Menembus Batas Dunia

955 Kata
Malam itu, kamar Revan tenggelam dalam keheningan yang tidak biasa. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada desir angin dari jendela. Hanya detak jantung Revan yang memukul-mukul dadanya, cepat dan tak teratur. Ia duduk di lantai, mengelilingi dirinya dengan buku-buku tua yang terbuka ke halaman-halaman kuno. Di hadapannya, sebuah lilin kecil berkedip-kedip, seperti sedang bernapas. Salah satu halaman berisi kalimat yang kini dilingkari tinta merah, dan kalimat itu mengisi kepalanya: "Di malam bulan gelap, ketika dunia paling sunyi, manusia dengan niat paling dalam bisa membuka pintu menuju ruang antara." Ruang antara. Tempat di mana arwah belum sepenuhnya pergi, atau belum sepenuhnya diizinkan tinggal. Revan mendongak, menatap langit malam dari balik kaca. Malam itu memang gelap. Bulan bersembunyi sepenuhnya. Seolah langit pun berduka. “Ini satu-satunya cara agar aku bisa melihatmu lagi, Ayla...” Ia menutup mata perlahan. Menarik napas dalam. Semua pikirannya ia pusatkan hanya pada satu nama. Satu suara. Satu wajah. Ayla. Ia membayangkan tawa lembut itu, rambutnya yang melayang pelan, dan cara Ayla menyentuh hatinya hanya dengan menatap. Dengan hati-hati, Revan mulai melafalkan mantra yang ditulis di buku. Kata-katanya asing, kuno, tapi ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Udara di kamar mendadak dingin. Sangat dingin, hingga napasnya mengepul. Lilin padam. Bukan karena angin. Dan saat Revan membuka mata, dunia di sekitarnya sudah berubah. Ia tidak lagi berada di kamarnya. Ia berdiri di sebuah lorong yang tampak tidak berujung. Lantainya seperti cermin yang sudah retak, dan dinding-dindingnya terbuat dari kabut kelabu yang terus bergerak. Setiap langkah yang ia ambil menggema jauh, seolah tempat itu tidak mengenal waktu. Di ujung lorong, ada cahaya samar. Dan suara. Tangisan. “Ayla…?” Ia berlari. Semakin dekat, suara itu semakin jelas. Dan akhirnya, ia melihat Ayla. Duduk memeluk lututnya, rambutnya berantakan, tubuhnya gemetar. Di wajahnya, kesedihan menggantung begitu dalam. “Ayla!” Ayla menoleh. Mata besarnya membulat kaget saat melihat Revan. “Revan...? Kamu... kamu nggak seharusnya ada di sini.” Revan mendekat cepat. Ia berlutut di depannya, mengulurkan tangan, meski tak yakin bisa menyentuh. “Aku datang karena aku ingin. Karena aku janji... aku akan menemui kamu.” Ayla menatapnya dengan tatapan bergetar. “Kamu manusia. Tempat ini bisa menghancurkanmu kalau kamu bertahan terlalu lama.” “Aku tidak peduli.” Mereka saling menatap lama. Meski dunia di sekitar begitu suram, satu-satunya hal yang terasa hidup... hanyalah mereka berdua. Tiba-tiba, lorong itu bergetar. Kabut bergulung. Udara seperti retak. Sosok tinggi menjulang muncul perlahan dari gelap. Tak punya wajah. Seluruh tubuhnya diselimuti kabut tebal, jubahnya melambai seperti air yang tak punya ujung. “Kau melanggar batas, manusia.” Suara itu dalam. Dingin. Menggetarkan tulang. Revan berdiri, menghadang Ayla. “Aku datang untuk menjemputnya. Aku tidak akan pergi tanpa dia.” “Kau akan diuji,” jawab suara itu. “Cinta kalian akan kami cerminkan dalam bentuk ketakutan terdalam. Jika kalian