Sudah hampir dua minggu sejak Ayla muncul di hidup Revan. Setiap malam, tanpa absen, ia datang. Kadang hanya duduk diam di sudut kamar, kadang bergurau seperti hantu jahil yang sok misterius, dan kadang... hanya menatap Revan yang tertidur, seolah sedang menjaga mimpi-mimpinya.
Revan mulai terbiasa dengan kehadiran Ayla. Terlalu terbiasa. Bahkan sekarang, malam terasa kosong bila gadis itu tak muncul.
Dan malam ini... berbeda.
Ayla belum datang.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.45. Revan gelisah. Ia telah selesai mengerjakan PR, mencuci muka, membuka jendela seperti biasa, bahkan duduk tenang dengan buku yang tak lagi dibaca. Tapi tidak ada senyum manis yang muncul dari balik tirai. Tidak ada aroma bunga melati. Tidak ada suara lembut yang menyapa dari balik bayang malam.
"Ayla?" gumamnya lirih, nyaris seperti doa yang tercekat.
Sunyi.
Di tempat lain, jauh dari kamar Revan, Ayla berdiri di ujung lorong sekolah yang gelap. Langkahnya terasa berat meski kakinya tak menyentuh tanah. Di depannya, tangga tua tempat hidupnya dulu terhenti, masih berdiri diam. Beku. Menyimpan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Tangga itu tak banyak berubah. Masih ada retakan kecil di sisi kiri, masih ada bekas samar di lantai... noda yang bahkan waktu enggan menghapus.
Ayla menunduk, menatap tangannya. Jarinya mulai tampak kabur. Transparansinya lebih tipis dari biasanya, dan angin malam yang biasa hanya menyentuh sekarang mulai melewatinya seolah ia tak ada.
"Aku mulai melemah..." bisiknya dengan suara patah.
Sudah beberapa malam terakhir ia merasa tubuhnya sulit muncul. Menyentuh dunia manusia jadi makin berat. Ia tahu waktu untuk arwah seperti dirinya tak pernah abadi. Jika ‘urusan’ mereka tak selesai, mereka tak hanya lenyap, tapi menghilang... sepenuhnya.
"Kenapa sekarang?" suaranya nyaris tak terdengar. "Kenapa justru saat aku mulai merasa hidup... saat aku mulai jatuh cinta..."
Pagi harinya, Revan duduk di bangkunya seperti biasa, tapi sorot matanya kosong. Tatapan itu menembus jendela, seolah mencari sesuatu di balik rintik embun yang menempel di kaca. Teman-temannya tak ada yang berani mengusik. Vina sempat mengajaknya makan, tapi Revan hanya menggeleng, bahkan tak menoleh.
Pikirannya penuh dengan satu nama.
Ayla.
Kenapa dia tak datang? Apa yang sedang terjadi? Tapi... apa mungkin sesuatu bisa terjadi pada hantu?
Saat jam istirahat, Revan menyelinap ke perpustakaan. Ia mencari buku-buku lama tentang arwah penasaran, roh gentayangan, dan cerita rakyat yang membahas jiwa-jiwa yang belum tenang. Beberapa buku bahkan sudah rapuh, berdebu, dan kertasnya menguning.
Tangannya berhenti di sebuah kliping surat kabar tua.
“Gadis SMA Terpeleset dan Meninggal Tragis di Tangga Sekolah”
(Tanggal: 12 Oktober, empat tahun lalu)
Foto hitam putih di pojok artikel itu membuat jantung Revan seolah berhenti berdetak.
Wajah itu.
Ayla.
Ia tersenyum dalam foto. Mengenakan seragam putih abu-abu, rambut panjang di kuncir satu. Terlihat ceria, polos, hidup. Begitu hidup.
Tapi satu bagian dalam artikel itu membuat mata Revan tak bisa berpaling.
“Menurut beberapa teman dekatnya, Ayla sempat mengalami tekanan emosional karena orang tuanya bekerja di luar negeri. Meski terlihat ceria, ia sebenarnya kesepian. Diduga kecelakaan terjadi saat ia menangis sendiri di tangga sekolah.”
Revan menatap kata-kata itu lama. Penuh sesak di d**a.
"Kesepian..." bisiknya.
Malam pun tiba.
Revan membuka jendela lebar-lebar. Angin malam masuk, dingin. Langit penuh bintang, tapi hatinya tetap kosong. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap langit seakan berharap Ayla muncul di antaranya.
"Ayla... kalau kamu bisa dengar, tolong datang malam ini. Aku cuma mau bicara. Aku... rindu."
Lalu angin berembus pelan. Sangat pelan. Dan dari arah jendela, suara yang sangat ia kenal akhirnya terdengar.
"Revan..."
Revan langsung berdiri, matanya berbinar.
"Ayla!"
Sosok Ayla muncul perlahan, tapi kali ini berbeda. Tubuhnya lebih samar. Nyaris seperti bayangan tipis yang dilukis cahaya. Wajahnya lelah. Senyumnya... sendu.
"Maaf, aku telat," katanya dengan suara pelan.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Revan cepat. "Kamu kelihatan... seperti menghilang."
Ayla mengangguk perlahan. "Waktuku gak banyak lagi. Aku udah terlalu lama di sini. Jiwa seperti aku, cepat atau lambat harus pergi."
Revan menggeleng keras. "Enggak. Jangan bilang begitu. Kamu bilang ingin merasakan cinta. Kita baru mulai..."
Ayla mendekat, mencoba menyentuh wajah Revan. Tapi tangannya hanya menembus pipinya seperti kabut yang tak bisa disentuh. Ia tersenyum, meski matanya basah.
"Aku sudah merasakannya, Revan. Lewat kamu. Lewat malam-malam kita bicara, lewat semua tawa kecil itu, bahkan dari caramu menatap aku malam ini... aku tahu, aku dicintai."
Revan menunduk, suaranya nyaris patah.
"Aku gak siap kehilangan kamu..."
Ayla menarik napas, seolah menahan perasaan yang tak pernah ia ucapkan.
"Aku juga gak mau pergi. Tapi arwah yang bertahan terlalu lama... bisa berubah. Dunia ini gak akan membiarkanku tinggal selamanya. Aku takut... aku berubah jadi sesuatu yang bukan diriku."
Revan menatapnya dalam. "Apa kamu menyesal? Jatuh cinta padaku?"
Ayla menggeleng. "Enggak. Bahkan kalau aku bisa memilih untuk hidup sehari saja, aku mau habiskan hari itu bersamamu. Tanpa ragu."
Revan mengepalkan tangan. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi tak setetes pun jatuh.
"Aku... mencintaimu, Ayla."
Ayla terdiam. Mata hantu itu berkaca. Mungkin itu bukan air mata, tapi Revan tahu, rasa yang ia lihat malam itu... nyata.
"Terima kasih, Revan. Kamu udah bikin aku merasa hidup lagi, meski cuma sebentar."
Mereka saling menatap. Tak ada pelukan. Tak ada sentuhan. Tapi di antara diam dan napas yang tertahan, ada ikatan yang lebih kuat dari waktu dan wujud.
Dan malam itu, angin yang menyusup ke kamar Revan tak lagi dingin.
Angin itu... hangat.
Hangat seperti pelukan.
Bukan pelukan tubuh, tapi pelukan hati.
Pelukan dari dunia lain.