Arumi masih diam terpaku. Ia merasa disambar petir di siang bolong. Kehamilan bukan yang ia inginkan saat ini. Hal ini hanya akan membuatnya terjebak ke dalam masalah baru. Jika Arumi benar-benar hamil, Reza tak bisa menceraikannya. Selain karena agama melarang, Reza pun membutuhkan ini untuk kesempatannya. Lalu jika Arumi terus melanjutkan hubungan dengan Reza, janin yang dikandungnya akan diambil oleh Vera sesuai perjanjian. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Arumi berjalan ke depan cermin meja riasnya. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri. Tenang, itu belum pasti. Bisa jadi aku hanya masuk angin biasa. Tak lama Sara kembali. Dengan wajah ceritanya ia menghampiri Arumi. "Gimana masih mual?" tanya Sara. "Sedikit, Bu." "Gak apa-apa, itu

