah bertengger pada engsel. "Nath-eh, eehhh ... than ..." Secara bersamaan, seseorang dari dalam manarik pintu dan lantas saja membuat tubuh Agas tertarik secara keterlaluan, terlebih lagi satu tangannya yang lain direpotlan dengan ponsel maka Agas tak bisa lebih kuat dari yang tenaganya lebih siap. Krik! krik! Yonathan Adhitama, wajahnya terlihat begitu dingin tanpa ekspresi. "Ngapain?" Bukannya membuat terkejut, yang ada di sini malah Agas sendiri yang dibuat tertekan. Namun, bukan Agas namanya kalau tidak bisa mencairkan suasana. "Ini orangnya." Agas merangkul Nathan yang notabene lebih tinggi darinya, membuat lelaki itu terpaksa merendahkan tubuhnya. "Ini temen yang gue maksud," sambung Agas lagi, berbicara di depan layar ponselnya yang tengah melakukan siaran langsung melalui akun f*******:. Jangankan permisi, bahkan sekarang Agas sudah melengang masuk ke dalam kamar mendahului Sang Pemilik. Lagi-lagi tanpa ijin, lelaki itu menyalakan komputer milik Nathan lalu mengunduh sesuatu di sana. "Heh ..." "Wooo!" Agas kembali rusuh di depan layar ponselnya yang sekarang sengaja ia arahkan tepat di depan wajah Nathan. "Kalian liat 'kan barusan? dia kaget hahaha, yes berhasil." "Lo itu sebenernya mau ngapain, sih?!" "Mau ngapain, Guys?" Agas melemparkan pertanyaan yang Nathan tujukan padanya kepada para penggemar. Kekeyi Cantika Putri gerebek ngegame Fahmi Muhammad gerebek ngegame Exofans gerebek ngegame Twinkle Twinkle Little Star gerebek ngegame "Gerebek ngegame!" pungkas Agas kemudian, menyuarakan keterangan yang para followersnya beri tahukan melalui komentar yang bermunculan. "Jadi di sini gue bakal ..." "Welcome to The Destination of Legacy." Mendengar suara khas permainan, Agas pun menoleh ke arah di mana suara itu berasal, menampilkan layar komputer yang sudah berada di laman game online. "Sus scrofa domesticus!" Kepala Agas kembali berputar ke suara yang berasal dari Nathan, sebutan yang selalu temannya sematkan padanya kalau sedang kesal walaupun ia tidak pernah tahu artinya dan ketika bertanya pun Nathan malah menyuruhnya mencari tahu sendiri. Daripada bersusah payah maka Agas memilih untuk tidak ambil pusing, toh ia juga sadar kalau memang dirinya lah yang sering mencari gara-gara pada temannya yang super tenang. "Di gerebek ngegame ini gue bakal dateng ke rumah orang, dan maen game di sana. Seperti sekarang ini, haha selamat Kawanku, kamu jadi orang pertama di konten terbaruku ini." "Tapi kenapa orang itu harus gue?!" "Welcome to The Destination of Legacy." Suara itu kembali mencuat, pertanda kalau permainan sudah segera ingin dimainkan. Klik! Agas menekan tombol start, tapi bersamaan dengan itu muncul sebuah panggilan pada ponselnya, membuat siaran langsungnya terjeda. Sepenting apapun panggilan itu, para youtuber lain pasti akan memilih untuk mengabaikannya dulu karena ia tengah di dalam acara yang seharusnya menjadi jauh lebih penting untuk diselesaikan terlebih dulu, tapi tampaknya tidak dengan Agas. "Nat, lo temen gue, 'kan?" Agas menatap mata temannya itu begitu serius, "sekali ini aja, plis gantiin gue." Lelaki itu tak hanya mengabaikan tugasnya sebagai seorang pemilik acara, tapi juga memilih untuk menyudahi acaranya secara sepihak hanya untuk mendatangi orang yang berada di balik sambungannya dan meninggalkan apa yang seharusnya ia selesaikan. "A-apa?" sontak saja Nathan terkejut bukan main, sedangkan Gas sudah bergerak jauh dari jangkauannya. "Agastya Wisesa, Woy!" Lelaki itu semakin menjauh, tak memedulikan panggilan Yonathan. "Sus scrofa domest ..." Bukannya membuat Agas kembali, suaranya itu malah menggema di seluruh bangunan rumahnya, membuat hampir seluruh penghuni rumah bermunculan satu per satu. "Ada apa, Nat? kamu manggil siapa?" "Gak papa, Ma." Yonathan kembali ke kamar. Selain murid yang baik, Yonathan juga merupakan teman yang tak punya hati meskipun kesannya