Tidak Sengaja

1053 Kata
“Bidadari, hey jangan kabur dong. Kakak nungguin dari tadi tahu,” teriak Lucas.    Renata menjatuhkan belanjaan yang ia bawa sepulang dari pasar. “Cyl, tolongin Kakak dong. Teman kamu ini, rese banget!”    Lucas berlari kecil, menghampiri Renata sembari menggenggam pergelangan tangan wanita itu. “Jalan yuk, nanti Kakak jajanin!” ajaknya.    “Lepasin! Sebelum Gue potong tangan Lo!” seru Renata.    Lucas langsung mengangkat kedua tangannya di udara. “Sorry, Kakak khilaf. Tangan kamu alus banget dah.”    Renata menatap tajam tepat pada netra milik Lucas. “Lo, sadar nggak sih kalo Lo itu nyebelin banget. Dan, Gue mohon sopan. Gue lebih tua dari Lo!”    “Tapi, serius deh. Kamu tuh imut banget, terus badanku kan gede ya. Jadi, kita cocok saling melengkapi satu sama lainnya,” ucap Lucas percaya diri.    Cecylia tertawa keras, “Teori dari mana dodol!” protesnya.    “Sirik saja Lo! Tar kalo Gue jadi sama Kakak Lo, Gue gebuk pala Lo!” ancam Lucas.    Cecylia berlari, menyembunyikan diri di belakang Renata. “Kak, Lucas jahat. Aku takut!” adunya dengan ekspresi yang dibuat-buat.    “Wah, pola pikirnya bermasalah Lo!” geram Lucas.    “Nyenyenye!” ejek Cecylia.    Lucas langsung memajukan tubuh bongsornya. Berniat untuk memberikan pelajaran untuk Cecylia. “Sini nggak Lo!”    Renata semakin pusing melihat dua manusia yang tengah sibuk mengejek satu sama lainnya. “Hey, kalian berdua ngapain sih? Menyingkir nggak?” teriaknya.    Bruk! Lucas terjatuh, tubuhnya menindih Renata tanpa sengaja. Sedangkan Cecylia meringis sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Ini semua karena dia tiba-tiba saja ia melepaskan pegangan kakaknya.    Mata Lucas dan Renata saling menatap tanpa ada salah satunya yang ingin mengakhiri. Ada gelenyar aneh yang pihak wanita rasakan. Mata sang pria sekakan menyelam ke dalam manik Renata, ada pancaran tulus di sana. Ada sesuatu yang tidak ia pahami saat ini.    Lucas mengerjapkan matanya, ia melebarkan matanya saat menyadari jika posisinya sedang tidak aman saat ini. Pria itu langsung bangkit dan membantu Renata untuk duduk.    “Kak, sorry. Aku sama sekali nggak bermaksud kurang ajar. Aku hilang keseimbangan, sorry.” Ucapan Lucas sedikitnya membuat Renata terkejut.    “Bisa sopan juga ternyata,” batin Renata.    “Kak, you okay? Maaf sekali lagi. Aku sama sekali nggak sengaja,” ucap Lucas.    Renata mengangguk pelan, “Gue, nggak papa.”    Setelah kepergian Renata, Lucas menatap nyalang ke arah Cecylia. “Gara-gara Lo!”    Cecylia melotot tidak terima, “Enak saja mulut Lo. Bilang saja Lo seneng, iya kan?”    Lucas mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Ya, iya sih. Tapi, Kakak Lo pasti jadi mikir yang enggak-enggak tentang Gue.”    “Lah kan, memang niat Lo begitu hahaha!” Tawa Cecylia menggelegar dan terdengan menyebalkan di indra pendengaran Lucas.    “Dasar, bocah nggak waras!”    Tanpa Lucas tahu, saat Cecylia berbalik, raut wajahnya berubah sendu dengan mata yang berkaca-kaca.    ***    Cecylia menghampiri sang kakak yang tengah tertidur miring di ranjangnya. Gadis itu menyalakan kipas angin saat melihat keringat Renata yang mengalir di antara sela-sela rambut.    “Lagian, hawa panas gini make baju panjang sampe leher lagi,” gumam Cecylia.    Gadis itu melipat sedikit kerah turtle neck yang Renata pakai. Tanpa sengaja matanya menemukan tanda biru memar dan bercak-bercak merah yang semakin banyak saat Cecylia terus menelusurinya.    “Ternyata, beneran punya cowok. Kasian Lucas.”    Cecylia langsung menarik tangannya saat merasakan pergerakan dari sang kakak. “Hehe, Kakak bangun? Keganggu aku ya?” tanyanya.    Renata menggeleng, matanya masih berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. “Ada apa, hmm? Kamu butuh uang?”    Raut wajah Cecylia langsung berubah tidak enak, “Kakak, nggak begitu. Maaf ya, kalo Cecyl sering nyusahin Kakak.”    Renata menggenggam pergelangan tangan adik perempuannya. “Nggak Dek. Semua ini udah jadi tugasnya Kakak.”    “Harusnya, tugas Ayah dan juga Ibu. Bukan Kakak,” lirih Cecylia.    “Ssst, kita sudah janji, nggak akan membahas tentang mereka lagi. Biarkan saja mereka mengejar kebahagiaannya sendiri-sendiri. Jangan sedih dong, tar kalo Sergio liat kan malu,” goda Renata.    Renata terdiam sebentar, ia perlu mencari pembahasan lain agar sang adik tidak terus memikirkan kedua orang tua yang telah lalai memenuhi tugasnya. “Eh, Dek. Cowok yang kamu ceritain ke Kakak waktu itu, apa kabar? Sudah jadian belum?” tanyanya antusias.    Cecylia memeluk sang Kakak, “Dia suka sama cewek lain, Kak. Dia nggak suka aku.”    Renata memejamkan matanya erat. Sepertinya ia salah mengambil topik untuk dibahas bersama sang adik. “Kok bisa, mana mungkin dia sampe nggak suka sama kamu. Emangnya yang dia suka lebih cantik dari kamu apa?”    Cecylia mengangguk, “Dia lebih cantk, baik hati. Walaupun, sedikit pendek hehehe.”    Renata memukul bahu adiknya main-main. “Kamu kayak lagi nyindir Kakak, tahu nggak?”    Sang adik mengusap rambut lalu menjalar ke pipi sang kakak. “Janji sama aku, Kakak bakal bahagia kan?”    Renata mengangguk pelan, walaupun sebenarnya ia sendiri tidak paham dengan maksud dari perkataan yang dilontarkan Cecylia. Wanita itu memilih untuk mengeratkan pelukannya bersama sang adik, walaupun ia tidak dipedulikan oleh kedua orang tuanya, namun kehadiran kedua adiknya merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Renata.    “Maaf ya, kalo Kakak belum mampu buat bahagiain kamu dan juga Sergio. Kakak bakalan kerja lebih keras lagi,” gumam Renata.    “No, Kak. Biarin Cecyl bantu Kakak, kafe Lucas butuh karyawan. Aku bisa part time di sana, ya?” bujuk Cecylia.    Renata menatap adiknya kecewa, “Kamu butuh apa? Bilang sama Kakak, jangan kayak gini. Ayo ngomong, kali aja uang tabungan Kakak cukup.”    Cecylia menggeleng pelan sembari menundukkan wajahnya. Ia tidak tega jika harus mengatakan apa yang ia butuhkan kali ini, mengingat harganya yang mahal. Kemarin ia baru saja meminta uang, juga ibu kontrakan sudah meminta uang tagihannya.    “Aku, ke Sergio dulu ya Kak. Tadi, aku ninggalin dia lagi makan hehe,” pamit Cecylia yang diangguki oleh Renata.    Setelah adiknya tak terlihat lagi, Renata langsung mengetikkan pesan untuk seseorang.  [Lucas, di tempat kuliah Lo sama adik Gue lagi butuhin apa?]    Ting! [Maksudnya gimana? Kakak nggak ngerti maksud adik manis apa?]    Renata menghela nafas lelah, sebenarnya ia juga malas menghubungi Lucas seperti ini.    Belum sempat ia membalas pesan Lucas, ponselnya kembali berbunyi.  [Oh, Cecylia laptopnya rusak. Kemarin mau diservis, tapi kata tukang servicenya kemungkinan bisa cuma 30%. Ada yang bisa Kak Lucas bantu?]    Renata langsung mematikan ponselnya tanpa berniat membalas lagi pesan Lucas yang terus saja masuk beberapa detik kemudian.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN