Di dasar danau yang kini berubah menjadi langit, suara kecil itu semakin kuat. Seperti gemericik air yang mengalir, tapi juga seperti bisikan lembut yang mengusik kesunyian. Bayangan seorang anak muncul perlahan dari kedalaman, tubuhnya tampak seperti kabut yang bercahaya, menari-nari di antara riak air dan bintang-bintang yang berpendar. Anak itu membuka matanya. Mata yang sama seperti milik Aren, namun berbeda. Lebih jernih, lebih polos, sekaligus menyimpan kesedihan yang dalam. Kenapa aku di sini? tanyanya dalam suara yang tak lebih dari desir angin. Makhluk tanpa wajah yang memegang cermin retak itu menunduk. Karena kamu adalah yang terakhir. Terakhir? Anak itu mengernyit, lalu tatapannya melebar. Apa maksudnya? Semua yang pernah hilang, semua yang pernah terlupakan, ada di dalam

