“Ren, Lo punya permen nggak sih? Perut Gue mual banget. Makin lama, klien Gue makin ngada-ngada permintaannya. Mana tua bangka, buruk rupa lagi! Rasanya pengen banget Gue cakar mukanya yang p*****t itu!”
Renata membalas dengan senyum masam saat mendengar keluhan Vina, sahabatnya di bar tempat ia bekerja. Wanita 25 tahun itu menyodorkan bungkusan permen pada Vina.
“Mau gimana lagi Vin? Emang dasarnya kita ini kotor. Mereka punya duit, mereka ngerasa bebas memperlakukan kita seperti keinginan mereka. Lo tahu sendiri kan, apa yang terjadi sama Gue setelah ngelayanin mereka.”
Vina memasukkan permen mint pemberian Renata ke dalam mulutnya, lalu wanita itu menggenggam tangan teman seperjuangannya. Vina tahu betul, sebelum melayani kliennya, Renata selalu meminum obat anti mual. Wanita itu akan muntah setelah melakukannya, Andai saja wajahnya tidak dirias, pasti akan tampak sangat pucat.
“Rena.” Wanita paruh baya yang akrab dipanggil dengan sebutan Mami itu meneriakkan nama Renata.
“Iya, Mam.”
“Kemari Sayang, ada yang mau booking kamu. Tapi dia mau ya seperti itu, pengusaha saat sedang stres mungkin sebentar lagi gila. Dia nawarin 2 kali lipat, asal kamu mau dijadiin pelampiasan amarahnya. Kamu mau?” tawar Mami kepada Rena.
“Iya Mam. Tapi seperti biasa, kan? Di tempat yang tertutup pakaian? Aku takut adikku nanti ngelihat bekas lukanya,” tanya Renata.
Mami memeluk tubuh Renata, “Tentu aja nggak usah khawatir. Kamu harus tetep inget, sekasar apa pun klien kita, kamu harus menyelesaikannya hingga akhir. Kecuali jika sampai membahayakan nyawamu, kamu bisa memberikannya kode seperti biasa. Sudah, sana bersiap, ini alamatnya.”
Renata mengangguk, wanita itu segera pergi bersiap untuk melakukan pekerjaannya, ia ingin bisa cepat pulang untuk menemani Sergio yang selalu mengeluh kesepian.
“Vin, aku duluan ya.” Renata melambaikan tangan pada sahabatnya sebelum ia berlalu pergi.
Berbekal taksi yang memang sudah menunggu untuk mengantarkan Renata pada kliennya, wanita itu selamat sampai pada tempat tujuan.
“Kak, room 127,” ucap wanita itu pada resepsionis.
“Silakan, ini kuncinya.”
Renata segera berlalu, menaiki lift untuk segera menemui pembelinya. Wanita itu mulai gugup dan berkeringat dingin, ini yang selalu ia alami sebelum melaksanakan pekerjaan kotornya.
Rena membuka pintu kamar hotel namun masih tampak kosong. Sepertinya sang klien belum datang. Wanita itu membersihkan diri terlebih dahulu, memakai parfum mahal yang memang seharusnya dia punya untuk menunjang penampilan saat bekerja.
Cklek ....
Renata menatap cermin di hadapannya, memantulkan wajah pria berusia sekitar 30 tahunan yang baru saja masuk ke dalam. Wanita itu tersenyum, syukur saja kali ini kliennya tidak buruk rupa seperti tempo hari, yang mana membuat Renata tidak bisa makan selama hampir 2 hari.
“Tuan—,”
“Theo Mahendra, panggil saja Theo. Aku tidak suka dengan sebutan Tuan.”
Pria tampan dengan bahu lebar dan tinggi badan sekitar 175 senti meter itu terlihat sangat angkuh. Tatapan matanya sangat mengintimidasi, cukup membuat nyali Renata sedikit menciut.
“Apa Tu— Theo mau dimulai dari sekarang?”
“Duduk,” titah Theo mutlak.
Renata menuruti seluruh ucapan Theo, wanita itu duduk di sisi ranjang hotel mewah tersebut.
“Katakan, jika aku sudah melewati batas,” ucap Theo yang dibalas anggukan oleh Rena.
Wajah Theo perlahan mulai suram, pria itu terlihat sangat frustrasi. Theo membongkar tasnya, mengeluarkan sebuah cambuk dan juga kotak sigaret miliknya.
Theo menyelipkan batang nikotin di mulut sembari menyulutkan api. Dengan kesibukannya menghisap rokok di bibirnya, Theo mulai melayangkan cambukkan pada wanita cantik di hadapannya.
Renata hanya mampu memejamkan mata, menggenggam erat tangannya tanpa berani berteriak, sebelum tuannya memberikan titah.
“Menangis, dan berteriaklah. Minta ampunan padaku!”
Suara isak tangis dan teriakan kesakitan mulai memenuhi ruangan setelah apa yang pria itu titahkan. Kini Theo puas saat mempunyai objek untuk melampiaskan amarahnya.
***
Tok tok tok ....
“Cecylia,” panggil Rena dengan suara lirih.
Wanita itu berjalan sedikit pincang dengan wajah lebam di bagian kirinya. Renata menutupinya menggunakan hoodie yang cukup kebesaran juga celana longgar, agar tidak terlalu bergeseran dengan kulit pahanya.
Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 11 malam. M ungkin Ceylia sudah tertidur. Rena berniat membuka pintu dengan kunci cadangannya, namun ternyata pintu itu tidak dikunci.
“Cecylia ini, ceroboh banget!”gerutu Rena sembari berjalan pelan dengan kaki sedikit pincang.
“Eh, Kakak udah pulang? Sergio udah ti— wajah Kakak kenapa?”
Dengan gerakan cepat Cecyl membuka tudung hoodie yang dikenakan oleh Renata. Wanita itu menangkup wajah sang kakak yang 2 tahun lebih tua dari dirinya.
“Wajah Kakak lebam, Kakak dirampok?” tanya Cecyl panik.
Renata tersenyum tipis, “Enggak Dek, Kakak tadi berantem sama temen.”
Cecyl mengambil air hangat dan handuk untuk mengompres luka di wajah Renata.
“Aduh! Sakit!” pekik Renata, wanita itu terkejut karena adiknya memakai tenaga dalam saat menekannya.
“Maaf-maaf, ya ampun kakakku kenapa jadi bernoda kayak gini. Untung aja bibirnya masih nampak seksi,” kekeh Cecylia berniat untuk menggoda Renata.
“Jangan ngomong konyol kayak gitu, kuliah yang bener. Jangan kayak Kakak!” ketus Rena.
“Aish! Mataku silau, kenapa Kakak cantik banget sih. Gemes!” Cecylia mencubit kedua pipi Rena tanpa ingat jika salah satunya sedang lebam membiru.
“Bocah! Sakit!” teriak Renata.
“Astaga, maaf Kakak sayang. Cecyl lupa.”
Renata memalingkan wajahnya kesal, kenapa juga sifat jahil adiknya muncul di waktu yang tidak tepat.
“Gio, nyariin aku ngga?” tanya Renata.
“Nyari lah, dia kan fanboy kakak. Dia bilang, Gio takut kakak diculik. Ya ampun, gemasnya.”
Renata menatap wajah Cecyl dengan tatapan jijik. Kenapa, ia bisa berhadapan dengan manusia aneh yang sayangnya adalah adik kandungnya sendiri. Tanpa banyak basa-basi lagi, Renata masuk ke dalam kamarnya untuk segera beristirahat.
Di dalam kamar, Renata segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Tidak ada shower di sana, hanya ada gayung yang ia gunakan untuk menyirami tubuhnya hingga sedikit mengeriput karena kedinginan.
Wanita itu menggosok keras hampir seluruh tubuhnya, berharap noda dan dosa yang ditinggalkan oleh pria bernama Theo itu hilang.
“Huek!” Suara Renata sedikit tertahan. Wanita itu mengeluarkan seluruh isi perutnya, hingga hanya cairan kuning yang keluar. Setelah selesai membersihkan diri, Renata mengecek ponselnya yang bergetar.
[Kak, besok teman-temanku bakalan dateng ke rumah buat diskusi. Gak papa, kan?]
Renata membalasnya,
[Terserah kamu, tapi Kakak besok libur. Capek ....]
Itulah kebiasaan Renata dan Cecyl saat ingin membicarakan sesuatu di malam hari. Karena mereka sudah terlalu malas untuk keluar dari kamarnya, kegiatan di siang hari sungguh menguras habis tenaga mereka.
Terlebih untuk Renata, bukan hanya tenaga saja yang terkuras, namun hati dan pikirannya juga. Andai saja ia tidak mempunyai tanggung jawab kepada kedua adiknya, Renata akan lebih memilih untuk pergi sejauh mungkin. Tidak peduli jika harus menjadi gembel, asal ia tidak pernah melakukan pekerjaan kotor seperti yang baru saja ia lakukan.