Martabak Manis

1041 Kata
“Mam, cariin aku--”    “Tuan Theo, mau? Yang waktu itu pernah sama kamu,” sahut Mami.    Renata menggeleng pelan, “Jangan Mi, dia rekan kerjanya Jayden,” tolaknya.    “Kenapa, nggak sama Jay aja? Mami yakin, dia pasti mau kapan saja.”    “Nggak Mi, yang lain aja. Aku nyamperin Vina, nanti Mami kabarin aku.” Renata berjalan menjauh ke arah sang sahabat yang sedang sibuk dengan minumannya.    Renata menatap Vina dengan tatapan heran. Wanita itu selalu melampiaskan kekesalannya dengan cara minum sampai hang over. “Vin, sudah ih. Mati kamu ntar,” kekehnya.    “Gue benci banget, Gue tahu Gue kotor. Tapi, pas kata-kata itu keluar dari mulut orang yang Gue cinta. Sakit, sesakit itu. Sial!” teriak Vina.    “Nggak waras Lo, Vin. Udahan dong, tar mati cepet. Utangmu masih banyak dodol!” ucap Renata.    Renata memeluk tubuh Vina, sesungguhnya ia juga sedih melihat nasib sahabatnya. Namun ia juga tak bisa berbuat apa pun. Nasib Renata dan juga Vina sama buruknya, Vina harus membayar hutang yang kedua orang tuanya tinggalkan saat meninggal karena kecelakaan.    Ting! [Jayden dateng, dia maksa ketemu kamu. Jangan nyalahin Mami, nama kamu ada di daftar depan seperti biasa.]    Renata melepaskan pelukannya pada Vina, merebahkan tubuh wanita itu di sofa. Ia bergegas ke depan untuk menemui Jayden, ia tidak bisa menyalahkan siapa pun. Nama-nama wanita yang bisa dipesan selalu tercantum di tempat depan, agar bisa dipilih sesuai ketersediaan.    “Ren, kamu tidak ada hubungi saya terlebih dahulu. Andai saya tidak kemari, pasti kamu pergi dengan orang lain. Harus berapa kali saya bilang, hubungi saya saja. Apa sesulit itu?” tanya Jayden begitu melihat Renata datang ke arahnya.    “Jay, please. Bisa nggak sih, jangan dateng kemari lagi? Aku nggak bisa kayak gini,” lirih Renata putus asa.    Jayden tentu tidak akan peduli, ia benar-benar mencintai Renata. Apa pun akan dia lakukan utnuk wanita itu. Istrinya di rumah? Ia tidak peduli sama sekali.    Jay mendekati Renata, memeluk wanita itu dengan mesra. Merapikan anak rambut sang wanita yang tampak berantakan. “Jangan menghindari saya terus. Saya tidak akan segan untuk mendatangi rumah kamu lagi.”    Renata pasrah, ia memilih untuk diam dan mengikuti langkah kaki Jayden yang membawanya menuju ke arah mobil mewah yang terparkir di luar sana.    “Kali ini, adikmu butuh apa?” tanya Jay pelan, pria itu membantu Renata memasang sabuk pengamannya.    “Laptopnya rusak, udah nggak bisa diservice lagi. Aku harus beli baru buat dia,” jawab Renata, ia memilih untuk menjawab jujur karena akan percuma jika ia memilih berbohong saat ini.    “Saya belikan ya? Kamu, mau beli di mana?” tanya Jay sembari mengemudikan mobil mewahnya.    Renata menggeleng, “Aku nggak paham. Tapi, biasanya harga berapa?” tanyanya.    Jayden mengusap punggung tangan Renata, “Macam-macam Sayang, ada yang standar sekitar 14 juta. Kamu mau yang seperti apa?”    Renata tampak berpikir sebentar, bukan berpikir untuk menentukan pilihan. Hanya saja, kenapa harga laptop yang Jay tawarkan harganya mahal sekali, padahal dulu ia membelikan Cecylia hanya seharga 5 juta saja.    “Jay, apa nggak ada yang lebih murah lagi?” tanya Renata penasaran.    “Sayang, ini untuk adik kamu. Saya yang akan membelikannya, jangan memikirkan hal itu lagi. Kamu hanya perlu terima beres, biar saya yang menyelesaikan semua masalahmu.”    