Kenapa Aku Tidak Pantas?

846 Kata
Aku membisu seribu bahasa. Jantungku berdetak kencang seperti kuda yang sedang dipacu. Dengan cekatan aku menyembunyikan tanganku dibalik bokongku. "Apa yang kamu sembunyikan. Berikan padaku" "Bukan apa-apa" kata Luna gemetar. Clara berusaha memaksa merebut benda yang ada ditanganku. Iapun membuka amplop pink dengan motif bunga setelah berhasil merebutnya dariku. "Jadi surat ini untuk Arya. Berani sekali kamu. Lihat saja, aku akan memberi kamu pelajaran. Aku akan memberitahu semua orang" Clara berjalan cepat ketengah lapangan. "Semuanya jangan pulang dulu. Kumpul disini" intruksi Clara. Tak berapa lama murid-murid sudah ramai berdiri disekitar lapangan sekolah termasuk Arya. Aku sudah meminta maaf dan memohon kepada Clara agar tidak memberitahu semua orang bahwa akulah yang selama ini sudah mengirim surat secara diam-diam pada Arya. "Kalian lihat ini. Ini surat cinta. Aku akan membacanya" ucap Clara antusias. Dia sudah tidak sabar mempermalukan Luna didepan khalayak ramai. Kamu begitu indah. Semua yang ada pada diriku terlihat sangat pas. Aku menyukaimu ketika tersenyum. Aku menyukaimu saat sedang bermain basket. Aku menyukai matamu yang mengecil ketika tertawa. Entah sejak kapan aku menyukaimu. Entah sampai kapan aku menyukaimu, mungkin selamanya. Aku harap kali ini kamu mau membalas suratku. "Untuk Arya" ucap Clara diakhir kalimat. Huuuu Huuuuuuuuu Suara sorakan saling bersahut. Aku melihat Arya yang berdiri tidak jauh dariku. Wajahnya terlihat datar. Sulit menebak apa yang dipikirkannya. Aku sangat malu dan tidak berani menegakkan kepalaku. "Sini kamu" Clara menarik paksa lengan Luna lalu mendorongnya hingga tersungkur. "Berani sekali kamu mengirim surat pada Arya. Kamu tahukan Arya pacarku"sambungnya dengan kilatan mata tajam. Teman-teman Clara pun mendekat. "Dasar cewek jelek tidak tahu diri" kata Weni sambil menarik kuat rambut panjang Luna. Awwww Luna meringis kesakitan. "Sakit" ucap Luna menahan tangan Weni agar berhenti menarik rambut hitam lebatnya. Teman Clara yang satu lagi datang dengan membawak ember merah. Selang berapa menit, tubuh Luna sudah basah diguyuri air. Bibirku mengigil karna air yang disiram padaku itu air es. Sekujur tubuhku semakin gemetar saat Arya berjalan perlahan ke arahku. Arya mengambil surat dari tangan Clara lalu mengoyaknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Seperti salju, serpihan itu menghujamiku. Layak kapas, sobekan kertas itu satu persatu hilang dibawak angin. Aku merasa sangat malu dan sakit hati. Bukan hanya fisikku yang sakit tapi bathinku juga. Kejam sekali Arya mengoyak surat dariku. Aku hanya tertunduk layaknya b***k yang sedang dihukum. Mataku terasa panas dan gigiku terus mengigit bibir bawahku. Tetap saja aku menangis walaupun sudah menahannya. Arya merendahkan badannya mensejajarkan dengan dudukku. "Cewek jelek seperti kamu tidak pantas mengirim surat cinta padaku. Bahkan untuk menyukaiku saja kamu tidak pantas. Jangan pernah lakukan ini lagi jika tidak aku pastikan kamu tidak ada di sekolah ini lagi" kata Arya menekankan setiap ucapannya dengan nada dingin dan tegas. Ancaman Arya membuat bulu romaku bergidik. Arya bukanlah orang yang asal bicara. Dia bisa melakukan apapun apalagi hanya sekedar mengeluarkanku dari sekolah. Arya sangat bisa untuk itu karna dia anak tunggal pemilik sekolah. Karna itu semua orang takut dan patuh atas apa yang dia perintahkan. Bahkan guru-guru dan kepala sekolah tidak berkutik bila sudah berhadapan dengannya. "Pulang sekolah kok mukanya ditekuk gitu. Kamu kena masalah lagi disekolah" kata bi Nora. Luna terlihat heran. "Bibi kok disini bukannya dirumah sebelah. Memangnya bibi gak ada pasien?" tanya Luna. "Huss kamu kalau bicara suka ngasal. Memangnya mereka orang sakit dibilang pasien" sambar bi Nora. "Sudahlah bibi tahu, kamu pasti dibully lagikan sama teman-teman kamu" sambungnya. Luna melongoh. "Bibi kok tahu?" "Tahulah. Rambut kamu basah gitu, rok kamu juga" "Bisa saja hujankan bi" sanggah Luna membantahkan dugaan bibinya. "Bibi bukan anak kecil. Lagian mana ada hujan, mataharinya aja terik gitu. Sudah buruan ganti baju, keringkan rambutnya ntar kamu sakit" Terlepas dari profesi bibiku yang tidak wajar tapi dialah orang yang paling perhatian dan menyayangiku dengan tulus. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak ada bibi. Aku sudah sering menasehati bibi agar berhenti dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain saja namun bibi selalu bilang, dia tidak mau bekerja dengan orang lain. Katanya dia tidak mau sakit hati. "Bi, apa wajahku sangat jelek?" tanya Luna halus. Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang kelam. Langit tampak indah dengan cahaya bintang yang kemerlip tapi itu tidak berhasil membuat Luna tersenyum. Biasanya perpaduan gelapnya langit dan bintang selalu bisa membuat Luna menjadi orang yang optimis juga berpikiran positif. "Apa yang bilang kamu jelek itu cowok yang kamu sukai?" tanya balik bi Nora . Cewek jelek seperti kamu tidak pantas menyukaiku. "Sekarang aku membencinya bi" Luna kesal karna perkataan menyakitkan Arya terus terniang ditelinganya. "Benci itu hanya dimulut saja tapi kenyataannya kamu sangat menyukainya" Luna memainkan jarinya. Ia menunduk . Airmatanya menetes begitu saja. Ia tidak menyangka Arya pria yang disukainya sangat tega memperlakukannya seperti sampah. Perasaannya sama sekali tidak ada artinya bagi Arya. "Aku ingin melupakannya bi. Bibi bisakan buat aku melupakannya" kata Luna seperti sedang memohon. Nora membuang nafas berat. Ia tidak tega melihat keponakan kesayangannya ini yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri harus sakit hati karna seorang pria. Haaaah Dengus bi Nora. "Bibi akan memberi kamu dua pilihan. Kamu ingin melupakannya atau kamu ingin dia menyukaimu?" Apa aku harus menempuh jalan pintas itu? Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN