Langkah mereka menuruni tebing menuju sungai berubah menjadi perjuangan melawan rasa lelah. Udara di sekitar masih membawa sisa dingin dari kabut, seperti napas yang menempel di kulit. Sungai itu mengalir deras, memantulkan cahaya bulan pucat yang menggantung di atas pepohonan. Elias melangkah lebih dulu, memeriksa batu-batu di tepi sungai untuk mencari jalur menyeberang. Sepatunya licin karena lumpur, dan suara arus yang bergemuruh membuatnya sulit mendengar percakapan di belakang. Aren mengangkat wajahnya, memperhatikan hutan di seberang. “Kalau kita ikuti aliran ini ke selatan, kita akan sampai ke jalur lama menuju Aetheria. Lebih cepat daripada memotong langsung hutan.” Selena menggeleng. “Jalur itu terbuka. Kalau kabut berbelok, kita akan terjebak di ruang terbuka lagi. Aku tidak m

