Dunia Aertheris memiliki sistem sihir berbasis Inti Jiwa, bukan sekadar elemen. Jiwa-jiwa yang terikat dari kehidupan masa lalu memiliki kekuatan langka yang disebut Sihir Resonansi yaitu kemampuan untuk membentuk realitas melalui cinta, luka, dan kenangan.
Kael dan Elya adalah resonansi jiwa sempurna. Mereka satu-satunya dalam ribuan tahun sejarah Aertheris.
Dunia ini juga memiliki konflik besar. Perang antara Penyihir Resonansi dan Penguasa Tanpa Jiwa. Kekuatan gelap itu ingin memisahkan koneksi jiwa dari tubuh, agar kekuatan tidak lagi terkendali oleh cinta atau ikatan emosional.
Langit di atas Aertheris tak seperti dunia lama. Dua bulan menggantung berdampingan, saling menyinari hamparan daratan yang dijalin oleh sungai-sungai sihir, hutan berbisik, dan kota-kota yang melayang di udara. Di dunia ini, kekuatan ditentukan oleh seberapa dalam jiwa seseorang dapat menyatu dengan elemen.
Dan di tempat yang jauh dari pusat kerajaan, di sebuah desa kecil bernama Liraeth, seorang pemuda bangkit dari mimpi panjang. Dalam tubuh yang baru. Di dunia yang baru.
Namanya Kael Vireon. Namun di dalam hatinya, ia merasa nama itu bukan miliknya.
"Revan..." bisik suara hatinya suatu pagi saat ia memandang cermin air di belakang rumah.
“Kenapa aku merasa... aku pernah mencintai seseorang yang belum pernah kutemui di dunia ini?”
Kael adalah murid magi tingkat rendah. Sejak kecil, ia dijuluki "aneh" karena tidak bisa mengendalikan satu pun dari empat elemen utama: api, angin, tanah, atau air. Namun guru tuanya, Master Thorne, bersikeras bahwa jiwa Kael menyimpan jejak kekuatan kuno.
"Bukan kau tak punya sihir," katanya. "Tapi sihirmu berasal dari lapisan terdalam dunia ini."
Kael tak mengerti. Namun dalam setiap mimpinya, ia terus melihat satu wajah. Seorang gadis berambut panjang, bermata seperti embun di malam hari, dan suara yang terus berkata:
"Temukan aku."
Sementara itu, jauh di sisi lain Aertheris, di ibu kota kerajaan langit Vireastra, seorang gadis muda bernama Elya Miravale duduk di balkon akademi sihir. Ia dikenal sebagai calon penyihir berbakat. Menguasai teknik ilusi, sihir perasaan, dan kemampuan membaca fragmen masa lalu dari benda-benda mati.
Namun di balik senyumnya, Elya menyimpan kekosongan.
"Seolah... jiwaku pernah terbakar demi seseorang. Tapi aku tak tahu siapa."
Setiap malam, ia bermimpi tentang tangan yang memeluknya dalam badai cahaya. Tentang seseorang yang mengorbankan segalanya untuknya. Ia selalu bangun dengan air mata, tanpa tahu alasan pasti.
"Kenapa rasanya aku sangat merindukan sesuatu yang tak pernah kumiliki?"
Takdir mulai bergerak.
Pada usia ke-17, semua calon magi di Aertheris harus mengikuti Upacara Panggilan Jiwa. Sebuah ritual yang mempertemukan pemilik jiwa sejati dengan elemen tertingginya.
Kael dan Elya, dari dua wilayah yang berbeda, dipanggil ke kuil yang sama. Kuil Atherion, kuil kuno di tengah hutan bernapas yang hanya terbuka sekali dalam lima puluh tahun.
Saat mereka bertemu untuk pertama kalinya, waktu seakan berhenti.
Kael menatap Elya, dan dunianya bergetar. Detak jantungnya tak karuan. Tangannya berkeringat. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu. Sesuatu yang dalam. Hangat. Aneh.
Seolah ia pernah menggenggamnya dalam kehidupan yang lain.
Elya terpaku. Wajah pemuda itu... tak asing. Dan saat Kael tersenyum tipis, dengan senyum yang getir, sedikit malu-malu, tetapi hangat, air mata jatuh di pipinya tanpa ia sadari.
"Aku... mengenalmu," ucap mereka bersamaan.