Jalan Pulang Yang Tak Sama

569 Kata
Langit pagi tampak biasa. Cahaya matahari menembus sela-sela tirai kamar Revan. Namun, ia tahu satu hal dengan pasti. Dunia tak akan lagi sama. Tubuhnya terasa berat, tetapi dadanya hangat. Saat membuka mata, liontin bulan sabit di lehernya masih bersinar lembut, berdenyut seperti jantung. Ia menggenggamnya erat, mengingat segalanya yang terjadi semalam. Dimensi jiwa. Ayla. Pintu. Penjaga. Pertarungan. Dan pelukan. "Ayla... aku akan menepati janjiku." Hari itu, Revan kembali ke sekolah. Namun langkahnya tak lagi sama. Sorot matanya tenang, tetapi penuh kewaspadaan. Ia tahu, sejak membuka pintu jiwanya, batas antara dunia manusia dan dunia roh tak lagi setebal dulu. Di sepanjang lorong sekolah, ia mulai merasakan kehadiran yang tak kasat mata. Bisikan samar. Bayangan singkat di sudut mata. Aura dingin yang dulu tidak pernah ia sadari. Pak Mahir, penjaga rahasia sekolah, sudah menunggunya di ruang kosong belakang aula. Dengan wajah serius, pria tua itu menatap liontin di leher Revan. "Kau benar-benar telah membuka pintunya. Dan kau membawa kembali sesuatu yang bukan dari dunia ini." Revan mengangguk. "Ayla... sebagian dari jiwanya ikut kembali. Tapi dia belum bisa sepenuhnya hidup di dunia ini." Pak Mahir menarik napas panjang, lalu membuka lemari besi kecil di sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan buku tua bersampul hitam, diikat dengan segel bercahaya biru. "Ini adalah Manuskrip Penyeberangan. Kitab kuno para penjaga jiwa. Ada satu ritual yang memungkinkan roh kembali sepenuhnya ke dunia manusia." Revan melangkah lebih dekat. "Apa syaratnya?" "Kau harus mengikat jiwamu pada jiwanya. Satu bergerak, satu mengikuti. Jika salah satu rusak, yang lain ikut hancur." Revan terdiam beberapa detik. Namun jawabannya tidak ragu. "Aku rela." Malam itu, Revan duduk di bawah pohon besar di taman belakang sekolah. Angin lembut bertiup. Tiba-tiba, Ayla muncul di sisinya. Wujudnya setengah transparan, tetapi lebih nyata dari sebelumnya. Rambutnya melayang pelan. Matanya bersinar lembut. "Kau berubah," ucapnya. Revan tersenyum tipis. "Aku ingat segalanya. Kau. Janji kita. Perpisahan itu." Ayla meraih tangan Revan. Jemarinya sedikit menembus kulitnya, namun lebih padat dari sebelumnya. "Kalau kau paksakan ritual itu, kau bisa kehilangan seluruh keberadaanmu. Dunia ini akan menolakmu." "Kalau begitu biar saja. Aku ingin hidup di dunia tempat kau berada. Atau menciptakan dunia baru untuk kita berdua." Ayla memejamkan mata. "Kau selalu keras kepala dalam semua kehidupan kita." Revan terkekeh kecil. "Tapi kau tetap jatuh cinta, kan?" Ayla menunduk. Wajahnya memerah samar. "Bodohnya... iya." Di tengah malam, di bawah bintang-bintang, Revan mulai membaca mantra dari kitab. Lingkaran cahaya muncul di tanah. Simbol dua bulan sabit saling menyatu membentuk pola di tengahnya. Ayla berdiri di dalam lingkaran. Tubuhnya mulai bersinar lembut. Dari kejauhan, suara dari dimensi jiwa terdengar samar. Seperti nyanyian sedih dan doa-doa yang terabaikan. Namun saat ritual mendekati puncaknya, sesuatu mulai salah. Bayangan hitam muncul dari pinggiran lingkaran. Sisa energi dari Penjaga yang sempat dikalahkan. Ia mencoba merusak keseimbangan. Merobek dimensi yang dibuka Revan. "Revaaan!" Ayla menjerit. Tubuhnya mulai menghilang lagi. "Tidak!" Revan berdiri. Matanya bersinar terang. Liontin di dadanya pecah. Dari dalamnya, cahaya murni meledak. Revan memeluk Ayla dengan seluruh kekuatan jiwanya dan berbisik. "Jika takdir memisahkan kita seribu kali, maka biar aku menyatu dengan takdirmu." Cahaya memenuhi seluruh taman. Pagi harinya, siswa-siswa menemukan taman sekolah dipenuhi kelopak bunga putih yang tak diketahui asalnya. Di tengah taman, hanya ada satu benda. Sebuah liontin baru, berbentuk bulan sabit yang menyatu menjadi lingkaran penuh. Tak ada yang tahu dari mana datangnya. Namun di lorong-lorong sekolah, beberapa siswa mengaku kadang mendengar suara tawa lembut. Dan melihat sepasang bayangan berjalan berdampingan saat matahari tenggelam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN