Beberapa saat sebelumnya. Sore menjelang, cuaca pegunungan tak ada bedanya seperti di pagi hari. Dingin kembali menusuk sehingga Arumi pun enggan untuk membersihkan diri. Tak hanya itu, badannya menggigil disertai mual yang tak biasa. Arumi merasa dejavu dengan keadaan ini. Setelah berulang kali pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya, Arumi pun memutuskan merebahkan tubuh di sofa. Ia meminta bi Yani untuk dibuatkan teh manis panas serta meminta bantuan pijitan di kepalanya. Namun, begitu. Baru saja diam beberapa saat, rasa mual itu kembali datang bahkan dia merasa tak suka dengan aroma tubuh bi Yani. Bi Yani yang memperhatikan Arumi sejak pagi menduga-duga bahwa mungkin tuannya itu tengah hamil. Tanpa meminta pendapatnya dulu, ia langsung menghubungi Vera. "Ya, Bi? Ada ap

