Pintu Jiwa

721 Kata
Malam itu, Revan tenggelam lebih dalam dalam kesadaran batin. Lilin-lilin di sekelilingnya padam satu per satu. Namun bukan karena angin. Dari dalam dadanya, muncul cahaya lain. Hangat, lembut, dan terasa seperti panggilan. Sebuah undangan yang membawanya ke ruang yang tersembunyi jauh di balik dunia nyata. Ketika ia membuka matanya, ia sudah tidak berada di kamarnya lagi. Ia berdiri di sebuah tempat asing. Putih. Luas. Hening. Udara di sana tidak bergerak, tetapi terasa hidup. Seolah ruangan itu memiliki napas sendiri, berdetak pelan bersama detak jantungnya. Di tengah ruangan itu, sebuah pintu menjulang tinggi. Warnanya perak, bersinar lembut. Pada permukaannya terukir simbol dua bulan sabit yang saling melingkar seperti saling menjaga. "Pintu Jiwa..." Revan melangkah mendekat. Setiap langkah memantulkan gema ringan, seperti bisikan. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia merasakan denyut hangat, seperti menyentuh sesuatu yang hidup. Bersamaan dengan itu, gelombang emosi menyerbu dadanya. Rasa kehilangan. Harapan. Cinta yang belum selesai. Kesedihan yang tak pernah diucapkan. Lalu, pintu itu terbuka. Bukan cahaya menyilaukan yang menyambutnya, melainkan cahaya yang terasa seperti pelukan. Menenangkan. Menyentuh batin. Ia melangkah melewati ambang pintu dan memasuki dimensi jiwa. Langit tidak memiliki batas. Bumi terdiri dari pecahan-pecahan yang mengambang, seolah waktu dan ruang telah dilupakan di tempat ini. Awan-awan melayang tenang di bawah kakinya. Jauh di depan, sebuah pulau kecil menggantung di udara. Di tengah pulau itu berdiri sebuah pohon raksasa yang bercahaya biru. Akar-akar pohon itu terjalin seperti pelindung. Dedaunannya berkilau seperti bintang yang belum sempat jatuh. Di bawah pohon itu, seseorang duduk diam. Rambut panjang. Seragam putih-abu. Mata merah yang tak asing. "Ayla..." Ayla menoleh. Untuk pertama kalinya sejak kepergiannya, mereka saling memandang. Tidak dalam mimpi. Tidak sebagai bayangan. Tapi sebagai jiwa yang benar-benar saling mengenali. "Jadi kau mengingatnya," ucap Ayla pelan. Revan berjalan mendekat, suaranya gemetar. "Aku ingat semuanya." Ayla berdiri perlahan. Tapi tubuhnya tampak ringan. Kabut tipis mengelilingi bahunya. Ia tampak seperti sosok yang sebentar lagi akan menghilang. "Sayangnya, aku tidak bisa kembali sepenuhnya," katanya. "Aku bukan bagian dari dunia manusia lagi. Aku... terperangkap di antara." Revan menggenggam tangannya. Sentuhannya dingin, tapi tetap terasa. "Kalau begitu, biarkan aku jadi bagian dari duniamu," jawabnya. Ayla menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca. "Jika kau melewati batas ini, kau tidak akan bisa kembali. Kau akan menjadi separuh roh. Tidak hidup. Tidak mati. Dunia akan melupakanmu." Revan terdiam. Tapi dari dadanya, cahaya lembut mulai bersinar. Liontin bulan sabit yang tergantung di lehernya menyala terang. Pancaran itu menenangkan, tapi juga kuat. "Aku tidak mau kau sendirian lagi. Kalau ada cara untuk menyatukan dunia kita, aku akan menemukannya." Tiba-tiba, langit bergetar. Awan berputar cepat. Cahaya pohon berubah menjadi gelap. Ayla terhuyung. Revan langsung menangkapnya. "Apa yang terjadi?" Ayla menatapnya cemas. "Kau terlalu dalam masuk ke wilayah roh. Kutukan lama mulai bangkit." Dari balik tanah yang retak, muncul bayangan besar. Sosok tak berbentuk dengan banyak mata merah yang menyala tajam. "Itu Penjaga Gerbang. Dia tidak ingin kita bersama." Revan berdiri di depan Ayla. Kedua tangannya terangkat. Cahaya menyelimuti tubuhnya. Potongan ingatan tentang siapa dirinya muncul kembali. Ia pernah memanggil kekuatan ini. Cahaya Kedua. Sebuah kekuatan yang pernah tertidur. "Kalau ini harga untuk mempertemukan dua dunia, aku siap melawan." Bayangan itu bergerak cepat. Tubuhnya besar dan menakutkan. Revan tak mundur. Ia membentuk lingkaran cahaya di udara. Dari dalam lingkaran itu, muncul dua bilah cahaya. Senjata jiwa yang pernah ia gunakan dalam kehidupan yang tak lagi ia ingat sepenuhnya. "Ayla, dengarkan aku. Kita tidak akan berpisah lagi." Ia menerjang. Cahaya bertemu bayangan. Suara jiwa bertemu gema kegelapan. Pertarungan berlangsung hebat. Namun Revan tidak gentar. Bukan karena kekuatannya lebih besar, tetapi karena hatinya tidak goyah. Karena kini ia tahu, satu-satunya yang ingin ia lindungi... adalah Ayla. Dalam serangan terakhir, bayangan itu hancur menjadi debu gelap. Menghilang. Ayla terjatuh ke lutut. Revan segera memeluknya. Perlahan, tubuh Ayla berubah. Kabut yang semula menyelimutinya menghilang. Tubuhnya tampak lebih nyata. "Apa yang terjadi?" tanya Ayla, terkejut. "Ikatan kita membuat wujudmu stabil kembali," jawab Revan dengan senyum lega. Mereka bersandar di bawah pohon bercahaya. Napas mereka berat. Tapi senyuman mereka... ringan. Penuh damai. Ayla memejamkan mata. "Aku ingin begini selamanya." Revan menatap langit yang tak berbatas. "Aku akan menemukan caranya. Supaya kita bisa hidup bersama. Di dunia yang sama." Untuk pertama kalinya, di dunia antara, dua jiwa yang dipisahkan waktu saling berjanji kembali. Bukan untuk kehidupan selanjutnya. Bukan untuk reinkarnasi yang lain. Tapi untuk sekarang. Untuk kali ini, mereka tidak akan menyerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN