“Cecyl, kuliah nggak?” ucap Renata sembari menggoyangkan bahu sangat adik pelan.
“Kakak, beliin sesuatu nih buat kamu.” Renata meletakkan laptop di meja nakas, meninggalkannya di sana.
Wanita itu keluar, tidak ingin mengganggu tidur Cecylia. Mungkin saja, hari ini adiknya itu tidak ada kelas.
Setelah kepergian sang kakak, Cecylia membuka matanya. Gadis itu melihat, apa yang Renata tinggalkan di meja nakasnya.
Mata gadis itu berkaca-kaca, “Kak, maaf. Maafin Cecyl.”
Cecylia meletakkan kembali laptop yang Renata berikan. Gadis itu berlari menghampiri kakaknya yang berada di dapur sedang sibuk dengan masakannya.
Cecylia menerjang tubuh mungil sang kakak. “Kak, makasih banget. Tapi, Kakak dapet duit dari mana bisa beliin Cecyl laptop semahal itu?” tanyanya.
Renata kebingungan, ia sama sejkali belum menyiapkan alasan yang akan ia pakai saat sang adik menanyainya. “Mm, itu anu, mm teman Kakak bayar utang. Iya, itu utangnya udah lama banget sebenernya.
Cecylia mengangguk, sepertinya percaya saja dengan bualan Renata. “Kak, makasih sekali lagi ya. Cecyl sayang Kakak. Tapi, Kakak tahu dari mana kalo aku butuh ini?”
“Lucas, Kakak tanya dia.
“Wah, tanda-tanda cinta Lucas terbalaskan nih!” seru Cecylia mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa sedikit aneh.
Renata mencubit perut adiknya, “Sembarangan, masak Kakak pacaran ma brondong. Kakak maunya sama anak presiden.”
Cecylia tertawa, menekan perutnya yang terasa kram. “Ngimpi saja, Kak. By the way, Lucas itu aslinya baik. Cuma ya itu, sedikit nggak warasa saja.”
“Kamu itu, cowok nggak waras dikasih ke Kakaknya. Pantas kamu kayak gitu?” protes Renata.
Cecylia terkekeh sebentar, sebelum mengusap bahu sang kakak dengan tulus. “Kali ini aku serius, Lucas baik Kak. Dia nggak seperti yang Kakak pikirkan, dia juga sopan sebenernya. Tapi, jujur saja aku juga nggak ngerti, sama Kakak dia kok jadi kurang ajar hehe.”
Renata memicingkan mata curiga, “ Jangan-jangan, kamu yang suka sama dia? Ngaku nggak?”
Cecylia tersedak ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan, lebih tepatnya pernyataan dari sang kakak. “Nggak ya, mana ada! Mana mungkin aku suka ma cowok kayak gitu!”
Gadis itu berlari menjauh dari dapur, ia takut Renata melihat perubahan raut wajahnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran kakaknya.
***
“Cantik, mau ke mana malem-malem kayak gini?” tanya Lucas yang baru saja memarkirkan motornya di kediaman Renata.
“Bukan urusan Lo, minggir!” ketus Renata.
Lucas semakin menghalangi jalan keluar agar Renata tidak bisa melewatinya. “Ayo, Kakak anterin. Mau ke mana sih?”
Renata mendengus sebal, “Minggir, Gue mau kerja.”
“Malem-malem gini? Kerja di mana sih?” tanya Lucas penasaran.
Renata mendorong tubuh besar Lucas, “Minggir, ganggu saja!”
Wanita itu berjalan dengan tergesa, hingga di seberang jalan ada seseorang yang membawanya pergi. Sepertinya memang sudah menunggu wanita itu sedari tadi.
Lucas mengendikkan bahu acuh, ia tidak berhak ikut campur mengenai kehidupan Renata. Dia bukan siapa-siapa untuk saat ini, Renata belum mengizinkan dirinya masuk ke dalam hidup wanita itu.
Di tempat lain, Renata tergopoh saat memasuki bar tempat ia bekerja. Dengan nafas terburu, wanita itu langsung masuk ke arah tempat yang ditunjukkan oleh beberapa pekerja yang ada di sana.
Tubuhnya melemas, kaki seakan tidak lagi menapaki dinginnya lantai tempat kotor itu. Tepat di hadapannya, Vina tergeletak dengan luka di wajahnya. Darah, memar bekas tonjokan menghiasi wajah ayunya.
“Vin, kenapa bisa kayak gini. Sakit ya.” pertanyaan yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban dilontarkan oleh Renata.
“Siapa Vin?” tanya Renata kembali.
Air mata Vina mengalir deras, “Bayu. Dia tiba-tiba dateng. Saat itu Gue lagi sama klien.”
Ranata ikut menangis, ia tahu betul kehidupan Vina. Sahabatnya itu harus membayar hutang yang sangat banyak. Dia memiliki kekasih, namun tidak bisa membantunya sama sekali.
Pria itu sering sekali memukuli Vina, namun kali ini yang terparah. Beberapa kali Renata memberikan saran untuk meninggalkan sang pria, namun dengan alasan cinta, Vina menolak usulannnya.
“Vin, tinggalin dia. Lo bisa mati konyol, Lo mau mati konyol?” geram Renata.
Vina menggeleng pelan sembari memegangi mulutnya yang berdarah. “Sakit Ren, sakit banget.”
Renata memberikan pelukan pada sang sahabat, berharap bisa sedikit menenangkan hati Vina yang sedang menjerit kecewa dan kesakitan.
“Ada Gue Vin, Gue di sini. Maaf, baru bisa dateng. Sergio susah di tinggal,” lirih Renata.
***
“Maaf Nyonya, ada yang bernama Renata?” tanya seorang pemuda berperawakan tinggi kepada salah satu pegawai bar.
Pelayan itu tampak berpikir sebentar, “Renata? Mungkin maksud Lo, Rena?”
Pemuda itu mengangguk, “Ini fotonya.”
Pe;ayan itu mengangguk pelan, “Iya, dia Rena. Coba liat papan nama di sebelah kiri. Kalo nama dia ada, berarti dia bisa di bawa. Kalo namanya nggak ada, berarti lagi libur nggak nerima klien. Tapi, Gue saranin jangan bawa dia. Kalo Tuan Jay tahu, Lo bisa kena masalah.”
“Nerima tamu? Dia tadi dateng kemari, berarti nggak libur kan?” tanya Lucas penasaran, pria itu bertekat untuk membuntuti Renata karena hatinya merasa tidak tenang.
“Jangan sok polos Lo. Terima tamu, anu. Ngerti kan?” ucap sang pelayan sembari menaik turunkan kedua alisnya.
Tubuh Lucas menegang saat mendengar penjelasan pelayan yang sudah pergi meninggalkan dirinya begitu saja, dengan semua rasa bingung yang bercokol di hatinya.
Lucas mencoba masuk lebih dalam, papan nama yang semula tidak ada nama Renata, kini terlihat seseorang memasang namanya lalu menurunkan nama Vina dari sana.
“Tante, Renata--”
Belum selesai Lucas berbicara, wanita berumur yang sedang duduk santai menyahutinya. “Dia sudah dipesan. Rena gantiin temennya yang sakit. Mau yang lain?” tawarnya.
Lucas menggeleng patah-patah, berarti benar adanya jika Renata bekerja menjadi wanita malam di tempat terkutuk itu. Belum sempat Lucas membuka mulutnya kembali, seseorang masuk dengan tergesa.
“Renata!” ucapnya angkuh.
Wanita setengah tua menyahutinya. “Maaf Tuan, tapi dia harus pergi bersama orang lain saat ini. Temannya sakit, dia menggantikan--”
“Renata, atau saya hancurkan tempat ini sekarang juga!” titah Jayden mutlak.
“Duduk dulu Tuan,” pinta sang pemilik bar sebelum berlari masuk ke dalam ruangan.
Lucas sedari tadi menyembunyikan wajahnya, agar Jayden tidak menyadari kehadirannya. “Apa hubungan om Jay sama Renata?”