Hari-hari setelah Revan dan Ayla kembali terasa... lebih damai.
Revan mulai terbiasa bangun dengan Ayla yang duduk santai di atas lemari, mengayun-ayunkan kakinya sambil menyapa dengan suara ceria yang selalu mengandung sedikit kejahilan.
“Pagi, manusia,” serunya, melayang turun dengan gaya dramatis. “Kamu ngiler lagi waktu tidur.”
Revan memutar mata sambil mengusap wajah. “Aku manusia. Wajar.”
Ayla mendengus kecil. “Kalau aku yang tidur, pasti anggun.”
“Masalahnya, kamu nggak pernah tidur.”
Ayla mengangkat dagu. “Detail kecil,” ucapnya santai lalu tertawa riang.
Suara tawanya selalu membuat kamar itu terasa hidup.
Sejak kembali dari ruang antara, ikatan mereka semakin kuat. Lebih dari sekadar kehadiran. Ada sesuatu dalam keheningan mereka yang terasa penuh. Namun Revan juga tahu, dunia tidak menunggu siapa pun. Hidup terus berjalan, dan tidak semua orang bisa memahami kisah cinta antara manusia dan hantu.
Di sekolah, Vina mulai lebih sering menghampiri. Ia adalah teman sekelas Revan yang selama ini diam-diam memperhatikannya.
“Kamu kelihatan beda sekarang,” ujar Vina saat duduk di bangku sebelah Revan saat istirahat.
“Beda gimana?” Revan menoleh singkat.
“Lebih hidup. Lebih... hangat,” jawab Vina sambil tersenyum.
Di bawah meja, Ayla mencibir dengan gemas. “Huh, perempuan ini mulai mendekat.”
Revan melirik ke bawah, lalu berbisik pelan. “Jangan ganggu.”
Vina mengernyit. “Apa?”
“Eh, bukan kamu,” jawab Revan cepat. “Aku tadi mikir soal tugas.”
Vina tertawa kecil. “Kamu masih aneh juga ya.”
Ayla mendekat ke arah Vina, lalu berkata dengan suara nyaris berbisik, walau tahu tak akan didengar, “Aneh? Yang aneh itu kamu. Deket-deket cowok orang.”
Revan menatap lurus ke depan. Rasanya ini akan jadi rumit.
Malamnya, Ayla duduk memeluk lutut di ujung ranjang. Matanya kosong. Wajahnya murung.
“Kamu kenapa diem?” tanya Revan, menghampiri.
Ayla menoleh, lalu memalingkan wajah lagi. “Kamu kelihatan cocok ngobrol sama Vina.”
Revan menatapnya lama. “Kamu cemburu?”
“Mana mungkin,” gumam Ayla pelan. “Aku cuma... hantu.”
Revan duduk di sebelahnya. “Cuma hantu? Ayla, aku lebih milih kamu yang gak bisa disentuh dunia, daripada orang lain yang bisa nyentuh tapi gak bisa menyentuh hatiku.”
Ayla menunduk. Suaranya gemetar. “Tapi suatu hari nanti... kamu bakal tumbuh. Lulus. Pergi ke tempat yang aku gak bisa ikuti. Sementara aku... tetap begini.”
Revan menatap matanya dalam-dalam. “Aku gak tahu soal masa depan. Tapi aku tahu hari ini. Dan hari ini... aku milikmu.”
Ayla menahan air mata yang nyaris jatuh. Perlahan, ia tersenyum. “Kamu emang manusia paling keras kepala.”
“Dan kamu hantu paling menyebalkan yang pernah aku temui.”
Mereka tertawa kecil. Tawa itu seperti pelukan di malam dingin—hangat, meski rapuh.
Tiba-tiba, suara berdesis terdengar dari luar jendela.
Revan berdiri perlahan. Ia membuka tirai.
Kabut menyelimuti halaman rumah. Tebal. Dingin.
Dan di tengah kabut itu, seseorang berdiri.
Bukan manusia.
Sosok itu tinggi, kurus, dan seperti terbakar pelan dari dalam. Matanya kosong. Menatap langsung ke arah kamar Revan.
Ayla membeku. Napasnya tertahan.
“Revan...” bisiknya. Suaranya nyaris tak terdengar.
Revan menoleh padanya. “Siapa itu?”
Ayla melangkah mundur. Wajahnya pucat. “Itu... arwah yang tersesat. Tapi auranya... penuh amarah.”
Dari luar, sosok itu membuka mulutnya. Suaranya parau dan serak.
“Kau... mencuri tempatku…”
Revan menegang. “Apa maksudnya?”
Ayla menatapnya dengan ketakutan yang begitu nyata. “Dia... arwah yang seharusnya menempati ruang antara. Tapi tempat itu sudah aku isi.”
“Jadi dia... ingin menggantikan mu?”
Ayla mengangguk pelan. “Dan dia tidak akan pergi... tanpa membawa sesuatu kembali.”
Malam itu berubah menjadi malam penuh kecemasan.
Revan berdiri di depan jendela. Ayla di belakangnya, seperti bayangan yang rapuh.
“Jangan muncul di hadapannya,” kata Ayla. “Kalau dia tahu kamu yang mengikatku ke dunia ini, kamu bisa terluka.”
Revan mengepalkan tangan. Matanya tak lepas dari sosok di luar sana. “Aku gak akan mundur. Kita udah terlalu jauh buat menyerah sekarang.”
Sosok itu melayang mendekat. Setiap langkahnya membawa kabut yang menelan pepohonan dan tanah. Udara jadi berat. Napas jadi sulit.
Suara itu kembali terdengar, kini lebih jelas dan mengancam.
“Beri aku tempatku kembali... atau aku akan ambil jiwamu, manusia.”
Ayla meraih tangan Revan.
Genggaman itu kecil. Lembut. Tapi kali ini ada sesuatu yang lain. Hangat. Nyata.
“Jangan dengarkan dia,” bisik Ayla. “Cinta kita bukan milik siapa pun. Bahkan kematian tidak bisa mengambilnya begitu saja.”
Dan saat itu juga, cahaya lembut menyala dari genggaman mereka.
Cahaya yang lahir dari ikatan jiwa.
Dari cinta yang memilih bertahan, bukan karena mudah... tapi karena benar.
Cahaya itu perlahan menyebar ke seluruh kamar, mendorong kabut dari jendela, dan menahan makhluk itu di luar batas.
Sosok itu menjerit. Kabut di sekitarnya terpecah. Lalu ia memudar... perlahan... hingga tak tersisa apa-apa.
Hanya malam yang sunyi.
Dan dua hati yang saling menggenggam, lebih kuat dari sebelumnya.
Revan menarik napas panjang, masih menggenggam tangan Ayla.
“Kita berhasil.”
Ayla mengangguk. “Untuk sekarang.”
“Tapi aku siap. Untuk yang akan datang.”
Ayla menatapnya, lalu tersenyum kecil.
“Dan aku akan selalu berdiri di sisimu. Bahkan di dunia yang tidak percaya pada cinta seperti ini.”
Revan tersenyum. “Mereka tidak perlu percaya. Karena kita yang menjalaninya.”
Dan malam itu, mereka duduk berdua di tepi jendela. Kabut telah hilang. Bintang-bintang muncul satu per satu.
Tak ada yang tahu apa yang akan datang besok.
Tapi malam ini...
Mereka menang.