seringkali terlihat dingin tapi ia merupakan sosok yang hangat. Alasan mengapa Agas bisa berlaku demikian karena memang Yonathan memiliki sisi yang bisa dimanfaatkan. Maka tak mau Yonathan akhirnya terduduk menghadap layar komputernya, berhadapan dengan laman yang sebelumnya tidak pernah ia lihat secara langsung dan begitu dekat seperti sekarang ini. Tangannya masih mengambang di udara, seolah hendak melakukan sesuatu yang begitu berat. Matanya terpejam beberapa saat dan kembali terbuka bersamaan dengan tangannya yang kini sudah memegang mouse, benda yang akan menjadi penyalur pergerakan. Klik! Yonathan menekan salah satu item kartun, tanpa ia tahu kalau ia sudah memilih hero yang akan ia pakai untuk bermain. Ia menyadarinya setelah berlanjut ke tahap berikutnya, yang di mana ia tak bisa kembali ke menu sebelumnya selain hanya terus berlanjut saja. Mulai dari memilih hero, s*****a, arena, dan permainan pun dimulai. Untuk pertama kalinya Yonathan mengoperasikan sesuatu yang sama sekali tidak memiliki manfaat untuk menaikkan nilai akademiknya. "Cuma sekali ini, Nathan. Cuma sekali." Yonathan tak berhenti melafalkan kalimat itu hanya untuk membuat rasa jengkel pada hatinya sedikit berkurang, toh ia hanya perlu bergerak-gerak tak jelas saja sampai durasi habis. "Jangan lari-larian doang, Begok!" Yonathan mengernyit. Ia diam beberapa saat karena merasa seperti mendengar suara. Hening. Tak mendapati kebenaran itu, Yonathan pun kembali terfokus menjalankan hero miliknya. Seperti niatnya, tak ada yang Nathan lakukan selain hanya menunggu waktu habis. "Itu tongkatnya pakek." Deg! Untuk yang kedua kalinya suara asing itu kembali terdengar. Tidak, Yonathan tidak mungkin salah dengar. Meski tubuhnya sama sekali tak bergerak, tapi matanya sibuk mengedar ke segala sudut. Nihil. Tak ada satu pun yang janggal. "Wooyyy!!" "Whoaaaa ..." Yonathan terperanjat. Saking terkejutnya, tubuh Yonathan sampai terbanting ke atas ranjang. Bagaimana tidak, seonggok wajah terpampang nyata memenuhi layar komputer miliknya. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, dengan tubuh yang gemetaran ia berusaha mempertahankan kesadarannya. "Neil deGrasse Tyson, seorang astrofisikawan mengungkapkan bahwa suara dengan frekuensi 18Hz dapat menggetarkan struktur dari bola mata manusia. Jadi, kalau kita mendengar suara dengan frekuensi serendah itu, akan mempengaruhi penglihatan kita. Seperti misalnya, kita seakan-akan melihat “sosok makhluk” dari sudut mata kita." Yonathan memaparkan penjelasan hantu dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang juga menjadi acuannya dalam hidup. Secara perlahan matanya kembali terbuka, tapi sama sekali tak ada yang berubah, layar komputernya masih menampilkan sosok yang ia pikir hanya halusinasi saja. Itu berarti, yang di depannya saat ini adalah benar-benar ... tunggu! "I-itu ..." Yonathan bangkit, sambil terus mengucek matanya yang mungkin saja bermasalah. "Ayok, main." "Eh, ..." Bukan, itu bukan hantu. Rambut berwarna pink menyala, mana mungkin hantu memiliki waktu untuk mengecat rambutnya? bukankah mereka hanya akan menghabiskan sisa waktunya hanya untuk menyesal saja, bukan malah masuk ke dalam layar komputernya semacam ini. Luang sekali. Yonathan mengembuskan napasnya lega, pengetahuan dari buku yang ia baca memang tidak pernah salah. Mana mungkin di dunia ini ada hantu? tahayul. Kalau begitu, siapa yang bisa menjelaskan fenomena di hadapannya, sekarang? Lelaki itu kembali tercekat. Ketika hantu adalah sosok tak kasat mata, yang jika keberadaannya memang pantas untuk tidak dipercayai, lalu apa hukumnya untuk sesuatu yang bisa matanya lihat? pasalnya itu adalah karakter yang ada di dalam sebuah game, tidak seharusnya bergerak sendiri bahkan bicara seperti hidup. Bisakah seorang ilmuwan menjelaskan hal ini? To be continue ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN