Langit di atas lembah Aerenth gelap pekat, walau belum malam. Awan-awan hitam berkumpul seperti dinding penyesalan yang menggantung di atas dunia. Kael dan Elya berdiri di pinggir tebing, memandangi reruntuhan yang tersembunyi di antara kabut: Sanctum Arkanis, kuil kuno yang dikatakan menyimpan ingatan para jiwa lama.
"Di sana… tempat di mana kekuatan jiwa pertama kali dipisahkan dari tubuh kita," kata Kael pelan.
"Aku masih tak percaya tempat ini nyata," Elya menatap bangunan itu. "Legenda mengatakan siapa pun yang masuk akan dihadapkan pada bagian terdalam dari dirinya sendiri."
Kael menarik napas dalam.
"Mungkin… itulah yang kita butuhkan."
Mereka menuruni lembah, menyusuri jalur sempit berbatu. Setiap langkah seolah menggiring mereka ke dalam pusaran emosi masa lalu. Seolah dunia itu sendiri memaksa mereka untuk mengingat, bukan hanya cinta, tapi luka, rasa bersalah, pengorbanan, dan kehilangan.
Saat mereka melangkah ke dalam kuil, udara berubah drastis. Hangat, lalu dingin, lalu hening seperti ruang kosong di antara mimpi dan kenyataan.
Di tengah ruangan utama, terdapat cermin raksasa, berdiri tegak seperti gerbang antara waktu dan realitas. Cermin itu tidak memantulkan bayangan mereka, melainkan masa lalu.
Kael melihat dirinya, tapi bukan dirinya yang sekarang.
Ia melihat Revan, di dunia sebelumnya. Duduk di sudut ruang kelas. Tatapan kosong. Hujan deras. Gadis di luar jendela.
Lalu...
Pelukan terakhir. Jeritan Ayla. Darah. Cahaya. Hampa.
Kael mundur selangkah, dadanya sesak.
Elya juga terpaku. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.
Ia melihat dirinya, Ayla, melayang di atap sekolah, memperhatikan Revan. Rasa penasaran. Rasa cinta. Dan akhirnya, pengorbanan.
"Aku… takut," bisiknya.
Kael mendekat, menggenggam tangannya.
"Kau tidak sendirian lagi."
Dari dalam cermin, cahaya menyala. Dua titik cahaya keluar perlahan, melayang menuju mereka, masing-masing masuk ke d**a mereka.
Tubuh Kael bergetar. Sebuah gema kekuatan lama terbangkit dari dalam.
Sihir jiwa api dan cahaya.
Sedangkan Elya, matanya membesar saat cahaya masuk ke tubuhnya, dan aura bulan serta bayangan lembut muncul dari kulitnya.
"Aku ingat semuanya..." kata Elya, suaranya bergetar.
"Begitu pula aku," tambah Kael. "Dan aku tahu siapa dia..."
Suara berat menggema dari belakang.
"Akhirnya kalian ingat."
Sosok berjubah hitam itu muncul kembali, kali ini tanpa kabut. Wajahnya perlahan terlihat. Kulit abu pucat, rambut perak panjang, dan mata berwarna abu kehijauan yang pernah penuh harapan kini penuh dendam.
"Kalian pernah menyebutku saudara."
Kael terbelalak.
"Noct"
"Jangan panggil aku dengan nama itu," potongnya. "Namaku sekarang hanya bayangan dari kalian."
Elya bergumam, tubuhnya melemas. "Dia… adikmu?"
Kael mengepalkan tinjunya. "Di kehidupan pertama kami, dia murid berbakat. Tapi karena kami jatuh cinta dan kekuatan kami menyatu, dia kehilangan tempatnya… dan..."
"Dan kalian melupakanku." Noct mengangkat tangan, aura kegelapan menyelimuti langit kuil. "Kalian tak tahu apa yang rasanya menjadi terlupakan."
"Kami tidak pernah berniat"
"Tapi tetap melakukannya."
Cahaya dan bayangan mulai bertabrakan. Kael bersiap membentuk lingkaran sihir pertahanan, tapi Noct hanya mengangkat satu jari dan semua kekuatan di sekelilingnya menghilang, terserap masuk ke pusaran di tangannya.
"Di masa ini, kalian bisa saja kuat. Tapi di sini aku adalah penguasa." Noct tersenyum dingin. "Kita akan bertemu lagi ketika kalian siap menghadapi siapa kalian sebenarnya."
Dalam sekejap, dia menghilang.
Hening.
Elya jatuh terduduk, napasnya tercekat.
"Kael… aku merasa… semua ini jauh lebih rumit dari yang kita duga."
Kael menatap langit kelabu yang baru saja tenang.
"Aku tahu. Ini bukan hanya soal cinta kita. Ini soal sesuatu yang lebih tua. Lebih dalam."
"Kita harus mencari kebenaran itu," ujar Elya.
Kael memegang tangan Elya erat.
"Apapun yang terjadi, jangan lepaskan aku."
"Tidak akan."
Mereka berdiri di tengah kuil tua itu, berdua, dengan kekuatan yang mulai bangkit dan masa lalu yang kini mulai lengkap. Namun misteri baru muncul.
Apa sebenarnya asal kekuatan mereka? Dan bagaimana peran Noct dalam semua itu?