gagal... kalian akan terpisah. Tidak hanya dari dunia ini, tapi dari seluruh kenangan.” Ayla menggenggam tangan Revan. “Apa pun itu, kita hadapi bersama.” Makhluk itu mengangkat tangannya. Dunia runtuh. Langit berubah menjadi hitam pekat, tanah hilang dari bawah kaki mereka, dan mereka terjatuh. Terjun ke dalam kenangan tergelap milik Revan. Ia membuka mata. Kini ia berada di sebuah kamar rumah sakit. Putih. Dingin. Di ranjang, ibunya terbaring. Wajahnya pucat, napasnya lemah. Mesin di samping tempat tidur berbunyi pelan, ritmis. Suara itu dulu pernah menemaninya malam-malam panjang yang ia habiskan dengan rasa takut. Ayla berdiri di belakang Revan. Ia tahu tempat ini. Ia tahu rasa ini. “Ini ketakutanmu,” bisiknya. Revan mengangguk. “Aku takut kehilangan. Lagi.” Ibunya menoleh perlahan. Senyum tipis menghiasi wajah yang sudah lelah. “Kamu anak baik, Revan. Jangan pernah menutup hati hanya karena kehilangan. Jangan berhenti percaya.” Dan suara mesin berubah menjadi satu nada panjang. Garis lurus. Ibunya menghilang. Revan tidak menangis. Tapi air mata jatuh juga. Dan Ayla memeluknya dari belakang, erat, penuh. “Kamu tidak sendirian sekarang.” Cahaya putih meledak dari sekitar mereka. Sekarang giliran Ayla. Mereka berada di atas tangga sekolah. Langitnya merah. Angin menderu. Ayla berdiri di satu sisi, sementara di sisi lain berdiri dirinya sendiri... versi masa lalu. Gadis itu terlihat hancur. Matanya kosong. Wajahnya tanpa harapan. “Inilah saat itu,” bisik Ayla. “Saat aku... jatuh.” Revan berdiri di sampingnya. “Apa kamu ingin memperbaikinya?” Ayla menatap versi dirinya yang dulu. “Aku tidak bisa memperbaikinya. Tapi aku bisa berdamai.” Ia melangkah pelan. Versi masa lalunya perlahan menoleh. Mata yang tadinya kosong... berubah. Menyala. Dan tersenyum. Senyuman itu memudar bersama kabut yang menelan gadis itu. Dan semuanya menjadi putih. Saat cahaya menghilang, Revan dan Ayla kembali berdiri di ruang antara. Tangan mereka masih saling menggenggam. Sosok penjaga berdiri diam, lalu mengangguk sekali. “Kalian telah menghadapi ketakutan. Kalian tidak lari.” Suaranya menggema pelan, lebih tenang dari sebelumnya. “Maka keputusan telah dibuat.” “Arwah Ayla boleh tetap berada di dunia manusia. Selama cinta kalian tetap murni dan jujur.” Revan menatap Ayla. “Itu janji yang mudah.” Ayla tersenyum. Tangisnya mengalir lembut. “Karena aku tahu kamu tidak akan pernah berubah.” “Pulanglah,” ujar sang penjaga. Dunia di sekitar mereka mulai memudar. Revan terbangun di lantai kamarnya. Keringat dingin menetes di dahinya. Lilin sudah mati. Tapi udara terasa hangat kembali. Ia menatap sekeliling. “Ayla?” Tak ada jawaban. Tapi lalu, dari balik tirai jendela, muncul kepala yang sangat ia kenal. Ayla. Rambutnya berantakan seperti biasa. Pipinya mengembung. Matanya menyipit nakal. “Kamu ngorok waktu pingsan.” Revan tertawa kecil. “Kamu kembali...” Ayla melayang masuk pelan, lalu duduk di udara di depan Revan. “Seperti yang aku janjiin. Selama kamu percaya, aku akan selalu bisa menemukan jalan pulang.” Revan tersenyum. Kali ini, tanpa air mata. Karena akhirnya, rumah tidak lagi sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN