Kabut di Dataran Orven tidak lagi sekadar menyelimuti tanah, ia hidup, bergerak, dan bernafas. Gelombangnya naik-turun seperti ombak, berdesir melintasi tanah dengan kecepatan yang tak masuk akal. Udara menjadi dingin menusuk, dan setiap tarikan napas membuat paru-paru terasa berat. Elias memimpin di depan, pedangnya masih terangkat, seolah siap menebas kabut itu meski tahu percuma. Selena di belakangnya, wajahnya pucat, terus melirik ke belakang. Di balik kabut, siluet-siluet tinggi menyerupai manusia mulai terbentuk, lalu pecah kembali menjadi gumpalan asap, seakan mengejek mereka. “Elara! Seberapa cepat kabut ini bisa menyusul kita?” teriak Aren sambil memanggil dinding batu untuk menghalangi gelombang pertama. Elara tidak menjawab, ia sedang memegang kepalanya, matanya kosong, pu