Renata mengangguk lemah, percuma juga ia menolak. Jay sangat keras kepala, belum lagi ia juga sedang membutuhkannya. “Jangan yang mahal-mahal ya, nanti lama aku bayarnya.”    Jayden melirik Renata sebentar, “Kamu hanya perlu hidup dengan baik dan jangan menghindari saya. Terima semua yang saya berikan juga terima perhatian saya. Cukup, masalah selesai.”    Renata hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Ia tentu tidak menampik seberapa besar jasa Jayden untuk dia dan juga adik-adiknya. Segala kesusahannya hampir semua Jayden yang membereskannya. Untuk urusan istri pria itu, akan Renata pikirkan nanti.    ***    Renata turun dari mobil Jay, bersamaan dengan motor besar Lucas yang baru saja sampai di depan rumah wanita itu.    “Lah, Om Jay. Ngapain?" Tanya Lucas curiga.    Jayden gelagapan, pria itu menatap ke arah Renata untuk meminta pertolongan.    “Kepo banget sih Lo. Gue nggak sengaja ketemu dia di konter, jadi sekalian dianterin pulang. Lo apa ke sini?” tanya Renata mencoba mengalihkan perhatian Lucas pada Jayden.    Lucas tersenyum lebar, “Nemuin kamu. Ini, Kakak bawain martabak manis.”    Renata melirik sebentar ke arah Jayden yang terlihat akan keluar dari mobilnya. “Oke, ayo masuk. Ah, Tuan Jay terima kasih sudah mengantarkan saya.”    Wanita itu memberikan kode agar Jayden segera pergi dari rumahnya. Bukannya ia tidak memiliki rasa terima kasih, hanya saja ia takut Lucas tahu dan akan menimbulkan masalah di kemudian hari.”    Renata menarik pergelangan tangan Lucas agar pria itu masuk ke dalam rumahnya. Ya, ia terpaksa melakukan hal itu.    “Gitu dong, kan makin cantik kalo lemah lembut gini,” ucap Lucas sembari melepaskan genggaman tangan Renata.    “Hehe, nggak enak diliat tetangga. Orang tua kamu ke mana, kok Kakak nggak pernah liat?” tanya Lucas penasaran. Pasalnya, pria itu belum pernah melihat wujud kedua orang tua Renata.    Renata mengerjapkan matanya perlahan, “Kepo Lo, makasih martabaknya.”    “Sama-sama Cantik. By the way, manggilnya aku kamu dong. Biar enak,” pinta Lucas penuh harap.    Renata berdecih, “Mimpi saja Lo. Sudah pergi sana!” usir wanita itu.    “Nggak, nggak mau. Masak habis manis sepah dibuang, martabak diambil orangnya diusir,” protes Lucas.    Renata memicingkan mata tajam, “Bawa lagi, kalo nggak ikhlas!” ucapnya sembari menyodrokan kotak martabak di tangannya.    “Hehe, sensitif banget sih kayak tespek. Ya sudah, Kakak pulang dulu. Besok ke sini lagi, jangan kangen!” seru Lucas.    Renata mentap kotak martabak di tangannya. Senyum tipis terpatri di bibirnya, “Dasar konyol!”    Wanita itu masuk ke dalam kamar Sergio, memberikan makanan yang Lucas bawa untuknya. “Bocil, Kakak punya martabak ini.”    Sergio langsung berlari meghampiri sang kakak, “Wah, makasih Kak.”    “Itu, dari om Lucas. Kamu abisin saja, Kakak mau ke kamar kak Cecyl dulu ya.”    Renata berjalan pelan ke arah kamar Cecylia, ia ingin memberikan kejutan untuk sang adik. Namun, baru sampai di depan pintu kamarnya ia mendengar suara tangisan adiknya.    Wanita itu urung masuk, membawa laptop yang Jayden belikan. Ia akan memberikannya besok saja, mungkina diknya sedang ada masalah di kampus. Begitu pikir Renata kira-kira. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN