Langit di atas Kuil Atherion meredup saat upacara dimulai. Di tengah lingkaran sihir raksasa yang terukir di lantai batu, dua sosok berdiri saling berhadapan: Kael Vireon, pemuda yang dianggap tidak berbakat sihir, dan Elya Miravale, murid unggulan dari akademi sihir kerajaan.
Saat suara lonceng kuno berdentang tiga kali, cahaya dari simbol-simbol kuno mulai menyala. Empat elemen utama, api, air, angin, dan tanah, muncul dalam bentuk roh astral. Setiap peserta biasanya akan dipilih oleh satu roh, menyatu, lalu memperoleh lambang mereka.
Namun pada Kael dan Elya, roh-roh itu menjauh.
Penonton mulai berbisik. Beberapa tertawa mengejek. Yang lain tampak khawatir. Bahkan Master Thorne tampak cemas. Tak pernah dalam sejarah upacara ada peserta yang tidak dipilih oleh satu pun roh.
Namun saat cahaya empat elemen itu padam, tiba-tiba muncul cahaya kelima.
Bukan merah, bukan biru, bukan hijau, bukan kuning.
Tetapi putih keperakan, lembut dan menyilaukan sekaligus. Dari tengah langit kuil, turun dua roh berbentuk kabut yang menyatu membentuk pola dua bulan yang saling bertautan. Di dalam kabut itu, terdengar dua suara bersamaan:
"Jiwa yang terikat… jiwa yang terpisah… kini bersatu kembali."
Semua orang membeku.
Kael dan Elya saling memandang. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tetapi tubuh mereka bergerak sendiri. Tangan mereka terulur, bersentuhan. Dan ketika jemari mereka saling menggenggam,
BOOM.
Ledakan cahaya menyebar. Tanah bergetar. Rohnya tidak hanya memilih, tetapi membentuk ikatan Resonansi Jiwa, sihir terlarang yang hanya bisa terjadi jika dua orang pernah berbagi satu kehidupan sebelumnya.
Saat kabut putih menghilang, Kael dan Elya terduduk lemas. Namun ada tanda baru di punggung tangan mereka, tanda bulan ganda.
"Apa yang… baru saja terjadi?" tanya Elya pelan, napasnya terengah.
Kael memandangnya, matanya berkaca-kaca. "Aku… aku ingatmu."
Elya menahan napas.
"Aku juga… ingat. Dunia lain. Sekolah. Jendela. Pelukan cahaya."
"Dan namamu... Ayla."
"Revan..."
Dalam sekejap, aliran emosi membanjiri mereka. Rasa rindu yang tak terucap. Luka yang belum sembuh. Tawa yang pernah dibagi. Perpisahan yang begitu menyakitkan.
Kini semua kembali, dalam sekejap.
"Kita... hidup kembali."
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Di balik tiang-tiang kuil, seorang penyihir berpakaian gelap memperhatikan mereka. Di matanya, terpancar kebencian.
"Resonansi Jiwa… Ini tidak boleh terjadi lagi," bisiknya. "Dunia sudah sepakat memisahkan mereka sejak ratusan tahun lalu. Kalau ikatan ini kembali tumbuh… kekacauan akan lahir dari cinta."
Ia pun menghilang dalam bayangan.
Sementara itu, di ruang belakang kuil, Master Thorne membaca kembali teks kuno dari gulungan rahasia. Tangan tuanya gemetar.
"Dua jiwa yang terikat oleh takdir kuno… Bila kembali menyatu, akan membuka kunci kekuatan tertua Aertheris, Magia Veritas, sihir kebenaran mutlak. Kekuatan yang bisa menciptakan… atau menghancurkan seluruh dunia."
Ia menatap ke arah ruang utama, tempat Kael dan Elya masih duduk, saling menatap dalam diam.
"Kalian bukan hanya dua jiwa yang bersatu. Kalian adalah pertaruhan antara cinta dan kehancuran dunia."
Penutup Bab 2
Pada malam hari, Kael dan Elya berdiri di balkon kuil, memandangi langit dua bulan. Angin malam membawa harum bunga yang hanya mekar saat sihir kuat dilepaskan.
Elya bersandar di pagar batu, tatapannya ke langit.
"Kau tahu... meskipun semua ini terasa asing, ketika aku di dekatmu… aku merasa pulang."
Kael menoleh padanya, lalu menatap tangannya yang masih menyimpan bekas sentuhan tadi.
"Aku akan melindungi kita, Elya. Dunia ini... atau dunia manapun."
Ia tersenyum, dan untuk pertama kalinya, Elya membalas senyum itu bukan dengan pura-pura, tetapi dengan air mata hangat yang meluncur di pipinya.
"Kali ini, jangan pergi dariku."
"Aku takkan pernah pergi lagi."