Happy Reading ...
Hampir 6 tahun menjalani kisah romantis--sejak MOS pada saat SMP, cinta monyet yang bertumbuh serius--Agas hampir saja mengacaukan segalanya karena melupakan hari di mana yang seharusnya tidak pernah ia lewatkan. Untung saja komentar salah satu penonton live streaming-nya kemarin ada yang menyinggung soal ibu negara, lantas saja membuat Agas segera menyadari kenyataan kalau hari itu ia harus berada di suatu tempat, walau pada akhirnya ia mengorbankan konten terbaru yang seharusnya diunggah pada saat itu juga menjadi mundur yang entah sampai kapan.
Masalah rumah tangga berhasil diatasi, Viona yang kemarin sempat merajuk karena keterlambatan Agas, kini sudah menebar senyum manisnya lagi. Keduanya sudah kembali lengket. Begitu tak tahu dirinya seorang Agas, ia bahkan tidak menyadari ketiadaan Yonathan di sekolah itu merupakan ulahnya. Ya, untuk pertama kalinya Yonathan tidak masuk sekolah.
Kalau diibaratkan, hanya kematian lah satu-satunya penghalang yang bisa membuat seorang Yonathan untuk belajar, terlebih lagi sekolah memang tempat yang khusus untuk itu. Lantas sekarang, apa yang membuat Yonathan memilih untuk tidak berada di sekolah? apa lelaki itu benar-benar mati, seperti perumpamaan yang disebutkan? tidak, bahkan kematian saja sepertinya tidak cukup, murid secerdik Yonathan pasti tahu bagaimana cara mengatur waktu, setidaknya lelaki itu tidak akan mati konyol.
"Apa salahnya bolos sekali? Nathan juga manusia, 'kan?" pikir Agas, ia memang teman yang penuh pengertian.
"Gas!"
"Gas, Gas, Gas ..." Viona yang mendengar sebutan itu pun segera menggerutu, "emang pacar gue kompor gas?"
"Sori, tapi pacar lo gak lucu."
Hening.
Otak Viona berputar, memikirkan lawakan macam apa yang dilontarkan teman sekelasnya itu.
"Itu loh, kompor gas yang suka dipakek komentar buat stand up comedy."
Krik! krik!
"Apasih, garing! kalo ngelucu itu yang bener dong."
"Ck! emang gue ke sini buat ngelucu? orang gue mau nyamperin si Agas." Rafan melewati tubuh mungil gadis itu, menghampiri sosok yang berada di belakangnya.
"Gas ..."
"A-gas, Fan, A-Gas ish ... lo tuh ya!?"
"Hihh ribet banget sih manggil doang juga."
"Apanya yang ribet? tinggal tambahin 'A' doang. Elo tuh ...."
Deg!
Celotehan Viona terhenti drngan pergerakan Agas yang tanpa terduga, lelaki itu tiba-tiba berada sangat dekat.
"Bagus, gak?"
Mata Viona bergerak ke arah yang ditunjukkan, sebuah benda berwarna emas kini telah menggantung di lehernya. Kalung dengan gantungan huruf A dan V, inisial si pemberi dan si penerima hadiah.
"Maaf baru kasih sekarang, kemarin ...."
"Makasih." Viona memeluk Agas.
Pemandangan yang terlampau manis antar dua sejoli ini memang sudah menjadi langganan gratis di kelas, bahkan hubungan keduanya sudah diketahui sampai seluruh penghuni sekolah sampai kepada guru-gurunya. Bukan dibiarkan, dulu mereka sempat dirajia, dipaksa putus oleh guru Bp, tapi siapa sangka kalau selama itu mereka berdua hanya putus bohong-bohongan. Sampai akhirnya sekarang sudah duduk di kelas 12, beberapa bulan menjelang kelulusan yang mana bisa dicegah lagi selain hanya diberi pemakluman.
"Terpesona ... aku ... terpesona ... melihat, melihat wajahmu ..." muncul suara seseorang bersenandung, seolah menjadi pengiring latar belakang lagu untuk adegan yang terlampau manis.
"Berisik, Ego!" protes Raffan pada si pemilik suara, "suara bagus si mending, ini suara kayak kambing lagi lahiran juga masih pede aja."
"Emangnya gue niat nyanyi? orang lagi nyindir," balasnya kemudian, secara bersamaan menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan 2 manusia yang mungkin beranggapan dunia ini hanya milik berdua.
"Gas ..."
"Ck! lo tuh ya, gak bisa banget liat orang hepi?!"
