Hantu Yang Ingin Di Cintai

718 Kata
Revan duduk kaku di tepi ranjang, mata tak berkedip memandangi sosok Ayla. Napasnya tertahan, tapi bukan karena takut. Lebih karena kebingungan yang belum bisa dijelaskan. Gadis di hadapannya... transparan. Bukan transparan seperti kaca bening, tapi cukup samar untuk membuat lampu meja yang menyala di belakangnya masih bisa terlihat menembus tubuhnya. Namun wajahnya, senyumnya, begitu nyata. Terlalu nyata. "Apa kamu benar-benar hantu?" tanya Revan pelan. Ayla mengangguk kecil. "Iya. Meninggal empat tahun lalu. Kecelakaan, pas lagi lari-lari di tangga sekolah. Ceroboh banget, ya?" Ia mencoba tertawa ringan, seolah ingin membuat topik kematiannya tidak terlalu menyeramkan. Tapi Revan tetap diam. Otaknya berputar cepat. "Aku seharusnya takut," katanya lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi aku malah..." "Tenang?" potong Ayla. Revan mengangguk. Ayla menatapnya penuh rasa ingin tahu, lalu duduk di udara. Ya, tepat di udara, di depan meja belajar Revan. "Aku penasaran," ucapnya. "Kenapa kamu selalu kelihatan sedih, meskipun kamu gak pernah menunjukkan ekspresi apa-apa?" Revan mengernyit. "Itu urusan pribadi." Ayla memiringkan kepala. "Tapi aku kan hantu. Mana bisa aku gosipin ke siapa-siapa?" Revan mendesah, setengah geli, setengah pasrah. Dia baru saja mengobrol dengan hantu. Dan hantu itu, anehnya, punya logika yang masuk akal. "Aku cuma... capek." Jawaban itu meluncur begitu saja. "Capek dengan orang-orang yang cuma bisa melihat permukaan. Mereka pikir aku sombong, atau aneh. Tapi mereka gak pernah nanya, kenapa aku begini." Ayla mendengarkan dalam diam. Tak menyela. Tatapannya lembut. "Orang tuaku sibuk. Di rumah sepi. Di sekolah ribut. Jadi aku pilih diam." "Dan kamu suka kesepian?" Revan menggeleng pelan. "Aku cuma terbiasa." Keheningan menggantung sejenak. Tapi Ayla perlahan mendekat, dan entah bagaimana, Revan bisa merasakan hawa dingin namun lembut saat tangan Ayla mencoba menyentuh pundaknya, meski tak benar-benar menyentuh. "Aku tahu rasanya," kata Ayla pelan. "Dulu, sebelum aku meninggal, aku juga kesepian. Tapi aku pintar nutupin semuanya. Aku ceria, populer, semua orang suka aku. Tapi gak ada yang tahu rasanya pulang ke rumah yang kosong." Tatapan mereka bertemu. Dua dunia berbeda, tapi luka mereka terasa serupa. Revan membuka mulut, ingin berkata sesuatu, tapi suara pintu kamar yang diketuk memecah momen itu. "Revan? Sudah malam. Matikan lampunya, tidur," suara ibu terdengar dari luar kamar. "Iya," jawab Revan cepat. Saat ia kembali menoleh ke Ayla, gadis itu sudah berdiri. "Aku harus pergi dulu," katanya. "Hantu juga butuh istirahat... walau bukan tidur." Revan mengangkat alis. "Istirahat? Di mana?" Ayla mengangkat jari ke bibirnya. "Rahasia." Lalu dalam sekejap, tubuhnya perlahan menghilang. Seperti asap yang tertiup angin. Hanya sisa aroma samar bunga melati yang tertinggal di kamar Revan. Dan rasa hangat aneh di dadanya. Keesokan harinya, Revan duduk di bangkunya seperti biasa. Tapi kali ini, dia sering menoleh ke jendela. Mencari sosok yang kemarin muncul. Teman sekelasnya, Vina, memperhatikannya dengan curiga. "Revan, kamu naksir siapa sih sekarang? Senyum-senyum sendiri." Revan terkejut. "Hah? Enggak." Vina melipat tangan. "Boong. Kamu kelihatan beda. Biasanya kayak batu es. Sekarang kayak es krim yang mulai meleleh." Revan memalingkan wajah, menahan senyum kecil yang tidak bisa dikendalikan. Karena tanpa Vina tahu, di belakangnya, melayang di langit-langit kelas, Ayla sedang menjulurkan lidah sambil bergaya lucu ke arah Revan. Revan menggeleng pelan. "Dasar hantu jahil." Waktu berlalu. Hari-hari Revan mulai berubah. Ayla datang hampir setiap malam. Kadang hanya untuk bercerita, kadang menggodanya, kadang sekadar duduk diam di sudut kamar sambil memutar lagu favorit Revan dari laptopnya. Ia bahkan belajar menyentuh benda-benda ringan, meski hanya bisa untuk beberapa detik. Dan pelan-pelan, Revan mulai tertawa lagi. Tertawa kecil, senyum singkat, tapi itu sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya. "Aku rasa kamu bukan hantu menyeramkan," ucap Revan suatu malam. Ayla menyilangkan tangan. "Terus aku apa?" Revan berpikir sejenak. "Kamu... hantu yang manis." Ayla tersipu, dan pipinya yang tembus pandang terlihat sedikit berwarna. "Jangan bikin aku jatuh cinta lebih dalam, dong." Revan menatapnya. "Tapi kamu bilang kamu memang sudah jatuh cinta." Hening sesaat. Ayla menunduk. "Iya," jawabnya lirih. "Tapi kalau kamu balas, aku takut." "Takut?" "Takut kalau nanti waktuku habis. Takut harus pergi. Takut kamu sendiri lagi." Revan berdiri pelan, mendekatinya. "Kalau kamu pergi, aku akan tetap mengenangmu. Tapi kalau kamu di sini, aku ingin mengenalmu lebih jauh." Ayla menatapnya. "Meski aku bukan manusia lagi?" Revan mengangguk. "Kamu satu-satunya yang benar-benar melihat aku." Ayla tersenyum, lalu menengadah menatap bintang-bintang di langit malam. "Kalau aku punya tubuh, aku pengin peluk kamu sekarang." Revan ikut menatap langit. "Mungkin suatu saat... pelukan itu akan sampai. Dari dunia lain."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN