Hari setelah Upacara Panggilan Jiwa berlalu dalam kabut kebingungan dan rasa takut yang terselubung. Di seluruh penjuru Aertheris, berita tentang Resonansi Jiwa mulai menyebar seperti angin gelap yang menyusup ke jantung para penyihir tua dan penguasa kerajaan.
Namun di ruang latihan terpencil kuil Atherion, dua jiwa yang baru bersatu kembali tengah mencoba mengenali satu sama lain untuk kedua kalinya.
Kael dan Elya duduk bersila, saling memejamkan mata. Tangan mereka saling menggenggam di antara lingkaran sihir yang ditarik dari kristal roh.
"Kau mengingat semuanya?" tanya Elya pelan, tanpa membuka mata.
"Tidak semuanya," jawab Kael. "Tapi cukup untuk merasa sakit setiap kali menatapmu."
Senyap.
"Karena dulu aku tak bisa menyelamatkanmu."
Jantung Elya berdebar. Ia tahu Revan dari masa lalu adalah lelaki yang pendiam, tetapi dalam diamnya tersimpan pengorbanan.
"Dan sekarang?" bisik Elya.
"Sekarang, aku akan melawan dunia kalau perlu. Asal kau tetap ada di sisiku."
Saat mereka membuka mata, cahaya samar menyelimuti tubuh mereka. Aura putih keperakan itu mulai bergerak pelan, mengalir di antara tangan mereka dan membentuk resonansi yang mulai stabil.
"Apa yang kita lakukan tadi… itu bukan sihir biasa," ujar Elya, suaranya bergetar. "Aku bisa merasakan amarahmu, kesedihanmu... bahkan ketakutanmu. Kael, kau menyimpan terlalu banyak luka."
Kael tersenyum samar dan menunduk.
"Karena aku tidak ingin kau merasakannya."
Tiba-tiba, cahaya berubah menjadi merah gelap.
Elya terhenyak. "Kael… jangan tahan emosimu. Resonansi Jiwa tidak bisa dibangun di atas penyangkalan."
Kael terengah. Dadanya sesak. Fragmen-fragmen kehidupan lama mulai berdentum di benaknya. Sekolah. Hujan. Jendela. Dan...
"Kau… mati di pelukanku."
Cahaya di sekeliling mereka meledak, membuat lingkaran sihir bergetar. Elya spontan memeluk Kael. Ia menenangkannya dengan sentuhan lembut dan suara yang gemetar tapi penuh tekad.
"Aku di sini. Aku hidup. Kita hidup, Kael."
Detik itu juga, sihir mereka berpendar pelan. Cahaya putih kembali, kali ini menyatu sempurna dan melingkupi tubuh mereka dalam hangat yang menenangkan.
Sementara itu, di tempat lain dalam reruntuhan menara sihir tua, seorang pria berdiri menghadap kristal hitam. Jubahnya panjang. Matanya memancarkan aura kehampaan.
"Mereka telah kembali."
Ia mengangkat tangan, dan bayangan hitam muncul dari tanah. Sosok-sosok tak berwajah mulai terbentuk. Bayang-Tanpa-Jiwa, makhluk yang hanya bisa diciptakan dari kebencian dan jiwa yang tercerabut dari cinta.
"Cinta adalah penyakit. Dan mereka adalah sumbernya. Kita akan menyelesaikan yang dulu gagal kita hentikan."
Malam itu, kabut turun lebih pekat dari biasanya di sekitar Kuil Atherion. Bahkan roh penjaga yang biasa melayang tenang di udara kini menggigil gelisah dan bersembunyi di celah-celah kristal suci.
Kael berdiri di balkon kuil dan memandangi kabut itu dengan tatapan waspada.
"Kau merasakannya juga?" tanya Elya yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Ada sesuatu yang mendekat. Tapi ini bukan sihir biasa..."
Elya menutup matanya sejenak, lalu membukanya cepat-cepat. "Kael, itu sihir kegelapan. Jenis yang hanya muncul jika ada dendam lama yang belum selesai."
Dan sebelum mereka sempat menyiapkan diri, sesuatu menerobos kabut.
Tanpa suara. Tanpa bentuk yang jelas. Tetapi cukup kuat untuk membuat seluruh kuil bergetar.
"Mereka datang," gumam Kael sambil menggenggam tangan Elya. "Dan mereka tahu siapa kita sebenarnya."