"Kalian berdua kan hepi mulu, bosen gue liatnya. Ah, minggir Neng," menyalip Viona, membuatnya sekarang berada di tengah-tengah antara Viona dan Agas. Terbayang kah jarak Rafan dan Agas sekarang sedekat apa?"
"Bukannya ..."
"Jauhan dikit, napa?!"
"Lo mau si Viona denger? okee ..." Rafan membuat jarak, "bukannya kemaren ..."
Agas berubah pikiran, sekarang ia yang menghimpit ke arah Rafan yang bahkan hampir tak ada jarak, untung saja tubuh Rafan jauh lebih tinggi, kalau tidak maka pergerakan mendadak Agas itu akan membuat bibir keduanya saling bersentuhan.
"Nathan, bukannya kemaren lo ke rumah dia?"
"Terus?"
"Ya terus kenapa sekarang dia gak masuk?"
"Lah kan gue ke rumah dia nya kemaren, bukan sekarang. Ya mana gue tau."
"Yakin?"
Hening.
Sepertinya Agas mulai mengingat kalau ada pengorbanan seorang teman di balik baik-baiknya hubungannya dengan Sang Pacar.
"Yaudah kalo gitu ..."
"Fan!" panggilan Agas membuat Raffan kembali menoleh, "kemaren Nathan gue minta lanjutin main game."
Raffan mengernyit, "game?"
Agas mengangguk, wajahnya pun sekarang beralih serius. "Apa jangan-jangan sekali maen dia langsung kecanduan gitu, ya?"
"Bangsul!" rutuk Raffan, "gue kira apaan," mengelus-elus d**a. "Ada juga dia gak bisa maenin game nya. Lagian lo ngada-ngada ya, kalo lo turun level gimana?"
"Ya mending, daripada putus."
"Apa hubungannya?"
"Ceritanya panjang. Lagian lo ngapain si nanyain Nathan? tumben-tumbenan, biasanya juga kayak Kucing sama Anjing."
"Kepo itu gak berarti peduli, lo tau?" Raffan menampilkan senyum smirk-nya, "sering-sering absen dah, biar gue bisa nyusul nilainya."
"Sebelum bisa ke Nathan, lo harus lewatin gue dulu keles. Enak aja." Viona kembali nimbrung, membuat kedua cowok yang ada di dua sisinya kembali merasa harus membatasi obrolannya.
"Bukannya kamu mau bikin konsep buat ..."
"Ah iya!" Viona memukul pelan keningnya, "hampir lupa."
Setelah Viona kembali fokus dengan urusannya, dengan segera Agas pun menarik Raffan keluar kelas. Tak sampai di situ, ternyata Agas menarik Raffan sampai ke parkiran, tempat di mana motornya berada.
"Mau ke mana, Ego? bentar lagi masuk."
"Ke rumah Nathan. Ayo naik."
"Gue? ikut? ngapain?"
"Gue punya firasat buruk."
"Ck! udah kayak emak-emak pakek firasat-firasatan segala."
"Gue serius, Raffan."
"Tinggal telpon."
"Lo pikir dari tadi pagi gue gak berusaha buat hubungin dia?"
Hening.
"Hih, lama."
Tanpa menunggu lagi, Agas pun tancap gas sebelum gerbang sekolah benar-benar ditutup. Sedangkan Raffan masih memaku di tempatnya, menatap punggung Agas yang kian menjauh.
15 menit berlalu, kini Agas sudah berada di depan rumah yang kemarin ia datangi. Tidak sulit untuk Agas masuk ke dalam karena mulai dari satpam sampai ke tukang kebun dan bahkan para asisten rumah tangga, Agas sudah dikenali.
"Loh, Agas ..." wanita itu menggantung kalimatnya dengan melihat ke arah jam, "kamu nggak sekolah?"
"Sekolah kok, Tan. Lagi istirahat hehe."
"Emm, gitu. Nathannya mana? gak ikut ke sini? ah, anak itu mana mau pergi sebelum bel pulang."
"Nathan sekolah, Tan?"
Mama Nathan mengernyit bingung, "maksud kamu ..."
"Ma-maksud saya Nathan ada di sekolah, Tan. Padahal udah saya ajakin tapi gak mau, yaudah saya ke sini buat salim sama Tante, lumayan ngabisin waktu istirahat yang lama banget. Kalo gitu saya ke sekolah lagi ya, Tan. Mari."
Hampir saja Agas membuat temannya berantakan, bagaimana jadinya kalau Mama Nathan tahu Nathan tidak ada di sekolah? Agas hampir tidak bisa membayangkannya. Jangankan bolos, sejak ia mengenal Nathan, cowok itu bahkan tidak pernah sekali pun berpaling dari buku pelajaran. Menjadi kaya raya memang tidak sepenuhnya membahagiakan, pasti ada banyk tuntutan di dalamnya. Tahu begini, Agas bersyukur lahir di keluarga yang biasa-biasa saja. Tapi sekarang masalahnya adalah di mana Nathan sebenarnya?
***
"Sejam, Bang!" ujar seorang anak berseragam SMP pada lelaki dewasa yang berada di depan komputer utama.
"Nomer 13."
Mendengar itu, si anak pun segera melengang masuk, mencari komputer sesuai dengan nomor urutan yang telah disebutkan. Bersamaan dengan itu, seseorang lain bersuara untuk menambah waktu pemesanan.
"Yah, Bang ..." desah si anak berseragam SMP karena orang yang memperpanjang waktu adalah orang yang menempati komputer yang hendak ia datangi.
"Sini, sini!" Abang penjaga warnet melambaikan tangannya, "tunggu setengah jam lagi di nomor ..."
"Gabisa gitu dong, Bang."
Dengan penuh kekesalan anak itu tetap berjalan ke tempat di mana seharusnya ia berada. Segala sesuatu harus sesuai dengan aturan, meski orang itu sudah lebih dulu berada di sana, tapi tetap saja ia punya hak yang lebih dari itu karena memesan di saat di mana waktu milik orang itu sudah habis. Kalau mau tambah jam, maka lakukan setelah dirinya selesai. Begitu cara mainnya.
Brak!
"Keluar, nggak?!"
"Ada masalah apa?"
Seketika keberaniannya menciut, anak itu menyerah dengan mudah.
"Gue bilang apa, tunggu setengah jam lagi."
"D-dia siapa emangnya? kok gue nggak pernah liat."
"Gue aja baru liat, tapi dia di sini udah dari pagi."
Tidak terganggu. Dengan lingkaran hitam di kedua area matanya, Yonathan kembali melanjutkan apa yang menjadi kepentingannya.
Arena pertarungan daring multipemain (bahasa Inggris: multiplayer online battle arena, MOBA, yang juga dikenal dengan nama action real-time strategy atau yang disingkat ARTS), adalah sebuah subgenre dari permainan video strategi yang bermula sebagai subgenre strategi waktu nyata. Dalam permainan ini seorang pemain mengendalikan satu karakter dalam sebuah tim yang bertarung melawan tim pemain lainnya. Tujuannya adalah menghancurkan struktur utama tim lawan dengan bantuan unit-unit yang dikendalikan oleh komputer.
Genre ini dipelopori oleh Aeon of Strife (AoS) dalam custom game dalam permainan StarCraft yang terdiri dari empat pemain yang tiap-tiap pemainnya mengendalikan satu unit dan dibantu oleh unit-unit yang dikendalikan komputer untuk melawan komputer yang lebih kuat. Custom game Defense of the Ancients (DotA) dalam permainan Warcraft III: The Frozen Throne kemudian menjadi permainan bergenre MOBA pertama yang dikenal secara luas dan juga menjadi ajang turnamen. Dikeluarkanlah permainan Thr Destination of Legacy, League of Legends, dan Heroes of Newerth yang terinspirasi dari DotA, dan sekuel DotA di luar Warcraft III yang disebut Dota 2, serta permainan-permainan lain, seperti Heroes of the Stormdan Smite.
Hampir seharian ia di sini, informasi mengenai permainan yang hendak ia cari tahu seluk-beluknya hanya seputaran itu saja. Tanpa ada satu pun yang menjelaskan kejanggalan yang Nathan alami. Karakter di dalam game yang bergerak dan berbicara sendiri. Sungguh, Yonathan sendiri tahu kalau hal itu tidak mungkin terjadi, tapi kenapa ia masih bersi keras untuk mencari penjelasan yang tidak mungkin ada penjelasannya.
Lebih dari 24 jam Yonathan terjaga dengan kesibukkan yang yang tak ada sedikit pun manfaat untuk garis kehidupan, sampai akhirnya Yonathan tak bisa bertahan lagi, penglihatannya mulai berawan, sedikit demi sedikit semakin memburam lalu gelap. Kesadarannya hilang. Yonathan tertidur di atas keyboard, di depan layar komputer yang masih menyala.
To Be Continue ...