Penjaga Waktu

751 Kata
Kabut di sekitar kuil Sanctum Arkanis belum juga surut. Namun langkah Kael dan Elya tak goyah. Mereka telah mendapatkan kembali kekuatan lama mereka. Api dan cahaya di sisi Kael. Bulan dan bayangan mengalir dalam napas Elya. Kini, yang mereka cari bukan lagi kekuatan, melainkan kebenaran yang selama ini terkubur dalam waktu. Lorong batu tua yang berkelok menuntun mereka menuju sebuah ruang melingkar di jantung kuil. Dindingnya penuh ukiran, bukan sekadar simbol, tapi cerita. Tiga sosok tergambar di sana. Satu bercahaya, satu kelam seperti malam, dan satu lagi berdiri di tengah. Diam. Menatap waktu. Di tengah ruangan itu berdiri seorang asing. Atau bukan asing. Karena begitu mereka melihatnya, seolah waktu sendiri berhenti. Sosok itu tak bisa disebut muda, tapi juga tak tua. Berjubah putih keperakan, rambutnya panjang dan berwarna abu lembut, dan sepasang matanya bersinar seperti jam pasir yang bergerak lambat. Tapi pasti. Ia bicara sebelum mereka sempat bertanya. "Kalian datang lebih cepat dari yang kuperkirakan." Kael maju selangkah, hatinya berdebar. "Kau tahu siapa kami?" "Aku tahu kalian bahkan sebelum kalian tahu siapa diri kalian sendiri." Elya menatapnya dalam-dalam. "Kau... penjaga waktu. Legenda mengatakan kau bisa melihat semua garis kehidupan." "Benar," jawabnya sambil mengangguk. "Namaku Lys. Aku tak mengubah takdir. Tugasku hanya satu. Menjaga agar waktu tetap utuh, walau manusia mencoba menghancurkannya dengan luka mereka sendiri." Kael menarik napas. "Kami... dihidupkan kembali. Tapi mengapa? Untuk apa?" Lys menatap mereka lama. Lalu ia mengangkat tangan. Dari udara, muncul tiga benang cahaya. Merah. Biru. Hitam. Mereka melayang, meliuk lembut, seperti tarian tak terlihat. "Tiga jiwa. Terikat tanpa disadari. Revan, Ayla, dan Noct." Elya menunduk, suaranya pelan dan penuh perasaan. "Kami tak pernah ingin menyakitinya. Kami hanya..." "Saling mencintai," sambung Lys dengan nada lembut. "Dan itulah yang menjadi awal segalanya." Ia menjentikkan jarinya. Dalam sekejap, ruangan hilang. Mereka berdiri di tempat lain. Bukan kuil. Bukan dunia yang mereka kenal. Dunia itu terasa lebih tua, lebih murni. Sebuah tempat di mana roh dan manusia pernah hidup bersama dalam kedamaian yang rapuh. Di sana, mereka melihat tiga sosok muda. Revan. Ayla. Dan Noct. Tertawa bersama. Bertarung bersama. Belajar dan tumbuh bersama. Saudara seperguruan. Tanpa dinding, tanpa kebohongan. Hanya hati yang jujur. Tapi lambat laun, cinta mulai memilih. Revan dan Ayla saling mendekat. Saling jatuh. Saling kehilangan arah dalam pelukan satu sama lain. Dan Noct... mulai menjauh. Langkah demi langkah, hatinya menjadi sunyi. "Dia menyembunyikan rasa sakitnya," suara Lys nyaris seperti doa. "Ia bahagia melihat kalian bahagia. Tapi lama-kelamaan, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tak cukup kuat. Dan menyalahkan kalian... karena tak pernah menyadari." Bayangan berikutnya membuat Kael terdiam. Noct, sendirian. Berdiri di depan altar kuno. Tangan terulur. Bibir bergetar melafal doa. Memohon pada kegelapan untuk mengambil rasa sakit itu darinya. Tapi kegelapan itu menuntut satu hal. Kenangan. Untuk membebaskan diri, ia harus melupakan cinta. Melupakan kalian. Dan menjadi... bayangan. Kael berbisik, nyaris tak terdengar. "Dia bukan jahat. Dia... hancur." Lys mengangguk. "Dan hancurnya satu jiwa bisa mengguncang waktu itu sendiri." Ruangan kembali ke bentuk semula. Udara di sekitar mereka terasa berat. Tapi juga... jujur. "Kalian dilahirkan kembali bukan hanya untuk mengalahkan Noct. Tapi untuk memulihkan keseimbangan. Untuk menyelamatkan dia yang telah hilang dalam luka." Elya menggenggam tangan Kael, erat dan gemetar. "Tapi... apa kami cukup kuat untuk itu?" Mata Lys memandang mereka dengan kelembutan yang tak berasal dari dunia ini. "Kekuatan terbesar kalian bukan sihir. Tapi cinta yang bertahan, bahkan setelah kematian datang memisahkan." Kael menunduk. Suaranya serak. "Kami takut. Takut kehilangan lagi. Takut... tak bisa menyelamatkannya." "Ketakutan bukan kelemahan," kata Lys lembut. "Ia hanya bukti bahwa kalian masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan." Lys kemudian memberikan mereka masing-masing kristal kecil. Biru untuk Kael. Ungu untuk Elya. Mereka berdenyut lembut, seperti hati yang belum pernah berhenti mencintai. "Ini adalah kunci ke Ruang Jiwa. Di sana kalian bisa mengakses kekuatan dari kehidupan pertama kalian. Tapi gunakan itu hanya ketika hati kalian benar-benar menyatu." Kael menatap Elya. Ia tak bicara. Ia hanya menatap, dan tahu. Ia bisa kehilangan segalanya. Tapi selama gadis ini masih di sisinya, ia akan terus berjalan. Saat mereka keluar dari kuil, langit cerah untuk pertama kalinya. Matahari menyinari batu-batu kuno yang basah oleh kabut. Angin mengusap wajah mereka, seolah waktu sendiri sedang mengucapkan selamat tinggal pada luka lama. Namun di tempat yang jauh, di puncak paling tinggi dari dunia, Noct duduk dalam diam. Menatap langit yang sama. Dan dalam bisikan yang hanya bisa didengar oleh jiwa-jiwa yang pernah bersatu, ia berkata... "Aku menunggumu, kakak. Aku ingin tahu... apakah kau akan membunuhku, atau menyelamatkanku." Dan dunia pun diam. Sebab waktu yang pernah mati, kini mulai berputar kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN