Awal Pertemuan

1084 Kata
Sekitar pukul 13.00 Renata baru saja pulang ke rumah. Wanita itu baru saja mencairkan uang yang diminta Cecylia untuk keperluan kuliahnya. Sesampainya di rumah, ternyata di dalamnya sudah terdengar sangat ramai. Pasti, berasal dari teman-teman yang dibawa oleh adiknya. Di sana duduk sekitar 4 orang, Renata sudah mengenal karena saking seringnya mereka berkunjung. Namun salah satu dari mereka terlihat asing di pandangan wanita itu. Pria dengan tindik di salah satu telinga, rambut hitam dan tubuhnya yang jangkung. Terlihat sedikit judes namun tampan, Renata tidak pernah melihatnya. “Hay, semuanya,” sapa Renata. Lucas menatap Renata kagum, pria itu tidak ikut membalas sapaan Renata. “Cyl, adek Lo cakep banget. Harusnya Lo kenalin dia ke Gue dari dulu!” seru Lucas, yang mana membuat semua mata tertuju pada pria itu. Salah satu teman Cecylia menyenggol lengan Lucas, bermaksud untuk memberi kode pada pria itu untuk berhenti membual. “Ya ampun, imut banget sih. Nama kamu siapa Cantik?” tanya Lucas sembari menaik turunkan alisnya. Renata menatap Lucas dengan pandangan aneh sembari menggeleng heran. Wanita itu tidak menjawab dan segera berlalu menuju ke dapur untuk membuatkan minum teman-teman Cecilia. Setelah Renata berlalu, Cecylia menghampiri Lucas lalu menoyor kepala pria jangkung itu. “Bodoh, dia kakak Gue!” “Hahaha ....” Tawa mereka bersahutan, mengolok-olok Lucas yang memasang wajah syok, saat tahu jika Renata adalah kakak Cecilya. Demi apa pun, Renata lebih cocok menjadi adik Cecylia. Mereka berdehem pelan dan langsung diam, saat melihat Renata menuju ke arah mereka sembari membawa nampan berisi beberapa gelas minuman. Orang pertama yang berdiri adalah Lucas, dengan gayanya yang penuh percaya diri pria itu langsung mengambil alih nampan yang dibawa oleh Renata. “Adik manis, kenapa nggak manggil Kak Lucas aja sih? Sebagai pria gentle, Kakak siap bantu kamu kapan aja.” Cecylia memejamkan matanya erat, teman-temannya pun ikut geram melihatnya. Lucas memang beda, tidak punya malu dan terlalu percaya diri. Memang dia tampan, tapi apa harus seperti itu? Renata enggan menjawab, ia takut jika adiknya merasa malu jika dirinya membalas ucapan Lucas dengan nada yang tidak enak. Wanita itu memilih segera pergi menuju kamar, untuk melihat apakah Sergio sudah bangun atau belum. “Lucas sinting!” Mereka tertawa terbahak-bahak setiap melihat ulah pria itu, selalu mengada-ada dan di luar nalar. “Lia, Gue nggak mau tahu ya! Pokoknya, Lo harus jadi adik ipar Gue. Punya kakak cakep diumpetin, kalau tahu dari dulu pasti udah Gue pacarin,” ucap Lucas. “Mana tangannya alus banget lagi,” lanjutnya. *** “Ren, hari ini pasang nggak?” tanya Mami. “Enggak Mam, adikku belum butuh uang banyak. Aku kerja biasa aja. Emangnya kenapa?” tanya Renata. “Jay, bucinmu ngamuk-ngamuk nyariin kamu. Kemarin waktu kamu open, malah dipake sama orang lain. Kenapa nggak terima aja waktu ditawarin dia jadi istri keduanya?” “Nggak Mam, kerjaanku ya gini. Tapi, kalau untuk jadi orang ketiga aku nggak mau. Dan lagi, aku bahkan nggak pernah kepikiran tentang yang namanya pernikahan,” jawab Renata dengan penuh keyakinan. Mami hanya tersenyum tipis mendengar ucapan salah satu anak asuhnya, dia tahu betul bagaimana nasib wanita muda itu. Di usianya yang masih menginjak 25 tahun, dia diharuskan untuk menanggung beban kedua adiknya. Menyekolahkan yang kecil dan masih harus membiayai kuliah adiknya yang besar. Keegoisan kedua orang tuanya membuat Renata enggan lagi menemui dan mengeluh pada mereka, dan hanya inilah yang mampu Rena lakukan. Bekerja normal menjadi pelayan bar saat kebutuhannya hanya makan, namun saat tagihan kuliah Cecylia membengkak, ia akan melakukan pekerjaan kotornya dengan sangat terpaksa agar mendapatkan uang secara instan. Dari semua kliennya, hanya Jay Marques yang tidak membuatnya muntah seusai melakukan pekerjaannya. Karena ia diperlakukan dengan baik, bukan layaknya wanita bayaran yang diperlakukan seenaknya karena merasa sudah membeli tubuh Renata. “Rena!” Jay tiba-tiba saja datang, pria itu langsung menarik lengan Renata pelan. Ia membawa Rena ke sebuah kamar VIP yang biasa ia pesan. “Maaf Tuan, tapi saya sedang bekerja,” ucap Renata. Jay tidak ingin membalas perkataan wanita itu, ia hanya butuh memeluk Renata saat ini. “Tidak, aku hanya merindukanmu. Aku kesal, kenapa kemarin kamu pergi bersama pria lain? Aku tahu karena dia rekan kerjaku. Dan, luka-luka ini pasti karena dia, kan?” tanya Jay sembari mengusap sudut bibir Renata yang terluka. Rena menatap lamat mata Jay, wanita itu tahu jika Jay menaruh perasaan lebih padanya. Andai saja pria itu tidak beristri, Renata dengan senang hati akan menerima lamaran pria itu walaupun tidak ada perasaan cinta di hatinya. Karena yang terpenting adalah kebutuhan adik-adiknya bisa terpenuhi dan dirinya bisa berhenti dari pekerjaan yang membuatnya sangat tertekan setiap harimya. “Tolong Tuan, saya harus bekerja.” “Kenapa? Sudah berapa kali aku bilang, berhenti memanggilku seperti itu. Panggil aku Jay,” pinta pria itu. “Baiklah Jay, bisa kamu lepasin aku? Aku mau balik kerja lagi,” ucap Renata. Pria itu melepaskan lengan Renata yang ia cengkeram sedari tadi. “Baiklah, kalau kamu butuh uang langsung hubungi aku. Jangan pergi bersama pria lain. Aku mohon!” Jaya mengecup kening Renata, dan membiarkan wanita itu berlalu meninggalkannya sendirian. Tidak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.58 sudah waktunya Renata untuk pulang. Wanita itu membereskan barang-barangnya lalu meregangkan tubuhnya sebentar. Pulang pergi dengan menaiki bus sebenarnya sedikit sulit. Kadang ia harus terlambat datang ke tempat kerja atau berjalan kaki saat pulang karena bus terakhir sudah berangkat sebelum ia sampai di halte. Namun hari ini keberuntungan masih berpihak padanya, Renata tidak akan bisa membayangkan bagaimana berjalan kaki dalam keadaan lelah seperti ini. Dia sering mengalaminya, tapi untuk rasanya ia sudah tidak bertenaga. Wanita itu berjalan sendirian di gang menuju ke arah rumahnya, Renata berpapasan dengan sepasang suami istri yang merupakan tetangganya. Namun seperti biasa, sang wanita pasti akan berteriak mengumpati saat mereka tak sengaja berjumpa. “Waow, berapa pria yang Lo layani hari ini? Larut banget pulangnya. Kalau dibiarin kayak gini terus, bisa-bisa suami warga sini Lo ambil juga. Dih amit-amit ....” Renata enggan menanggapi, secepatnya wanita itu berjalan untuk menjauhi wanita yang baru saja pulang membeli makan malam bersama suaminya. Dia tidak tahu saja, jika pria yang tadi mengantarkannya juga pernah datang ke tempat kerja Renata untuk membeli sebuah pelayanan yang Renata tawarkan. Mereka itu sekumpulan pria-pria munafik, terlihat seperti pria baik-baik saat berada di samping istrinya. Tapi di belakang, mereka sama saja, gemar bermain api. “Katanya orang terhormat, tapi mulutnya macam sampah. Apa sih, yang bikin mereka seenaknya sendiri menilai manusia? Mereka cuma nggak tahu aja, gimana bejatnya kelakuan pria yang setiap hari bersikap manis waktu ada di samping mereka.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN